Hajat Laut Pangandaran, Warisan Syukur Nelayan yang Terus Dijaga
- Admin02

- 13 Jun
- 2 menit membaca

Pangandaran (PRSSNIJabar) - Tradisi Hajat Laut kembali akan digelar di Pantai Timur Pangandaran pada 16 Juni 2026 mendatang. Di tengah perkembangan sektor pariwisata dan modernisasi kawasan pesisir, masyarakat nelayan tetap berkomitmen mempertahankan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki dari laut serta doa untuk keselamatan dalam mencari nafkah.
Bagi masyarakat nelayan Pangandaran, Hajat Laut bukan sekadar agenda tahunan atau atraksi budaya. Tradisi ini memiliki makna mendalam sebagai ungkapan terima kasih kepada Allah SWT atas hasil tangkapan yang diperoleh selama setahun terakhir, sekaligus momentum refleksi atas hubungan manusia dengan alam.
Ketua BPC Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Pangandaran, Agus Mulyana, menegaskan bahwa pelaksanaan Hajat Laut tahun ini tetap mengedepankan nilai-nilai spiritual dan budaya yang selama ini menjadi ruh tradisi tersebut.
āSyukuran nelayan ini tetap dilaksanakan seperti biasanya. Ini adalah bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas rezeki yang diberikan selama setahun. Tahun ini kami mengusung tema āBudaya Terawat, Akidah Terjagaā,ā tegas Agus.
Menurutnya, pelaksanaan Hajat Laut akan tetap berlangsung di lokasi dan tanggal yang telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat nelayan Pangandaran. Selain doa bersama dan kegiatan keagamaan seperti istigasah, acara juga menjadi sarana untuk melakukan evaluasi terhadap kehidupan dan aktivitas masyarakat pesisir selama setahun terakhir.
āKita tidak hanya bersyukur, tetapi juga bertafakur. Jika hasil tangkapan menurun, misalnya, kita perlu mengevaluasi apakah ada hal yang harus diperbaiki, baik dalam menjaga alam maupun dalam menjalankan nilai-nilai kehidupan yang baik,ā katanya.
Meski tetap mempertahankan esensi sebagai syukuran nelayan, penyelenggaraan Hajat Laut tahun ini dikemas lebih meriah melalui kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah daerah, pelaku usaha pariwisata, hingga masyarakat setempat turut terlibat untuk menjadikan tradisi tersebut sebagai daya tarik wisata budaya.
Agus menilai, kekayaan budaya yang dimiliki Pangandaran memiliki potensi besar untuk diperkenalkan lebih luas kepada wisatawan. Salah satunya melalui pengenalan kisah Dewi Rengganis yang menjadi bagian dari sejarah Pangandaran dan berkaitan dengan kesenian Ronggeng Gunung.
āKami ingin memperkenalkan Ronggeng Gunung sebagai salah satu identitas budaya Pangandaran. Harapannya, budaya lokal ini semakin dikenal dan menjadi kebanggaan masyarakat,ā tuturnya.
Dengan tetap menjaga nilai syukur dan kearifan lokal yang diwariskan para leluhur, Hajat Laut diharapkan tidak hanya menjadi simbol kebersamaan masyarakat nelayan, tetapi juga menjadi bukti bahwa tradisi dapat terus hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman. (GPWK)



Komentar