Kincir Air Tradisional Jadi Andalan Petani Tasikmalaya Hadapi Kemarau Panjang
- Admin03

- 1 hari yang lalu
- 2 menit membaca

Tasikmalaya (PRSSNIJabar) - Menghadapi musim kemarau panjang, petani di Kampung Sukasirna, Desa Mangunsari, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, kembali mengandalkan kearifan lokal untuk menjaga lahan pertanian tetap terairi.
Warga memanfaatkan kincir air tradisional untuk mengalirkan air dari Sungai Citanduy ke areal persawahan. Cara sederhana tersebut menjadi solusi ketika debit saluran irigasi teknis mulai menyusut.
Selain tidak membutuhkan bahan bakar, kincir air juga dinilai ramah lingkungan dan sudah digunakan masyarakat secara turun-temurun setiap menghadapi musim kemarau.
Salah seorang pembuat kincir air, Adim Dimyati, mengatakan satu unit kincir mampu mengairi lahan sekitar satu hektare secara bergantian.
Menurutnya, kincir dapat beroperasi selama 24 jam tanpa membutuhkan biaya bahan bakar. Air yang berasal dari Sungai Citanduy juga membawa endapan lumpur yang dinilai dapat membantu menyuburkan lahan pertanian.
āAir dari Sungai Citanduy ini membawa kesuburan alami. Petani cukup melakukan pemupukan satu kali dalam satu masa tanam dari yang biasanya dua kali, sehingga bisa menghemat pengeluaran,ā ujar Adim saat ditemui, Rabu (26/8/2026).
Penggunaan kincir air juga dinilai lebih hemat dibandingkan mesin pompa diesel maupun pompa modifikasi berbahan bakar LPG.
Untuk mengoperasikan pompa, petani setidaknya harus mengeluarkan biaya sekitar Rp20.000 setiap delapan jam. Sementara kincir air dapat bekerja tanpa biaya operasional harian.
Dibangun Secara Gotong Royong
Adim menyebutkan, pembuatan satu unit kincir air membutuhkan biaya sekitar Rp1,2 juta hingga Rp1,5 juta.
Biaya tersebut digunakan untuk membeli sejumlah material seperti bambu, kayu, laher besi, papan kipas, paku hingga selang untuk mengalirkan air ke lahan pertanian.
Praktisi kincir air lainnya, Jalil, mengatakan pembuatan kincir dilakukan secara gotong royong. Warga tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membayar tenaga kerja karena proses pembuatannya dilakukan bersama-sama.
āPembuatan kincir ini dikerjakan bersama sekitar 16 orang warga secara gotong royong. Konstruksi bambu dan kayu ini biasanya bertahan lima sampai enam bulan untuk melewati masa kemarau,ā kata Jalil.
Meski menjadi solusi untuk menghadapi kekeringan, penggunaan kincir air tradisional tetap memiliki risiko. Salah satunya kincir dapat hanyut ketika debit Sungai Citanduy tiba-tiba meningkat.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, warga memasang penambat serta pemberat menggunakan batu hebel pada bagian tumpuan kincir.
Para petani berharap pemerintah daerah turut memberikan dukungan, terutama bantuan material, sehingga pemanfaatan kincir air tradisional dapat terus dikembangkan di wilayah yang rawan mengalami kekeringan.
Kearifan lokal tersebut dinilai tidak hanya mampu membantu menjaga produktivitas pertanian, tetapi juga menjadi pilihan irigasi yang murah, sederhana dan ramah lingkungan bagi masyarakat. (AST)



Komentar