Rumah Ambruk Akibat Pergerakan Tanah, Enam Warga Banjarwangi Masih Mengungsi
- Admin03

- 3 hari yang lalu
- 2 menit membaca

Bandung (PRSSNIJabar) - Enam anggota keluarga di Kampung Genteng RT 02 RW 06, Desa Tanjungjaya, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, hingga Rabu (19/8/2026) masih mengungsi setelah rumah mereka ambruk akibat pergerakan tanah.
Pemerintah Kabupaten Garut melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kini memfokuskan penanganan terhadap warga terdampak, mulai dari penyaluran bantuan logistik hingga koordinasi untuk memastikan kondisi tanah di sekitar lokasi.
Sekretaris BPBD Kabupaten Garut, Abud Abdullah, mengatakan bantuan kebutuhan dasar telah disalurkan kepada warga yang terdampak bencana.
āSebagai langkah tanggap darurat, BPBD telah mendistribusikan bantuan logistik untuk memenuhi kebutuhan dasar para korban. Bantuan yang disalurkan mencakup kebutuhan sandang dan pangan, seperti terpal, matras, paket sembako, hingga perlengkapan sekolah anak,ā ujar Abud Abdullah, Rabu (19/8/2026).
Selain memenuhi kebutuhan para pengungsi, BPBD juga akan berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk melakukan kajian terhadap kondisi tanah di lokasi.
Hal itu dilakukan untuk mengetahui potensi terjadinya pergerakan tanah susulan, mengingat kawasan tersebut berada di sekitar tebing dengan ketinggian mencapai 15 hingga 20 meter.
Kajian tersebut nantinya menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan apakah lokasi tersebut masih aman ditempati atau warga harus direlokasi ke tempat yang lebih aman.
BPBD bersama aparat kewilayahan juga terus melakukan pemantauan di sekitar lokasi untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya pergerakan tanah susulan.
Berdasarkan analisis sementara, robohnya bangunan diduga dipengaruhi kondisi tanah tumpuan di lereng yang tidak lagi mampu menahan beban bangunan permanen yang berada di bibir tebing.
Lolos dari Maut Saat Rumah Ambruk
Peristiwa rumah ambruk tersebut terjadi Senin (17/8/2026) sekitar pukul 17.00 WIB.
Rumah permanen milik Yana itu dihuni enam orang anggota keluarga. Bangunan berada tepat di pinggir jalan raya, sedangkan bagian belakang rumah berbatasan dengan jurang sedalam sekitar 20 meter.
Saat tiang penyangga utama patah, rumah tersebut langsung ambruk.
Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam kejadian tersebut. Enam anggota keluarga Yana saat itu sedang berada di luar rumah untuk mengikuti kegiatan perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di tingkat desa.
Salah seorang penghuni rumah, M Dika Purnama, mengatakan tanda-tanda pergerakan tanah sebenarnya sudah mulai dirasakan sebelumnya.
Menurut Dika, kondisi tanah semakin labil setelah adanya guncangan gempa Pangandaran beberapa waktu lalu.
āAwalnya gempa Pangandaran dulu, kemudian ada pergerakan tanah sehingga membuat rumah ambruk. Kejadiannya saat 17 Agustus, pas keluarga sedang merayakan kegiatan Agustusan, jadi rumah dalam keadaan kosong,ā ungkap Dika.
Kini, keenam anggota keluarga tersebut masih bertahan di rumah kerabat terdekat.
Mereka menunggu hasil kajian teknis dari tim ahli geologi untuk memastikan kondisi tanah dan menentukan langkah selanjutnya terkait tempat tinggal mereka.
BPBD Garut memastikan pemantauan terhadap lokasi bencana terus dilakukan, termasuk menjamin kebutuhan dasar warga terdampak selama masih berada di pengungsian. (GPWK)



Komentar