Remy Sylado, Maestro yang Diabadikan dari Ingatan dan Mata Peneliti Jepang


Bandung (PRSSNIJabar) - Nuansa retro era 1970-an terasa di Perpustakaan Ajip Rosidi, Kota Bandung, Minggu (6/9/2026) siang. Di tempat itu, para seniman, akademisi, dan tokoh masyarakat berkumpul bukan sekadar untuk bersilaturahmi, tetapi juga membuka kembali ingatan tentang sosok Remy Sylado.
Ingatan itu dirangkum dalam buku biografi Remy Sylado dan Dua Brouwer karya Ai Takeshita, peneliti sekaligus akademisi asal Jepang dan dosen Tokyo University of Foreign Studies (TUFS).
Buku setebal 67 halaman tersebut menelusuri perjalanan kreatif mendiang Yapi Panda Abdiel Tambayong atau Remy Sylado, khususnya ketika meniti karier teater di Bandung pada era 1970-an. Ai merangkai kembali sisi lain sang maestro melalui wawancara dengan kerabat, sahabat, dan rekan sejawatnya, termasuk perjumpaan Remy dengan dua figur asal Belanda bernama Brouwer.
Di antara mereka yang hadir dalam peluncuran itu adalah Ketua DPRD Jawa Barat, Dr. Buky Wibawa Karya Guna, M.Si. Bagi Buky, Remy bukan sekadar maestro sastra dan teater. Ia adalah guru yang ikut membentuk fondasi jurnalismenya ketika masih muda dan berkecimpung di Majalah Varia Nada dan Vista.
Buky mengenang masa awal kariernya di Jakarta. Saat itu, ia kerap menginap di kediaman Remy dan mendapat sambutan hangat dari istri sang maestro, Emmy Tambayong. Pertemuan kembali dengan Emmy dalam acara tersebut pun menjadi momen emosional baginya.
āMenurut saya, kehadiran buku ini seperti mengajak kita mengingat kembali sosok Remy Sylado. Beliau adalah guru yang membimbing saya bagaimana seharusnya menjadi seorang jurnalis,ā kata Buky.
Dari Remy, Buky mengingat dua pesan yang terus dipegang hingga kini. Pertama, dorongan untuk terus membaca dan belajar: āBuki, Baca!ā Kedua, pesan agar tidak menjadi wartawan pesanan.
āWaktu saya memulai karier sebagai wartawan, kata-katanya selalu, āKamu jangan jadi wartawan kapling.ā Maksudnya wartawan pesanan. Itu yang selalu saya ingat sampai sekarang,ā ujarnya.
Remy, kata Buky, juga mengajarinya secara ketat mengenai penulisan, penyuntingan, hingga pemanfaatan kosakata dari bahasa daerah agar tulisan lebih efisien dan bernyawa.
Buky berharap buku karya Ai Takeshita dapat menjadi pemantik bagi generasi muda dan jurnalis untuk kembali menggali pemikiran serta karya para maestro kebudayaan Indonesia.
Pesan serupa disampaikan dramawan sekaligus moderator dari Dapur Teater 23761, Boy Worang atau Albert Lefran Worang. Menurutnya, kehadiran buku tersebut menjadi semacam sentilan bagi Indonesia.
āOrang asing saja begitu mengagumi dan mau meneliti sosok Remy Sylado. Kita sendiri justru jarang sekali membuat penulisan terhadap maestro, sehingga sejarah mereka hilang begitu saja,ā ujar Boy.
Ai Takeshita mengatakan, buku tersebut disusun untuk menjembatani ingatan lintas generasi. Ia berharap kisah Remy tidak berhenti sebagai kenangan bagi mereka yang pernah mengenalnya, tetapi juga menjadi pintu bagi generasi muda untuk mengenal akar kebudayaan Indonesia.
āSemoga buku ini dibaca oleh mereka yang pernah muda dan tahu tentang Remy Sylado sebagai tempat untuk merindukan beliau. Serta semoga buku ini juga dibaca oleh banyak generasi Z yang belum pernah mendengar namanya,ā pungkasnya. (GPWK)



Komentar