top of page

KPID Jabar dan STIKOM Bandung Bedah Peluang Karier Gen Z di Tengah Gempuran Media Sosial dan AI

  • Gambar penulis: Admin03
    Admin03
  • 10 Agu
  • 3 menit membaca

Bandung (PRSSNIJabar) - Gempuran media sosial dan pesatnya perkembangan teknologi digital membuat industri penyiaran terus mengalami perubahan. Kondisi ini menuntut mahasiswa tidak hanya mampu memilah informasi, tetapi juga jeli membaca peluang karier di tengah transformasi industri media.


Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Kuliah Umum bertajuk “5+1 Broadcasting Perspective Digital Era” yang digelar STIKOM Bandung bersama Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat di Bandung Creative Hub (BCH), Kota Bandung, Senin (10/8/2026).


Kuliah umum ini sekaligus menjadi implementasi Implementation Agreement antara STIKOM Bandung dan KPID Jawa Barat yang telah terjalin selama setahun.


Kegiatan tersebut juga dikemas sebagai bagian dari ujian akhir semester berbasis praktik yang menjadi salah satu metode pembelajaran di STIKOM Bandung.


Ketua Pelaksana kegiatan, M. Rizki Alfiansyah mengatakan, kegiatan itu dirancang untuk mempertemukan teori yang diperoleh mahasiswa di bangku kuliah dengan kondisi nyata industri penyiaran.


“Kita menjunjung supaya lebih pandai lagi dalam mengelola berita dan melihat peluang prospek kerja ke depannya di tengah gempuran media sosial,” ujar Rizki.


Menurutnya, terdapat empat tujuan utama yang ingin dicapai melalui kegiatan tersebut.

Pertama, mendorong kemampuan adaptasi media dari televisi dan radio menuju media sosial. Kedua, memperkuat literasi kritis mahasiswa agar tidak mudah terjebak disinformasi.


Selanjutnya, mahasiswa diberikan gambaran mengenai proyeksi karier di industri penyiaran modern serta didorong mengimplementasikan pembelajaran akademik melalui praktik.


Pemilihan mahasiswa semester 6 bukan tanpa alasan. Mereka dinilai sudah berada pada tahap yang membutuhkan pemahaman lebih mendalam mengenai perkembangan industri media sebelum memasuki dunia kerja.


Pada kesempatan tersebut, Ketua KPID Jawa Barat Dr. Adiyana Slamet, S.IP., M.Si., turut memaparkan hasil riset terbaru mengenai keterlibatan generasi Z terhadap media konvensional, khususnya televisi dan radio.


Riset tersebut menggunakan metode 5+1, yakni melihat dampak media melalui lima dimensi Pancagatra Ketahanan Nasional yang meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya serta pertahanan dan keamanan, ditambah satu aspek psikologi.

Pendekatan tersebut digunakan untuk melihat pengaruh frekuensi menonton televisi dan mendengarkan radio terhadap kondisi Gen Z.


“Ini bentuk nyata dari implementation agreement antara KPID Jawa Barat dan STIKOM Bandung. Melalui buka data hasil riset terbaru, kita berikan gambaran transparan keterlibatan generasi muda dengan media konvensional. Ini ikhtiar strategis memahami posisi televisi dan radio di tengah gempuran digital,” jelas Adiyana.


Menurutnya, riset tersebut diarahkan untuk mengukur dampak positif maupun negatif paparan konten televisi dan radio terhadap Gen Z.


Hasil penelitian itu selanjutnya diharapkan dapat dibedah lebih mendalam sehingga menjadi bahan untuk membangun ekosistem penyiaran yang sehat, relevan dan mampu menjawab perubahan perilaku masyarakat di era digital.


Sementara itu, Penanggung Jawab acara yang juga Wakil Ketua I STIKOM Bandung, Muhammad Farid, S.Sos., M.I.Kom., mengatakan kuliah umum tersebut menjadi ruang pertemuan empat elemen penting dalam perkembangan industri penyiaran.

Keempatnya yakni regulator, pelaku industri penyiaran televisi dan radio, akademisi serta mahasiswa.


“Industri dan perguruan tinggi punya korelasi jelas terkait penyerapan tenaga kerja. Masa depan industri penyiaran sangat bergantung pada lulusan kita, begitu pula sebaliknya. Momentum ini penting untuk memetakan regulasi di tengah era disrupsi digital yang tak terbendung,” ujar Farid.


Menurut Farid, hubungan antara perguruan tinggi dan industri harus terus diperkuat agar lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.


Di sisi lain, Ketua STIKOM Bandung Dr. Deddy Djamaluddin, M.S., menyoroti tantangan baru yang muncul seiring konvergensi media, perkembangan algoritma serta penggunaan Artificial Intelligence (AI).


Menurut Deddy, AI kini tidak hanya menjadi alat bantu, tetapi juga dapat memengaruhi cara seseorang menerima dan mengolah informasi.


“Sikap kritis dan etika menjadi krusial saat memanfaatkan AI agar identitas dan nilai-nilai bangsa tidak kabur (blur). Riset KPID ini sangat penting sebagai pencerahan dan inspirasi pengembangan riset lanjutan bagi para dosen dan civitas akademika STIKOM Bandung,” tegas Deddy. (GPWK)

Komentar


© 2025 by PRSSNI Daerah Jawa Barat
prssnijabar@gmail.com |  Tel: 022-2038362

bottom of page