top of page

Kemenkes Genjot CKG Untuk Deteksi Dini TB dan Gagal Ginjal Usia Muda

Gambar penulis: Admin02
Admin02
4 jam yang lalu
3 menit membaca



Ciamis (PRSSNIJabar) - Upaya mencegah penyakit sebelum berkembang menjadi lebih berat terus diperkuat pemerintah melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Kementerian Kesehatan kini mendorong agar pemeriksaan kesehatan tidak berhenti pada skrining, tetapi dilanjutkan dengan pencegahan dan penanganan terhadap penyakit yang ditemukan.


Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR, mengatakan penguatan pendekatan preventif tersebut menjadi bagian penting dalam menghadapi persoalan kesehatan, terutama Tuberkulosis (TB) dan penyakit tidak menular seperti hipertensi serta diabetes.


Hal itu disampaikan Benjamin saat kunjungan kerja bersama Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus di RSUD Ciamis, Senin (21/9/2026).


Dalam rangkaian kunjungan tersebut, pemerintah menyoroti penguatan penanganan TB sekaligus pelaksanaan CKG di daerah.


Untuk penanganan TB, Benjamin menyebut penemuan kasus secara nasional menunjukkan peningkatan. Tahun lalu, sekitar 867 ribu orang telah mendapatkan pengobatan TB. Pemerintah kini mendorong agar penanganan tidak hanya menyasar pasien yang sudah sakit, tetapi juga orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TB.


Kebijakan tersebut dilakukan melalui pelacakan kontak erat dan pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi mereka yang belum mengalami sakit TB. Kemenkes sebelumnya memang menetapkan pelacakan kontak erat sebagai salah satu strategi untuk mempercepat eliminasi TB pada 2030.


"Kenapa kasus TB masih tinggi? Karena TB itu penyakit menular. Melalui CKG, kontak erat yang tinggal serumah kita periksa. Kalau tidak sakit, langsung dikasih obat pencegahan; kalau sakit, baru diobati," kata Benjamin.


Menurut dia, pendekatan tersebut penting karena seseorang yang tertular kuman TB tidak selalu langsung mengalami gejala. Karena itu, pemeriksaan terhadap orang yang tinggal serumah dengan pasien menjadi bagian penting dalam memutus rantai penularan.


"Kalau sumber penularan di pasar atau lingkungan rumah hilang, daerah itu bisa bebas TB," ujarnya.


Kemenkes sendiri menargetkan pelacakan kontak erat dilakukan secara luas dengan memanfaatkan CKG, pemeriksaan rontgen dan tes cepat sebagai bagian dari strategi pengendalian TB.


Selain TB, CKG juga diarahkan untuk mendeteksi lebih awal penyakit tidak menular, terutama hipertensi, diabetes melitus dan faktor risiko lain yang dapat memicu penyakit jantung, stroke hingga gagal ginjal. Kemenkes pada 2026 memang menempatkan hipertensi, gula darah tinggi dan kolesterol sebagai sejumlah faktor yang menjadi perhatian dalam tindak lanjut hasil CKG.


Saat meninjau RSUD Ciamis, Benjamin mengungkapkan dirinya menemukan pasien berusia 16 dan 25 tahun yang sudah menjalani hemodialisis.


"Tadi saya lihat anak umur 16 tahun sudah cuci darah, ada yang umur 25 tahun sudah rutin cuci darah. Di Indonesia sekarang ada 156 ribu orang yang harus cuci darah. Negara mengeluarkan biaya lebih dari Rp13 triliun hanya untuk layanan cuci darah," kata Benjamin.


Ia mengatakan kondisi tersebut menunjukkan pentingnya mendeteksi penyakit seperti hipertensi dan diabetes sejak dini.


"Padahal, kalau hipertensi dan gula darahnya dideteksi serta diobati sejak awal melalui CKG, mereka tidak perlu merusak ginjalnya di usia produktif," ujarnya.


Program CKG sendiri tidak hanya diarahkan untuk menemukan gangguan kesehatan. Kemenkes menyatakan hasil pemeriksaan harus dilanjutkan dengan tata laksana atau pengobatan bagi peserta yang terdeteksi memiliki masalah kesehatan.


Sementara itu, Direktur RSUD Ciamis dr. H. Bayu Yudiawan, M.M., menyambut penguatan fungsi promotif dan preventif melalui CKG. Menurutnya, deteksi dini penting untuk mengetahui kondisi kesehatan masyarakat sebelum penyakit berkembang menjadi lebih berat.


"Strateginya memang harus di hulu, yaitu promotif dan preventif, baru kemudian kuratif. Kata kuncinya adalah tahu dulu kondisi kesehatannya sejak dini. Jangan sampai kita terus melihat anak di bawah 30 tahun harus bergantung pada mesin cuci darah atau usia di bawah 50 tahun kehilangan produktivitasnya," ujar Bayu.


Kemenkes mencatat CKG telah menjangkau puluhan juta masyarakat sepanjang 2026 dan menargetkan 130 juta peserta hingga akhir tahun. Pada awal Juli 2026, jumlah peserta yang telah mengikuti pemeriksaan tercatat 59,6 juta orang.


Di RSUD Ciamis, penguatan layanan juga terus dilakukan untuk menangani berbagai penyakit katastropik, mulai dari kanker, jantung, stroke, nefrologi hingga kesehatan ibu dan anak. (AST)

Komentar


© 2025 by PRSSNI Daerah Jawa Barat
prssnijabar@gmail.com |  Tel: 022-2038362

bottom of page