Kekeringan Ciamis Berdampak ke 11.972 Warga, Karhutla Terus Mengintai
- Admin02

- 11 jam yang lalu
- 2 menit membaca

Ciamis (PRSSNIJabar) - Musim kemarau mulai memberi tekanan terhadap sejumlah wilayah di Kabupaten Ciamis. Hingga 26 Agustus 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ciamis mencatat 27 kejadian kekeringan yang berdampak terhadap 11.972 jiwa. Di saat yang sama, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga terus mengintai, dengan 11 kejadian tercatat selama Agustus.
Kondisi tersebut membuat penanganan kekeringan dan karhutla menjadi perhatian Pemkab Ciamis. Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Karhutla telah ditetapkan sejak 1 Juli hingga 30 September 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Ciamis, Ani Supiani, mengatakan dampak kekeringan sejauh ini tersebar di 16 kecamatan, 27 desa dan 44 dusun. Sebanyak 4.600 kepala keluarga atau 11.972 jiwa terdampak akibat berkurangnya ketersediaan air bersih.
āMemasuki musim kemarau kami berupaya melakukan edukasi kepada masyarakat agar selalu waspada, terutama karena kemarau bisa menyebabkan kekeringan dan kurangnya pasokan air bersih. Selain itu, kebakaran hutan dan lahan juga memiliki risiko tinggi dan sedang yang tersebar di 27 kecamatan,ā kata Ani, Jumat (28/8/2026).
Untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak, BPBD bersama relawan, instansi pemerintah, aparat dan pihak swasta telah menyalurkan 711.000 liter air bersih atau setara 142 tangki.
Distribusi dilakukan melalui berbagai unsur, antara lain BPBD sebanyak 170.000 liter, PMI 95.000 liter, BBWS Citanduy 10.000 liter, Kodim 0613/Ciamis 4.000 liter dan Polres Ciamis 5.000 liter.
Dukungan juga datang dari sejumlah pihak melalui program tanggung jawab sosial, termasuk BJB Ciamis, BRI Ciamis, Yogya Ciamis, Samsat Ciamis dan PDAM Ciamis. PDAM menjadi salah satu penyumbang terbesar dengan distribusi mencapai 228.000 liter.
āBPBD berkoordinasi dengan aparat pemerintah setempat dan dibantu relawan serta instansi untuk mendistribusikan air bersih ke lokasi terdampak kekeringan,ā ujar Ani.
Di tengah persoalan air bersih, ancaman lain datang dari kebakaran lahan. BPBD mencatat 11 kejadian karhutla sepanjang Agustus. Wilayah yang dinilai rawan antara lain kawasan selatan Ciamis seperti Pamarican, Banjaranyar dan Banjarsari, hingga wilayah utara seperti Panawangan, Cihaurbeuti dan Panumbangan.
Ani menyebut sebagian besar kebakaran dipicu kelalaian manusia, terutama puntung rokok yang masih menyala dan aktivitas membakar sampah yang tidak diawasi hingga api merembet ke lahan kering.
āDi Ciamis rata-rata pemicunya karena kecerobohan, seperti membuang puntung rokok sembarangan yang masih menyala atau membakar sampah kemudian ditinggalkan. Di tengah musim kemarau dan lahan kering, sekecil apa pun api bisa dengan cepat meluas,ā tegasnya.
Mengantisipasi meluasnya kebakaran, BPBD memperkuat koordinasi dengan Perum Perhutani KPH Ciamis, TNI, Polri, Cabang Dinas Kehutanan, Damkar Ciamis, Tagana, PMI dan Forum Relawan Ciamis Selatan.
Patroli terpadu, deteksi dini titik api serta kesiapan armada pemadam menjadi bagian dari langkah pencegahan. Sejumlah kejadian kebakaran lahan yang muncul sejauh ini juga dapat ditangani dengan cepat sehingga tidak menimbulkan kerugian besar.
BPBD mengingatkan masyarakat untuk tidak membakar sampah di sekitar hutan dan lahan, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta tidak membuka lahan dengan cara membakar. Masyarakat juga diminta segera melapor jika menemukan titik api.
āJika melihat kebakaran segera lapor kepada petugas. Sampai saat ini belum ada laporan hutan terbakar luas dan pasokan air masih tersedia, namun kewaspadaan harus tetap tinggi,ā pungkas Ani. (AST & GPWK)



Komentar