Dari Gunung Halu ke Eropa, Kopi Java Halu Bawa Ekonomi Petani Naik Kelas
- Admin02

- 5 hari yang lalu
- 3 menit membaca
Diperbarui: 4 hari yang lalu

Kab. Bandung Barat (PRSSNIJabar) - Secangkir kopi yang dinikmati konsumen di Eropa ternyata membawa cerita panjang dari kawasan Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat. Dari tangan petani hingga proses penyortiran yang melibatkan banyak perempuan di sekitar sentra produksi, kopi Java Halu Coffee kini menembus pasar Eropa.
Java Halu Coffee melakukan ekspor perdana ke Eropa sebanyak 26 ton dengan nilai USD250 ribu atau sekitar Rp4,4 miliar, melalui buyer Falcon Coffees. Capaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan usaha yang sejak 2019 mulai memperluas pasar ke berbagai negara.
Owner Java Halu Coffee, Rani Mayasari, mengatakan keberhasilan menembus pasar internasional tidak lepas dari kerja bersama para petani dan masyarakat sekitar. Saat ini, Java Halu menggandeng sekitar 20 petani yang tergabung dalam kelompok Halu Farm dari sekitar 200 kepala keluarga.
"Di balik karung kopi yang kami kirim ke berbagai negara, ada peran penting dari para petani dan masyarakat sekitar yang mendukung kegiatan ekspor Java Halu Coffee," ujar Rani saat peluncuran ekspor Java Halu Coffee di Kota Baru Parahyangan, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (18/8/2026).
Tidak hanya petani, masyarakat sekitar juga mendapat manfaat dari aktivitas produksi kopi. Java Halu melibatkan para perempuan dalam proses pascapanen, khususnya penyortiran kopi cherry.
Setiap hari, para pekerja dapat menangani sekitar lima ton kopi. Menariknya, sekitar 80 persen tenaga kerja yang terlibat dalam aktivitas petani dan produksi Java Halu merupakan perempuan.
Menurut Rani, kondisi tersebut menunjukkan bahwa ekspor komoditas perkebunan tidak hanya berbicara mengenai nilai transaksi, tetapi juga memiliki dampak langsung terhadap penguatan ekonomi masyarakat di tingkat lokal.
"Sebanyak 80 persen pekerja petani di Java Halu adalah perempuan. Jadi, ekspor kopi ini juga menjadi bagian dari upaya menggerakkan ekonomi masyarakat di sekitar Gunung Halu," katanya.
Rani menambahkan, perjalanan Java Halu ke pasar internasional belum berhenti di Eropa. Pada akhir Agustus 2026, pihaknya menargetkan ekspor ke Tiongkok. Sebelumnya, Java Halu telah mengekspor produknya ke Jepang pada 2024.
Untuk diketahui, perjalanan Java Halu menuju pasar global juga mendapat dukungan Bank Indonesia Jawa Barat. Pendampingan dilakukan secara bertahap, mulai dari peningkatan kapasitas usaha, fasilitasi promosi, business matching, hingga dukungan peralatan pengolahan pascapanen.
Java Halu sebelumnya difasilitasi mengikuti World of Coffee Jakarta 2025. Akses tersebut kemudian diperluas melalui business matching dengan Asian Coffee Australia, serta kurasi menuju World of Coffee San Diego dan Bangkok 2026.
Kepala Perwakilan BI Jawa Barat Junanto Herdiawan mengatakan, pendampingan UMKM tidak boleh berhenti pada tahap membuat usaha mampu bertahan. UMKM harus didorong untuk berkembang dan memiliki kemampuan memasuki pasar yang lebih luas.
"Kami tidak hanya membina UMKM supaya survive. UMKM harus naik kelas, jangan kaleng-kaleng, harus bisa menembus ekspor. Salah satunya adalah Java Halu Coffee," ujar Junanto.
Menurutnya, penguatan ekspor menjadi penting karena merupakan salah satu mesin pertumbuhan ekonomi Jawa Barat. Pada triwulan II 2026, ekonomi Jawa Barat tumbuh 5,7 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,29 persen.
Junanto menilai potensi tersebut masih dapat diperbesar dengan memperkuat kinerja ekspor. Karena itu, BI juga mendorong terbentuknya ekosistem usaha yang melibatkan pemerintah daerah, pelaku usaha, petani, serta berbagai pemangku kepentingan.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan mengatakan kopi, teh, dan kakao merupakan komoditas strategis yang berpotensi besar mendorong perekonomian daerah. Pengembangannya harus dilakukan melalui inovasi, hilirisasi, penguatan merek, dan perluasan akses pasar.
"Jawa Barat harus terus tampil sebagai daerah yang tangguh, adaptif, dan inovatif di tengah dinamika ekonomi global," kata Erwan.
Dengan pasar yang terus diperluas, kopi Gunung Halu kini tidak sekadar menjadi komoditas perkebunan. Kopi tersebut menjadi representasi bagaimana produk lokal, ketika didukung petani, masyarakat, pemerintah, dan lembaga pendamping, dapat tumbuh menjadi produk Jawa Barat yang mampu bersaing di panggung global. (IGN)



Komentar