top of page

Inflasi Jawa Barat Mei 2026 Terkendali, BI Jabar Gencarkan Gerakan Pangan Murah

  • Gambar penulis: Admin02
    Admin02
  • 3 Jun
  • 2 menit membaca

Bandung (PRSSNIJabar) - Inflasi di Jawa Barat pada Mei 2026 tetap terkendali di tengah kenaikan harga sejumlah komoditas pangan. Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Barat memastikan berbagai langkah pengendalian terus diperkuat bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.


Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,24 persen secara bulanan atau month to month (mtm). Sementara secara tahunan atau year on year (yoy), inflasi Jawa Barat berada di angka 3,07 persen.


Angka tersebut tercatat sedikit lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,08 persen secara tahunan. Kondisi itu dinilai menjadi sinyal positif bahwa pengendalian inflasi di Jawa Barat berjalan efektif.


Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Junanto Herdiawan mengatakan, stabilitas harga yang tetap terjaga merupakan hasil sinergi kuat antara BI, pemerintah daerah, dan TPID di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat.


ā€œSinergi pengendalian inflasi terus diperkuat melalui berbagai program untuk menjaga keterjangkauan harga dan memastikan pasokan pangan tetap tersedia bagi masyarakat,ā€ ujar Junanto Herdiawan dalam keterangannya, Rabu (3/6/2026).


Secara bulanan, inflasi di Jawa Barat dipicu kenaikan harga beberapa komoditas strategis. Cabai merah menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,06 persen, disusul bawang merah 0,05 persen, minyak goreng 0,04 persen, bahan bakar rumah tangga 0,03 persen, dan bensin sebesar 0,02 persen.


Meski begitu, tekanan inflasi masih dapat ditahan oleh sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga. Telur ayam ras tercatat mengalami deflasi sebesar minus 0,07 persen, diikuti emas perhiasan dan daging ayam ras masing-masing minus 0,06 persen. Selain itu, bawang putih dan tomat juga turut menahan laju inflasi.


Inflasi pada Mei 2026 terjadi di seluruh daerah sampel IHK di Jawa Barat. Kota Cirebon menjadi daerah dengan inflasi tertinggi sebesar 0,39 persen (mtm), sedangkan Kota Tasikmalaya mencatat inflasi terendah sebesar 0,04 persen (mtm).


Untuk menjaga stabilitas harga pangan, BI Jawa Barat bersama TPID terus mengoptimalkan strategi pengendalian inflasi melalui kerangka 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.


Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) di 107 titik yang tersebar di 24 kabupaten dan kota di Jawa Barat. Program tersebut digelar untuk membantu masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau.


Selain itu, penguatan pasokan pangan juga dilakukan melalui kerja sama antar daerah. Pemerintah daerah di Jawa Barat menjalin Kesepakatan Bersama (KSB) dengan pemerintah daerah di Provinsi Kepulauan Riau untuk memperkuat distribusi komoditas pangan dari sentra produksi pertanian.


Tak hanya itu, koordinasi antar TPID juga terus diperkuat melalui High Level Meeting, capacity building lintas daerah, hingga pemantauan harga berbasis aplikasi SILINDA Jawa Barat.


Junanto menegaskan, BI Jawa Barat bersama TPID akan terus melakukan langkah mitigasi dan intervensi terhadap komoditas pangan strategis agar inflasi tetap terkendali dan pertumbuhan ekonomi daerah tetap terjaga.


ā€œUpaya pengendalian inflasi akan terus diperkuat agar stabilitas harga tetap terjaga dan masyarakat tidak terbebani oleh kenaikan harga kebutuhan pokok,ā€ pungkasnya. (IGN)

Komentar


© 2025 by PRSSNI Daerah Jawa Barat
prssnijabar@gmail.com |  Tel: 022-2038362

bottom of page