top of page

SBM ITB Industrial Summit 2026, KAI Ungkap Empat Sumber Bisnis Hingga 2045

  • Gambar penulis: Admin02
    Admin02
  • 4 hari yang lalu
  • 2 menit membaca


Jakarta (PRSSNIJabar) - PT Kereta Api Indonesia (Persero) melihat pertumbuhan bisnis ke depan tidak bisa lagi hanya mengandalkan penjualan tiket. Dengan jumlah pelanggan yang telah menembus 503,5 juta orang dalam setahun, KAI mulai memperluas sumber pendapatan dari aset, keahlian, operasional, dan teknologi.


Strategi tersebut dipaparkan Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin dalam SBM ITB Industrial Summit 2026 di Hotel AYANA Midplaza Jakarta, Rabu (19/8/2026).


Dalam forum yang mempertemukan pelaku industri, regulator, investor, dan akademisi tersebut, Bobby menjadi pembicara pada sesi Parallel Session – Transportation Sector dengan materi ā€œGrowth Beyond the Limits: Transforming Railways for Indonesia’s Economic Futureā€.


Bobby mengatakan, besarnya skala KAI saat ini justru membuka peluang untuk mengembangkan bisnis yang lebih luas. Sepanjang 2025, KAI Group mencatat 503,5 juta pelanggan, naik 8,52 persen dibandingkan 464 juta pelanggan pada 2024.


Dengan sekitar 2,8 juta interaksi pelanggan setiap hari, KAI memiliki basis konsumen sekaligus ekosistem bisnis yang besar untuk dikembangkan.


ā€œSkala KAI sudah sangat besar. Tantangan sekaligus peluang berikutnya adalah meningkatkan kontribusi aset, teknologi, keahlian, dan basis pelanggan sebagai sumber pertumbuhan baru yang memberi nilai lebih besar bagi perusahaan dan perekonomian,ā€ ujar Bobby.


Saat ini, sekitar 94 persen pendapatan KAI masih berasal dari bisnis transportasi. Sebaliknya, kontribusi bisnis non-farebox baru berada di kisaran 6 persen.


Komposisi itu menjadi salah satu fokus transformasi KAI. Perusahaan menyiapkan empat mesin pertumbuhan yang bersumber dari aset operasional, aset berwujud, kapabilitas, dan teknologi.


Potensi tersebut ditopang aset lahan perkeretaapian yang mencapai sekitar 327,8 juta meter persegi. KAI melihat aset itu tidak hanya sebagai bagian dari operasional kereta api, tetapi juga sebagai sumber nilai ekonomi baru.


Pengembangan kawasan dan properti, termasuk Transit-Oriented Development (TOD), menjadi salah satu opsi. Selain itu, KAI membuka ruang pertumbuhan melalui bisnis digital, maintenance, repair and overhaul (MRO), manufaktur, hingga pengembangan kompetensi perkeretaapian.


ā€œPertumbuhan ke depan harus lebih produktif. KAI perlu semakin kuat dalam operasi, semakin optimal dalam mengelola aset, dan semakin cepat memanfaatkan teknologi,ā€ kata Bobby.


Transformasi bisnis tersebut sekaligus diarahkan untuk memperbesar kontribusi kereta api terhadap perekonomian nasional. KAI ingin meningkatkan peran moda rel dalam pergerakan penumpang maupun logistik agar biaya transportasi menjadi semakin efisien.


Pemanfaatan teknologi juga menjadi bagian penting dari strategi tersebut. KAI mulai mendorong penggunaan artificial intelligence (AI) dan teknologi digital untuk meningkatkan produktivitas operasi serta memaksimalkan kapasitas jaringan yang telah tersedia.


Targetnya cukup ambisius. Pada 2045, KAI memproyeksikan jumlah pelanggan mencapai sekitar 1,4 miliar orang per tahun. Sementara kontribusi pendapatan non-farebox ditargetkan meningkat menjadi 20–25 persen.


Bobby menilai pencapaian target tersebut membutuhkan perubahan cara pandang dalam mengembangkan bisnis.


ā€œKita perlu bergerak dari menunggu permintaan menjadi menciptakan peluang. Industri yang maju membangun kesempatan, lalu pertumbuhan mengikuti,ā€ ujarnya.


Menurut dia, transformasi KAI juga tidak dapat berjalan sendiri. Kolaborasi dengan pemerintah, dunia pendidikan, pelaku industri, investor, hingga masyarakat dibutuhkan untuk membangun ekosistem perkeretaapian yang lebih kuat.


Pada akhirnya, visi KAI bukan sekadar menjadi perusahaan dengan jumlah pelanggan besar. KAI ingin menjadikan jaringan, aset, teknologi, dan sumber daya manusianya sebagai kekuatan untuk memperkuat konektivitas sekaligus daya saing ekonomi Indonesia.


ā€œMenuju 2045, KAI menargetkan posisi sebagai world-class railway operator. Untuk mencapainya, kami harus memperkuat produktivitas, memperluas sumber pertumbuhan, dan memastikan perkeretaapian memberi kontribusi yang semakin besar terhadap konektivitas serta daya saing Indonesia,ā€ pungkasnya. (IGN)

Komentar


© 2025 by PRSSNI Daerah Jawa Barat
prssnijabar@gmail.com |  Tel: 022-2038362

bottom of page