Jabar Kantongi Surplus Dagang USD 8,90 Miliar
- Admin02

- 7 Jun
- 2 menit membaca

Bandung (PRSSNIJabar) - Kinerja perdagangan luar negeri Jawa Barat (Jabar) mencatat hasil positif sepanjang Januari hingga April 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat neraca perdagangan provinsi ini surplus sebesar USD 8,90 miliar, didorong tingginya nilai ekspor dibandingkan impor.
Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati belum lama ini mengatakan, nilai ekspor Jawa Barat selama empat bulan pertama 2026 mencapai USD 12,58 miliar atau tumbuh 4,15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan juga terjadi pada ekspor nonmigas yang mencapai USD 12,51 miliar atau naik 4,30 persen.
Sementara itu, ekspor migas tercatat sebesar USD 72,70 juta atau mengalami penurunan 16,39 persen dibandingkan Januari-April 2025.
āEkspor nonmigas terbesar selama Januari hingga April 2026 dilakukan ke Amerika Serikat dengan nilai USD 2,08 miliar, disusul Filipina sebesar USD 1,19 miliar dan Jepang sebesar USD 922,58 juta. Kontribusi ketiganya mencapai 33,53 persen,ā ucapnya dalam Rilis Berita Resmi Statistik Provinsi Jawa Barat, pekan lalu.
Ia menjelaskan, ekspor Jawa Barat ke kawasan ASEAN mencapai USD 3,47 miliar. Sedangkan ekspor ke kawasan Amerika dan Eropa menembus USD 4,70 miliar selama periode tersebut.
Dari sisi komoditas, peningkatan terbesar pada kelompok ekspor nonmigas terjadi pada golongan kendaraan dan bagiannya yang naik USD 297,95 juta atau 11,80 persen. Sebaliknya, golongan perhiasan dan permata mengalami penurunan terbesar yakni sebesar USD 73,59 juta atau turun 18,99 persen.
Kinerja ekspor sektoral juga menunjukkan tren positif. Sektor pertanian tumbuh 4,21 persen, industri pengolahan naik 4,30 persen, serta sektor pertambangan dan lainnya meningkat 2,20 persen. Hanya sektor migas yang mengalami kontraksi hingga 16,39 persen.
Di sisi lain, nilai impor Jawa Barat pada Januari-April 2026 tercatat sebesar USD 3,68 miliar atau turun 7,63 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan paling tajam terjadi pada impor migas yang merosot 55,08 persen menjadi USD 232,36 juta.
Sedangkan impor nonmigas tercatat sebesar USD 3,44 miliar atau turun tipis 0,54 persen.
Margaretha menyebutkan, Tiongkok masih menjadi negara asal impor nonmigas terbesar bagi Jawa Barat dengan nilai USD 1,41 miliar atau berkontribusi 41,04 persen. Posisi berikutnya ditempati Jepang sebesar USD 410,06 juta dan Korea Selatan sebesar USD 407,46 juta.
Untuk komoditas impor, penurunan terbesar terjadi pada golongan kendaraan dan bagiannya yang turun USD 154,38 juta atau 51,08 persen. Sebaliknya, golongan mesin dan perlengkapan elektronik mengalami kenaikan tertinggi sebesar USD 97,19 juta atau 18,25 persen.
āNilai impor menurut golongan penggunaan, baik barang konsumsi, bahan baku maupun barang modal, seluruhnya mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,ā katanya.
BPS mencatat impor barang konsumsi turun 12,63 persen, bahan baku dan penolong turun 5,63 persen, serta barang modal turun 17,20 persen. Kondisi tersebut ikut menopang surplus neraca perdagangan Jawa Barat selama empat bulan pertama tahun ini. (IGN)



Komentar