Harga Kedelai Tembus Rp11 Ribu, Pengrajin Tahu Tempe Bandung Diminta Tetap Bertahan
- Admin02

- 13 Jun
- 2 menit membaca

Bandung (PRSSNIJabar) - Kenaikan harga kedelai yang terus merangkak naik hingga mendekati Rp11.000 per kilogram mulai memberikan tekanan serius bagi para pengrajin tahu dan tempe di Kota Bandung. Kondisi ini memicu kekhawatiran karena kedelai merupakan bahan baku utama yang menentukan keberlangsungan produksi dua pangan favorit masyarakat tersebut.
Di tengah lonjakan harga yang sulit dikendalikan, Pemerintah Kota Bandung meminta para pelaku usaha tahu dan tempe untuk tetap bertahan dan tidak menghentikan kegiatan produksinya. Pemkot menilai keberlangsungan industri tahu dan tempe sangat penting karena berkaitan langsung dengan kebutuhan pangan masyarakat serta mata pencaharian ribuan pelaku usaha kecil.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan kenaikan harga kedelai saat ini dipengaruhi oleh mekanisme pasar internasional. Sebagai komoditas impor, harga kedelai di dalam negeri sangat bergantung pada kondisi pasokan global dan nilai tukar mata uang.
āHarga kedelai itu sekarang sudah di atas Rp10.000 per kilogram, bahkan mendekati Rp11.000. Karena ini barang impor, maka kita mengikuti mekanisme pasar yang berlaku,ā kata Farhan di Balai Kota Bandung, Jumat (12/6/2026).
Menurutnya, ruang gerak pemerintah daerah untuk mengintervensi harga kedelai relatif terbatas. Namun demikian, Pemkot Bandung tetap berupaya membantu pelaku usaha melalui berbagai langkah pendampingan dan menjaga ekosistem usaha agar tetap berjalan.
Farhan mengimbau para pengrajin untuk melakukan efisiensi dalam proses produksi guna mengurangi dampak kenaikan biaya bahan baku. Ia berharap langkah tersebut dapat membantu usaha tetap beroperasi tanpa harus menghentikan produksi.
āKita mengimbau kepada para pengrajin tahu dan tempe agar lebih efisien. Yang paling penting produksi jangan sampai berhenti,ā katanya.
Kenaikan harga kedelai tidak hanya berdampak pada pelaku usaha, tetapi juga berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat. Tahu dan tempe selama ini dikenal sebagai sumber protein yang terjangkau bagi berbagai kalangan. Jika produksi terganggu atau harga melonjak terlalu tinggi, masyarakat akan menjadi pihak yang ikut merasakan dampaknya.
Karena itu, Pemkot Bandung berupaya menjaga keseimbangan antara keberlangsungan usaha pengrajin dan kemampuan masyarakat dalam membeli produk olahan kedelai tersebut. Pemerintah juga terus memantau distribusi agar pasokan tahu dan tempe tetap tersedia di pasar-pasar tradisional maupun sentra kuliner.
āKita jaga supaya konsumen yang biasa membeli tahu dan tempe tetap memiliki daya beli. Jadi meskipun ada kenaikan harga, produk ini masih bisa dijangkau masyarakat,ā tutur Farhan.
Lonjakan harga kedelai memang menjadi tantangan yang berulang bagi industri tahu dan tempe nasional. Namun di tengah situasi tersebut, para pengrajin diharapkan mampu beradaptasi melalui efisiensi, inovasi produksi, serta strategi usaha yang tepat agar tetap bertahan menghadapi gejolak harga bahan baku.
Pemkot Bandung pun memastikan akan terus mengawal keberlangsungan sektor usaha ini karena tahu dan tempe tidak hanya menjadi komoditas ekonomi, tetapi juga bagian penting dari ketahanan pangan masyarakat. (IGN)



Komentar