Tinjau Gudang Bulog Cimahi, Ahmad Rizal: Swasembada Pangan Itu Nyata
- Admin03

- 24 Mei
- 2 menit membaca
Bandung (PRSSNIJabar) - Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog), Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani memastikan stok beras nasional dalam kondisi aman dan melimpah. Kepastian itu disampaikan saat meninjau Gudang Bulog Utama Cimahi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (23/5/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Bulog turut mengajak sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung, di antaranya UPI dan Universitas Muhammadiyah, untuk melihat langsung kondisi ketersediaan pangan nasional sekaligus berdiskusi soal swasembada pangan.
āAdik-adik mahasiswa harus tahu bahwa swasembada pangan itu nyata. Hari ini stok beras yang dikelola Bulog mencapai 5,37 juta ton atau hampir 5,38 juta ton. Ini tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka,ā kata Ahmad Rizal Ramdhani.
Menurutnya, melimpahnya stok beras menjadi jaminan kuat ketahanan pangan nasional di tengah dinamika global dan ancaman perubahan iklim. Bahkan, Bulog memproyeksikan cadangan beras saat ini mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga pertengahan 2027.
Tak hanya soal kuantitas, Bulog juga memastikan kualitas beras tetap terjaga. Para mahasiswa yang hadir diperlihatkan langsung sistem quality control di gudang penyimpanan. Mereka menilai kualitas beras hingga kekuatan kemasan yang digunakan sudah sangat baik.
Terkait impor beras, Ahmad Rizal menegaskan pemerintah telah menghentikan kebijakan impor sejak awal 2025.
āSejak Januari 2025 Bulog sudah tidak impor beras lagi. Padahal tahun 2023 dan 2024 impor sempat mencapai 7 juta ton. Ini membuktikan program swasembada berjalan optimal,ā tegasnya.
Dalam upaya menjaga kesejahteraan petani, Bulog juga menjalankan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2026 dengan menyerap gabah petani seharga Rp6.500 per kilogram untuk Gabah Kering Panen (GKP).
Menariknya, Bulog Jawa Barat turut merangkul para tengkulak agar tidak merugikan petani. Mereka dilibatkan sebagai transporter atau pengangkut gabah dari sawah menuju penggilingan mitra Bulog.
āPara tengkulak diberdayakan menjadi mitra pengangkut. Mereka mendapat insentif Rp200 per kilogram. Jadi ekosistem tetap berjalan dan petani tidak dirugikan,ā ujarnya.
Untuk menjaga kualitas stok dalam jumlah besar, Bulog kini menggandeng BRIN menerapkan teknologi penyimpanan modern. Dengan teknologi tersebut, kualitas beras diklaim dapat bertahan lebih dari dua tahun, bahkan hingga tiga tahun melalui pengembangan teknologi penyinaran sinar gama.
Di akhir kunjungan, Bulog juga mengajak mahasiswa mulai belajar berwirausaha melalui program Rumah Pangan Kita (RPK). Mahasiswa didorong menjadi mitra pemasaran produk pangan Bulog seperti beras, minyak goreng, gula dan tepung di lingkungan kampus maupun tempat tinggalnya.
āHarapannya lahir entrepreneur muda yang bukan hanya mencari kerja, tapi juga mampu membuka lapangan pekerjaan,ā pungkasnya. (AMJ)



Komentar