Festival Tamansari 2026, Upaya Merawat Budaya Sunda dan Menjaga Kelestarian Sungai
- Admin03

- 16 Agu
- 2 menit membaca

Bandung (PRSSNIJabar) - Kawasan Tamansari, Kota Bandung, mendadak semarak dengan gelaran Festival Seni & Budaya Tamansari 2026, Sabtu (15/8/2026).
Berbagai elemen masyarakat tumpah ruah mengikuti kegiatan yang mengusung tema “Neuleuman Walungan” tersebut. Festival ini menjadi ruang untuk menghidupkan kembali seni dan budaya Sunda yang mulai tergerus perkembangan zaman.
Sejak pukul 08.00 WIB, masyarakat disuguhi beragam kegiatan. Mulai dari kaulinan barudak khas Sunda, aksi kukuyaan sambil membersihkan sungai, karnaval sungai, lomba memasak hasil Buruan SAE, pagelaran seni hingga bazar UMKM.
Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, Nuzrul Irwan Irawan mengatakan, kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk nyata implementasi Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2023 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Menurutnya, pemajuan kebudayaan tersebut berpijak pada 10 objek pemajuan kebudayaan (OPK).
Sementara itu, Kepala Bidang Pengkajian Budaya Disbudpar Kota Bandung, Indra Andika Arifiana menilai pelestarian budaya lokal perlu terus dilakukan agar tidak hilang dari ingatan masyarakat.
“Kita harus melestarikan OPK tentang kebudayaan yang sudah mulai hilang. Pemerintah bisa mengenalkan kembali mainan-mainan tradisional yang tadi kita saksikan bersama,” ujar Indra di sela-sela kegiatan
Hal senada disampaikan Wanoja Jajaka Budaya Jawa Barat 2026, Cecep Agus Setiawan dan Ayka Salsabila Fandani.
Cecep mengatakan, festival tersebut menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengenal sekaligus menjaga warisan budaya leluhur.
“Ini salah satu upaya pelestarian budaya agar tetap lestari. Mulai dari makanan tradisional hingga kaulinan barudak yang mungkin sudah sedikit terlupakan, sekarang kita bisa lihat dan lestarikan kembali,” katanya.
Tak hanya menghadirkan pertunjukan seni dan budaya, Festival Seni & Budaya Tamansari 2026 juga memadukan kearifan lokal dengan kepedulian terhadap lingkungan.
Aksi kukuyaan sambil membersihkan sungai serta karnaval sungai menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang mengajak masyarakat untuk ikut menjaga lingkungan.
Keterlibatan masyarakat dari berbagai kalangan dan usia menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan budaya Sunda.
Melalui kegiatan seperti ini, seni, tradisi, permainan anak, kuliner hingga kepedulian terhadap lingkungan diharapkan tidak hanya menjadi tontonan, tetapi terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (AMJ)



Komentar