Puluhan Ribu Botol Kecap Produksi UMKM Jabar Sukses Tembus Belanda
- Admin02

- 2 jam yang lalu
- 3 menit membaca

Bekasi (PRSSNIJabar) - Produk usaha kecil dan menengah asal Jawa Barat kembali menunjukkan peluang besar untuk bersaing di pasar global. PT Oishii Food Indonesia resmi melakukan ekspor perdana Kecap Oishii ke Belanda, membawa 26.880 botol produk dalam satu kontainer dengan nilai transaksi mencapai USD51.550 atau sekitar Rp900 juta.
Ekspor yang dilepas di Kabupaten Bekasi, Senin (24/8/2026), menjadi penanda penting perjalanan perusahaan ini dalam meningkatkan skala usahanya. Perusahaan yang sebelumnya bernama CV Ikapeksi Agro Industri itu kini bertransformasi menjadi PT Oishii Food Indonesia sekaligus memperluas jangkauan pasarnya ke Eropa.
Bagi mereka, ekspor bukan sekadar soal mengirim produk ke luar negeri. Capaian tersebut menjadi hasil dari proses panjang membangun kapasitas usaha, memenuhi standar produk, memperkuat branding, hingga menemukan mitra yang tepat di pasar internasional.
Pemilik PT Oishii Food Indonesia, Nurjannah Dongoran, mengatakan keberhasilan menembus pasar Belanda tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak.
"Keberhasilan kami ini bukan hasil kerja kami sendiri, tetapi berkat dukungan dari berbagai lembaga. Kami merasakan betul bagaimana pemerintah hadir melalui capacity building, pembukaan akses pasar, hingga asistensi sertifikasi dan kepabeanan," kata Nurjannah, Senin (24/8/2026).
Menurutnya, proses pendampingan menjadi penting karena pelaku UMKM tidak hanya membutuhkan bantuan saatvhendak memulai usaha. Ketika mulai masuk ke pasar global, kebutuhan terhadap penguatan kapasitas justru semakin besar.
Salah satu momentum penting dalam perjalanan PT Oishii Food Indonesia adalah keikutsertaan dalam program Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2025. Melalui business matching dalam ajang tersebut, perusahaan dipertemukan dengan InterAromat, buyer asal Belanda. Pertemuan itu kemudian berkembang menjadi kerja sama bisnis hingga akhirnya terealisasi dalam ekspor perdana Kecap Oishii hari ini.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Junanto Herdiawan, mengatakan pengalaman PT Oishii Food Indonesia menunjukkan bahwa UMKM membutuhkan proses pembinaan yang berkelanjutan agar mampu masuk dan bertahan di pasar global.
"Keberhasilan ekspor UMKM membutuhkan tahapan yang berkesinambungan, dari penguatan kapasitas, perluasan akses pasar, serta sinergi seluruh pemangku kepentingan untuk mempertemukan produk unggulan dengan pasar yang tepat," ucap Junanto.
Dalam proses mendorong Oishii Food naik kelas, berbagai fasilitasi diberikan, mulai dari Rolling Exhibition Osaka Export, Karya Kreatif Jawa Barat, KKI hingga business matching. Program-program tersebut membuka ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk, membangun jejaring dan bertemu calon buyer.
Artinya, keberhasilan ekspor tidak hanya ditentukan oleh kemampuan pelaku usaha menghasilkan produk. Ada rangkaian proses yang harus dibangun secara bersama-sama, mulai dari kualitas dan standardisasi hingga akses pembiayaan, promosi dan pasar.
Sedangkan Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM RI, Bagus Rachman, yang turut hadir mengatakan, pemerintah akan terus mendorong UMKM agar mampu meningkatkan skala dan daya saing.
"Kementerian UMKM RI memiliki berbagai program untuk mendorong para pelaku UMKM agar terus naik kelas. Ke depan, sinergi dan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia, akan terus diperkuat untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing UMKM," katanya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan menilai ekspor Oishii Food ke Belanda menjadi capaian yang patut diapresiasi sekaligus menjadi contoh bagi UMKM lainnya.
"Terima kasih kepada seluruh pihak, secara khusus kepada Bank Indonesia, yang secara konsisten membina dan mendorong UMKM di Jawa Barat untuk terus berkembang. Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan terus memberikan dukungan agar UMKM semakin besar dan berdaya saing," ujarnya.
PT Oishii Food Indonesia bukan pemain baru dalam perdagangan internasional. Perusahaan yang memulai perjalanan pada 2017 itu mulai mendapatkan peluang ekspor pada 2020. Pada akhir 2022, produk Oishii Food berhasil masuk Arab Saudi. Hingga kini, sebanyak enam kontainer telah dikirim ke negara tersebut.
Ekspor ke Belanda menjadi babak baru bagi perusahaan untuk memperluas pasar. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan kapasitas produksi mampu mengikuti permintaan dan kualitas produk tetap konsisten.
Di akhir, Nurjannah berharap pembinaan terhadap UMKM yang sudah berhasil melakukan ekspor tetap dilanjutkan. Menurutnya, pelaku usaha membutuhkan dukungan untuk meningkatkan kemampuan produksi dan menjaga keberlanjutan bisnis.
"Jangan berpikir ketika sudah ekspor, UKM tidak perlu dibina lagi. Justru kami butuh dukungan lebih besar agar mesin-mesin kami terus bergerak, karyawan kami terus bekerja, dan ekonomi terus berputar," katanya.
Karena itu, ekspor perdana ini diharapkan menjadi awal dari transaksi-transaksi berikutnya, bukan sekadar pencapaian satu kali. Perusahaan juga membuka peluang memperluas pasar ke negara lain dengan meningkatkan kapasitas produksi, menjaga kualitas, memperkuat branding dan membangun kepercayaan buyer.
Bagi Jawa Barat, keberhasilan tersebut memperlihatkan bahwa UMKM memiliki potensi menjadi kekuatan baru ekspor apabila mendapatkan akses dan pendampingan yang tepat.
Produk lokal yang selama ini tumbuh dari pasar domestik kini memiliki kesempatan untuk masuk ke pasar dunia. Oishii Food menjadi salah satu contoh bahwa naik kelas bagi UMKM bukan sekadar perubahan status usaha, tetapi kemampuan mengubah produk lokal menjadi komoditas yang dipercaya konsumen global.
Ekspor perdana ke Belanda pun menjadi langkah penting dalam perjalanan tersebut. Dari Kabupaten Bekasi, Kecap Oishii membawa pesan bahwa produk UMKM Jawa Barat tidak hanya mampu bertahan di pasar sendiri, tetapi juga memiliki peluang untuk bersaing dan tumbuh di panggung internasional. (IGN)



Komentar