top of page

Tanah Bergerak di Banjarwangi, Empat Rumah Terancam Longsor Susulan

  • Gambar penulis: Admin03
    Admin03
  • 4 hari yang lalu
  • 2 menit membaca

Garut (PRSSNIJabar) - Warga terdampak bencana tanah bergerak dan longsor di Kampung Genteng, Desa Tanjungjaya, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, masih bertahan di pengungsian hingga Rabu (19/8/2026).


Warga yang rumahnya ambruk maupun penghuni rumah yang berada di sekitar lokasi rawan longsor memilih mengungsi ke tempat yang lebih aman, termasuk rumah kerabat terdekat.


Sementara itu, petugas gabungan dari TNI-Polri, BPBD dan Muspika Kecamatan Banjarwangi masih bersiaga di lokasi. Petugas melakukan pemantauan sekaligus membantu mengevakuasi material bangunan yang ambruk untuk mengantisipasi ancaman terhadap rumah warga di sekitarnya.


Berdasarkan hasil asesmen BPBD Kabupaten Garut, sedikitnya empat rumah yang berada di bawah tebing kini terancam material longsoran susulan.


Keempat rumah tersebut masing-masing milik Aris, Amun, Supriatna dan Suryana.


Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Garut, Aah Anwar Saefulloh, mengatakan, pergerakan tanah dipicu kondisi struktur tanah lereng yang labil sehingga tidak mampu menahan beban bangunan di atasnya.


ā€œLongsor terjadi akibat kondisi struktur tanah yang labil dan tidak mampu menahan beban bangunan di atasnya. Material longsoran dan sisa bangunan mengancam empat unit rumah warga yang berada tepat di bawahnya,ā€ ujar Aah.


Ia mengimbau warga, khususnya yang tinggal di bawah tebing, agar meningkatkan kewaspadaan. Terlebih ketika hujan deras mengguyur wilayah tersebut.


ā€œKami minta warga tetap waspada, terutama saat turun hujan lebat,ā€ katanya.


Hal senada disampaikan Plt Kepala Seksi Trantib Kecamatan Banjarwangi, Hikmat. Menurutnya, penanganan bencana saat ini difokuskan pada keselamatan warga melalui pendataan serta pengawasan secara intensif di sekitar lokasi.


Rumah Ambruk Saat Ditinggal Rayakan Agustusan


Peristiwa tanah bergerak tersebut terjadi pada Senin (17/8/2026) sekitar pukul 15.00 WIB.


Rumah permanen milik Yana yang dihuni enam orang tiba-tiba ambruk setelah tiang penyangga utama bangunan patah akibat pergeseran tanah.


Rumah tersebut berada tepat di tepi jalan raya, dengan bagian belakang berupa jurang sedalam sekitar 20 meter. Kondisi itu membuat bangunan roboh dan nyaris tidak tersisa.


Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun luka dalam kejadian tersebut.


Enam anggota keluarga yang menghuni rumah selamat karena saat kejadian sedang berada di luar rumah untuk menghadiri kegiatan perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI yang digelar di wilayah desa.


Salah seorang penghuni rumah, M Dika Purnama, mengatakan, tanda-tanda pergerakan tanah sebenarnya sudah mulai terlihat sebelumnya.


Menurut dia, kondisi tanah di sekitar rumah semakin retak dan labil hingga akhirnya tidak mampu lagi menahan beban bangunan.


ā€œAwalnya gempa Pangandaran dulu, kemudian ada pergerakan tanah sehingga membuat rumah ambruk. Kejadiannya saat 17 Agustus pukul 15.00 WIB, pas keluarga sedang merayakan kegiatan Agustusan, jadi rumah dalam keadaan kosong,ā€ ujar Dika.


Hingga Rabu (19/8/2026), petugas gabungan masih melakukan pemantauan di lokasi. Warga terdampak juga diminta tidak kembali ke rumah sebelum kondisi dinyatakan aman guna menghindari kemungkinan terjadinya longsor susulan. (AST)

Komentar


© 2025 by PRSSNI Daerah Jawa Barat
prssnijabar@gmail.com |  Tel: 022-2038362

bottom of page