MBG Tak Lagi Dibagikan dalam Ompreng, Siswa Tasikmalaya Dilatih Prasmanan


Tasikmalaya (PRSSNIJabar) - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Tasikmalaya mulai menguji pola penyajian baru. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Leuwisari Ciawang 1 menerapkan sistem prasmanan bagi siswa SMK Darud Dakwah, Senin (5/10/2026).
Berbeda dengan pola sebelumnya, makanan tidak lagi dibagikan dalam wadah atau ompreng yang sudah berisi porsi masing-masing. Para siswa kini mengambil sendiri makanan yang tersedia di meja prasmanan.
Terobosan tersebut disebut sebagai “MBG Rasa Baru”. Selain mengubah pola penyajian, sistem ini sekaligus menjadi sarana edukasi bagi siswa untuk membiasakan hidup bersih, sehat dan disiplin.
Kepala SPPG Leuwisari Ciawang 1, Heru Lesmana, mengatakan penerapan sistem prasmanan masih dalam tahap uji coba. Untuk sementara, metode tersebut diterapkan kepada dua kelas.
Menurut Heru, respons siswa cukup positif. Antusiasme terlihat sejak para siswa mendapat sosialisasi mengenai tata cara pengambilan makanan hingga penggunaan alat pelindung diri (APD).
“Antusiasme penerima manfaat sangat luar biasa. Biasanya mereka terbiasa dengan makanan di dalam ompreng yang sudah tertata, sekarang kita mulai metode baru di mana siswa mengambil sendiri. Sebelum dimulai, kami laksanakan sosialisasi penggunaan APD karena sifatnya memang wajib,” ujar Heru.
Dalam pelaksanaannya, siswa diwajibkan menggunakan APD seperti sarung tangan dan penutup rambut. Ketentuan tersebut diterapkan untuk memastikan kebersihan dan higienitas makanan tetap terjaga.
SPPG Leuwisari Ciawang 1 saat ini melayani sekitar 1.731 penerima manfaat. Namun, penerapan sistem prasmanan belum langsung diberlakukan ke seluruh sekolah sasaran.
Evaluasi masih dilakukan, terutama menyangkut kesiapan relawan, kemampuan siswa beradaptasi serta efektivitas waktu pelayanan agar tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar (KBM).
Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Wilayah Tasikmalaya, Andi Risky Hermawan, mengatakan SPPG Leuwisari Ciawang 1 menjadi salah satu lokasi pilot project dari 299 SPPG yang tersebar di Kabupaten Tasikmalaya.
Menurut Andi, konsep prasmanan tidak semata-mata berkaitan dengan teknis penyajian makanan. Lebih jauh, sistem tersebut diharapkan menjadi media pembelajaran bagi siswa dalam membangun karakter dan membiasakan pola hidup bersih dan sehat.
“MBG prasmanan ini menjadi salah satu bentuk edukasi terhadap para siswa, salah satunya untuk menjaga pola hidup sehat. Untuk ke depannya nanti kita lihat apakah efektif atau lebih bagus diterapkan di setiap dapur sesuai kebijakan BGN,” kata Andi.
BGN masih mencermati pelaksanaan sistem tersebut di lapangan. Salah satu perhatian utama yakni durasi pengambilan makanan agar tidak menimbulkan antrean panjang dan mengganggu waktu belajar siswa.
Hasil uji coba di SMK Darud Dakwah selanjutnya akan menjadi bahan evaluasi BGN untuk menentukan kemungkinan penerapan sistem prasmanan pada program MBG secara lebih luas.
Jika terbukti efektif, pola baru ini bukan sekadar mengubah cara siswa mendapatkan makanan bergizi, tetapi juga menjadikan program MBG sebagai ruang pembelajaran kedisiplinan, kebersihan dan pola hidup sehat sejak di bangku sekolah. (AST)



Komentar