Jabar Dorong Swasembada Bibit Unggas, Peternak KBB Dapat Mesin Tetas dan 195 Ayam Petelur
- Admin02

- 12 Agu
- 2 menit membaca

KBB (PRSSNIJabar) - Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) memperkuat ketahanan pangan asal hewan melalui pendekatan kemandirian di tingkat peternak. Langkah terbaru dilakukan dengan menyalurkan bantuan sarana produksi kepada Kelompok Ternak Sauyunan di Kabupaten Bandung Barat.
Bantuan diserahkan langsung oleh UPTD Balai Pengembangan Perbibitan Ternak Unggas Jatiwangi, Senin (10/8). Bentuk bantuan mencakup 195 ekor ayam pullet siap bertelur, 1,4 ton pakan ternak, serta paket Obat, Vaksin, dan Kimia atau OVK.
Yang menjadi sorotan adalah dukungan infrastruktur pembibitan. Pemprov Jabar menyerahkan satu unit mesin tetas setter berkapasitas 1.500 butir dan satu unit mesin tetas hatcher berkapasitas 500 butir.
Kepala UPTD BPPTU Jatiwangi Ahmad Gufron menegaskan, intervensi ini dirancang bukan hanya untuk menambah jumlah ternak.
"Langkah strategis ini tidak sekadar ditujukan untuk menambah populasi ternak, melainkan untuk membangun sistem usaha peternakan yang mandiri dan produktif," ujar Ahmad.
Menurutnya, ayam pullet yang disalurkan diharapkan menjadi pondasi awal bagi Kelompok Sauyunan untuk mengembangkan usaha telur konsumsi. Dengan dukungan pakan dan OVK, produktivitas serta kesehatan ternak dapat terjaga secara optimal.
Namun fokus utama ada pada mesin tetas. Dengan fasilitas tersebut, kelompok tidak perlu lagi sepenuhnya bergantung pada pasokan bibit dari luar daerah.
āPenguatan fasilitas pembibitan di tingkat kelompok menjadi kunci. Dengan mesin setter dan hatcher, peternak bisa merencanakan penetasan secara mandiri. Ini memangkas rantai pasok dan menekan biaya produksi,ā kata Ahmad.
Pemprov Jabar memandang peternak rakyat sebagai penggerak utama ekonomi perdesaan dan penyedia protein hewani. Karena itu penguatan dilakukan mulai dari hulu, yakni penyediaan bibit berkualitas.
"Peningkatan kapasitas produksi telur lokal ini diyakini akan berkontribusi langsung pada pemenuhan gizi masyarakat dan pembentukan sistem rantai pasok pangan yang lebih tangguh," ucap Ahmad.
Melalui skema ini, telur yang dihasilkan kelompok bisa dipasarkan langsung ke masyarakat sekitar, sementara bibit hasil tetas dapat digunakan untuk perluasan usaha atau dijual ke peternak lain di wilayah Bandung Barat.
Agar bantuan tidak berhenti sebagai seremonial, BPPTU Jatiwangi akan melakukan pendampingan berkelanjutan. Materi pendampingan meliputi tata kelola kelembagaan, pencatatan usaha, penerapan biosekuriti, hingga strategi pemasaran.
Pendekatan ini sejalan dengan arah pembangunan peternakan Jabar yang menekankan keberlanjutan dan daya saing.
DKPP Jabar menilai, kemandirian bibit adalah prasyarat penting untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan asal hewan. Ketika kelompok mampu memproduksi bibit sendiri, risiko kelangkaan dan gejolak harga dapat ditekan.
Kolaborasi antara pemerintah provinsi, UPTD teknis, dan kelompok peternak diharapkan melahirkan ekosistem usaha yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
"Harapannya, ke depan kita punya ekosistem peternakan yang kuat. Peternakan Jawa Barat yang maju, mandiri, produktif, dan berkelanjutan untuk Jawa Barat Istimewa," tutup Ahmad.
Dengan model bantuan produktif seperti ini, Pemprov Jabar optimistis ketahanan pangan hewani di daerah dapat diperkuat, sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak skala kecil. (IGN)



Komentar