Lahan Tadah Hujan di Ciamis Disulap Jadi Sentra Bawang Merah
- Admin02

- 23 Mei
- 2 menit membaca

Ciamis (PRSSNIJabar) - Lahan tadah hujan yang selama ini terbengkalai di Kabupaten Ciamis mulai disulap menjadi kawasan pertanian produktif. Melalui kolaborasi antara Polres Ciamis dan Kelompok Tani Satria Perkasa, hamparan lahan di Desa Wanasigra, Kecamatan Sindangkasih, kini ditanami bawang merah dengan sistem tumpang sari.
Program tersebut diawali dengan penanaman benih bawang merah oleh Kapolres Ciamis AKBP Hidayatullah bersama para petani setempat. Tidak hanya bawang merah, lahan seluas dua hektare itu juga ditanami jahe gajah, cabai rawit, dan jagung untuk memaksimalkan hasil pertanian.
Pemanfaatan lahan tadah hujan ini menjadi salah satu upaya meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mendukung ketahanan pangan di daerah.
Sebelumnya, lahan tersebut dinilai kurang optimal karena hanya mengandalkan curah hujan.
Kapolres Ciamis AKBP Hidayatullah mengatakan, program ini merupakan bentuk sinergi antara kepolisian dan masyarakat dalam mendorong sektor pertanian agar lebih berkembang.
āMelalui kolaborasi ini, kami ingin membantu petani memanfaatkan lahan yang sebelumnya tidak produktif menjadi lahan yang memiliki nilai ekonomi. Harapannya bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung program swasembada pangan,ā ujarnya saat ditemui reporter Jabar Now, Jumat (22/5/2026).
Ia menambahkan, pengembangan pertanian tumpang sari tersebut tidak berhenti di lahan dua hektare. Ke depan, area tanam ditargetkan bertambah hingga mencapai empat hektare.
Menurut Hidayatullah, metode tumpang sari dipilih karena dinilai lebih efektif dan menguntungkan. Dalam satu hamparan lahan, petani dapat memanen beberapa jenis komoditas sekaligus sehingga potensi pendapatan menjadi lebih besar.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Satria Perkasa, Endang Ridwan menyebut dukungan dari Polres Ciamis memberi semangat baru bagi para petani untuk mengelola lahan tadah hujan yang selama ini kurang dimanfaatkan.
āPetani jadi lebih termotivasi. Dengan sistem tumpang sari, hasilnya juga lebih menjanjikan karena satu lahan bisa menghasilkan beberapa komoditas,ā katanya.
Kelompok tani yang beranggotakan sekitar 21 hingga 25 orang itu juga melibatkan warga sekitar dalam pengelolaan lahan. Bahkan, mereka menargetkan dapat memproduksi benih sendiri di Kabupaten Ciamis agar tidak bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menggerakkan perekonomian masyarakat desa sekaligus membuka peluang pertanian yang lebih berkelanjutan di wilayah Ciamis. (AST)



Komentar