Gelombang Tinggi Terjang Muara Cikidang Pangandaran, Perahu Nelayan Terbalik dan Mercusuar Rusak
- Admin02

- 27 Jul
- 2 menit membaca

Pangandaran (PRSSNIJabar) - Gelombang tinggi disertai kabut tebal melanda perairan Pangandaran pada Senin (27/7) pagi. Cuaca ekstrem tersebut menghambat aktivitas nelayan, menyebabkan sebuah perahu terbalik di pintu masuk Muara Sungai Cikidang, serta merusak mercusuar merah yang menjadi penanda alur pelayaran.
Ketua SAR Barakuda, Sakio Adrianto, mengatakan cuaca buruk tidak hanya menghentikan sementara aktivitas melaut, tetapi juga mengakibatkan kerusakan pada armada nelayan dan fasilitas navigasi.
Insiden menimpa perahu milik Yadi Gunawan, nelayan asal Dusun Parapat, Desa Pangandaran. Perahu bernama Mina Ciamis itu terbalik sekitar pukul 06.00 WIB saat hendak melintasi pintu masuk Muara Sungai Cikidang menuju perairan.
"Perahu terbalik sekitar jam 6 pagi karena dampak gelombang tinggi. Kabutnya juga sangat tebal jadi sulit melihat ombak," ujar Yadi.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, perahu mengalami kerusakan cukup parah. Lambung perahu berlubang, sementara mesin mengalami kerusakan berat dan penutup mesin hilang tersapu ombak.
Menurut Sakio, biaya perbaikan mesin diperkirakan mencapai sedikitnya Rp3 juta, bahkan bisa lebih besar bergantung pada tingkat kerusakannya.
Proses evakuasi dilakukan secara gotong royong oleh sesama nelayan bersama tim SAR Barakuda. Perahu beserta mesin yang rusak berhasil dievakuasi dan dibawa ke rumah pemiliknya.
"Insiden kecelakaan laut di Muara Sungai Cikidang murni disebabkan faktor cuaca buruk, gelombang tinggi, dan kabut tebal. Berkat respons cepat nelayan dan tim SAR Barakuda, tidak ada korban jiwa dan perahu berhasil dievakuasi ke darat," kata Sakio.
Selain membalikkan perahu nelayan, gelombang tinggi juga merusak mercusuar merah di sisi kanan pintu masuk Pelabuhan Muara Sungai Cikidang. Berdasarkan pantauan tim SAR Barakuda, salah satu tiang penyangga mercusuar patah setelah dihantam ombak sejak malam sebelumnya.
Akibat kerusakan tersebut, struktur mercusuar bergoyang setiap kali diterjang gelombang sehingga dikhawatirkan membahayakan keselamatan pelayaran, terutama bagi nelayan yang hendak keluar maupun masuk ke pelabuhan.
Pada Senin pagi, kawasan perairan Pantai Timur Pangandaran masih diselimuti kabut tebal dengan tinggi gelombang yang cukup signifikan. Kondisi itu membuat nelayan kesulitan membaca arah gelombang, terutama di antara mercusuar hijau dan mercusuar merah yang menjadi jalur keluar masuk perahu.
Sakio mengimbau para nelayan untuk meningkatkan kewaspadaan dan menunda aktivitas melaut hingga kondisi cuaca kembali normal. Menurutnya, cuaca ekstrem tidak hanya membahayakan keselamatan nelayan, tetapi juga berpotensi menimbulkan kerusakan pada infrastruktur navigasi maupun sarana produksi yang digunakan masyarakat pesisir. (GPWK)



Komentar