HUT ke-50, PTDI Gelar Pentas Wayang Golek dan Wayang Kulit Semalam Suntuk
- Admin03

- 1 hari yang lalu
- 2 menit membaca

Bandung (PRSSNIJabar) - Memperingati 50 tahun kiprahnya di industri penerbangan nasional, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menggelar festival seni budaya di Kota Bandung.
Mengusung tema "Golden Legacy, Global Horizon: Menjaga Kedaulatan Bangsa, Mengangkasa di Panggung Dunia", perayaan tersebut menghadirkan pertunjukan Wayang Golek dan Wayang Kulit semalam suntuk.
Kegiatan digelar PTDI melalui Paguyuban Seni dan Karawitan Jawa "Rekso Budoyo" pada Sabtu (29/8/2026), di Selasar Gedung PKSN PTDI, Jalan Pajajaran No. 154, Kota Bandung.
Rangkaian kegiatan berlangsung sejak pagi hingga Minggu (30/8/2026) dini hari dan terbuka untuk masyarakat umum.
Perayaan diawali dengan peresmian fasilitas baru berupa Amphitheatre PTDI. Area pertunjukan terbuka tersebut dilengkapi tribun penonton bertingkat yang mengelilingi panggung utama
Setelah peresmian, masyarakat disuguhi pertunjukan seni Kuda Lumping atau Ebeg yang dibawakan para seniman Bandung.
Pentas Ebeg berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB. Selain pertunjukan seni, puluhan stan UMKM juga turut meramaikan kawasan acara dengan berbagai jajanan dan produk lokal.
Memasuki malam hari, rangkaian acara dilanjutkan dengan pertunjukan Wayang Golek dan Wayang Kulit.
Pentas diawali dengan Tari Jaipong dan Tari Gambyong Parianom sebelum memasuki pertunjukan utama.
Dalang muda Ki Eka Putra kemudian tampil membawakan Wayang Golek dengan lakon "Babad Alas Wana Marta".
Lakon tersebut mengisahkan perjuangan Pandawa mengubah hutan belantara menjadi Negara Amarta yang digambarkan sebagai negeri yang makmur, tenteram dan sejahtera.
Pertunjukan kemudian dilanjutkan dengan Wayang Kulit yang dibawakan Ki Iswanto Hadi Martono melalui lakon "Arjuna Wiwaha".
Ki Iswanto yang juga menjadi panitia kegiatan mengatakan, peringatan 50 tahun PTDI tidak hanya menjadi momentum perjalanan perusahaan, tetapi juga dimanfaatkan untuk melestarikan seni dan budaya tradisional.
Menurutnya, kegiatan tersebut sekaligus memberikan ruang bagi para seniman Bandung dan sekitarnya untuk tampil di hadapan masyarakat.
"Lakon Arjuna Wiwaha mengisahkan saat Arjuna menjalani tapa brata di Gua Mintaraga, Gunung Indrokilo, demi memperoleh beningnya hati," kata Ki Iswanto.
Dalam lakon tersebut, Arjuna diceritakan menghadapi berbagai godaan berupa harta, kekuasaan dan wanita. Setelah berhasil mengendalikan hawa nafsunya, Arjuna mendapat gelar Begawan Ciptoning serta anugerah senjata Pasupati dari Bathara Guru.
Ki Iswanto mengatakan, kisah tersebut memiliki pesan tentang perjuangan manusia mengendalikan hawa nafsu dan melawan keangkaramurkaan.
Senjata Pasupati yang diterima Arjuna kemudian digunakan untuk menghadapi Prabu Niwatakawaca, Raja Hima Himantaka yang berniat merebut Kahyangan.
"Pasupati adalah simbol keberhasilan mematikan nafsu kebinatangan," ujarnya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi sarana untuk terus mengenalkan kesenian tradisional kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Masyarakat yang ingin menyaksikan pertunjukan secara langsung dapat datang ke Selasar Gedung PKSN PTDI pada Sabtu malam.
Bagi masyarakat yang tidak dapat hadir, panitia juga menyediakan siaran langsung melalui kanal YouTube Rekso Budoyo PTDI Plus.
"Ini adalah momentum ulang tahun emas 50 tahun PTDI berdiri. Kami mengundang masyarakat luas untuk hadir menyaksikan langsung pertunjukan seni karawitan, seni tari dan pedalangan ini, atau bisa juga menyimak melalui kanal YouTube resmi kami," pungkas Ki Iswanto. (GPWK)



Komentar