Botram Salembur Hidupkan Kembali Tradisi Warga Cijulang, Berpeluang Jadi Wisata Budaya
- Admin02

- 3 hari yang lalu
- 3 menit membaca

Ciamis (PRSSNIJabar) - Ribuan warga Desa Cijulang, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, menutup rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan cara yang sederhana sekaligus sarat makna: makan bersama di tengah hamparan sawah.
Tradisi yang dikenal sebagai Botram Salembur itu digelar di Jalan Usaha Tani Eretan, Desa Cijulang. Warga dari lima dusun, lembaga pendidikan, pondok pesantren, hingga komunitas lokal membawa makanan dari rumah masing-masing untuk disantap bersama di sepanjang jalur usaha tani yang membentang hampir tiga kilometer.
Lebih dari sekadar pesta makan, Botram Salembur dinilai menjadi gambaran kuat tentang modal sosial masyarakat desa yang masih menjaga tradisi kebersamaan dan gotong royong.
Sekretaris Daerah Kabupaten Ciamis, Andang Firman Triyadi, mengatakan tradisi tersebut penting dipertahankan karena mampu mempertemukan masyarakat dalam suasana yang cair tanpa sekat.
āIni sebuah perwujudan modal sosial yang ada di Desa Cijulang. Tradisi makan bersama yang sempat hilang kini ditumbuhkan kembali oleh warga. Mudah-mudahan ini menjadi wujud silaturahmi dan gotong royong,ā kata Andang, Rabu (19/8).
Menurut dia, suasana Botram Salembur menjadi semakin menarik karena warga menyajikan beragam kuliner lokal. Di antaranya pais ikan bebeong atau baung, ikan nilem, ikan tawes, pepes, semur jengkol, nasi dan berbagai jenis lalapan.
Andang juga menilai keberadaan kuliner khas tersebut dapat menjadi bagian dari daya tarik apabila tradisi Botram Salembur dikembangkan lebih jauh.
āRasanya gurih dan khas. Ini menjadi kekayaan yang dimiliki masyarakat Cijulang,ā ujarnya.
Kepala Desa Cijulang, Endang Hidayat, mengatakan Botram Salembur tahun ini merupakan pelaksanaan yang ketiga. Antusiasme warga, menurut dia, terus meningkat.
āAlhamdulillah, lebih dari seribu warga hadir. Mulai dari masyarakat lima dusun, pemerintah desa, PPD, Pondok Pesantren Miftahul Huda Usmania, hingga lembaga pendidikan TK Endrawasi dan RA Al-Amin, semuanya berkumpul,ā kata Endang.
Botram Salembur menjadi penutup rangkaian kegiatan HUT ke-81 RI di Desa Cijulang. Sebelumnya, masyarakat mengikuti berbagai kegiatan seperti jalan sehat, pertandingan sepak bola ibu-ibu hingga upacara peringatan 17 Agustus.
Warga pun tidak sekadar datang dan duduk bersama. Mereka membawa hidangan dari rumah untuk kemudian dinikmati secara bersama-sama. Didah Nur Diah, salah seorang warga, mengatakan suasana tersebut menjadi momen yang ditunggu masyarakat setelah rangkaian perayaan kemerdekaan.
āAlhamdulillah, masyarakat sangat antusias. Makanan dibawa dari rumah masing-masing, ada pais ikan bebeong, semur jengkol, nasi, lalapan hingga pepes. Harapannya, ke depan kegiatan ini bisa lebih meriah lagi,ā tuturnya.
Konsep botram di tengah sawah membuat warga dapat menikmati suasana pedesaan sekaligus mempererat hubungan antarmasyarakat. Tidak ada sekat antara warga, pemerintah desa, lembaga pendidikan maupun pesantren. Semuanya duduk dan menikmati makanan dalam satu ruang kebersamaan.
Potensi tersebut membuat Pemerintah Desa Cijulang mulai melihat Botram Salembur bukan hanya sebagai agenda tahunan, tetapi juga sebagai embrio wisata budaya dan kuliner lokal.
Andang mengatakan lokasi kegiatan yang berada di tengah hamparan sawah menjadi nilai tambah tersendiri.
āMudah-mudahan ke depan kegiatan ini bisa menjadi daya tarik wisata. Apalagi dilaksanakan di tengah sawah, sebagian sudah panen dan sebagian masih hijau. Ini sangat menarik,ā katanya.
Endang menambahkan, pemerintah desa juga telah mengusulkan pengembangan infrastruktur Jalan Usaha Tani hingga menuju kawasan Sungai Citanduy. Jika terealisasi, kawasan tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan potensi wisata lain, termasuk wisata air.
āJalan usaha tani ini kami harapkan bisa dikembangkan sampai ke pinggir Sungai Citanduy. Ke depan, kawasan itu juga berpotensi dikembangkan untuk kegiatan seperti arung jeram,ā ujarnya.
Botram Salembur akhirnya tidak hanya menjadi penutup perayaan kemerdekaan. Tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana budaya makan bersama dapat menjadi perekat sosial sekaligus membuka peluang baru bagi desa untuk mengembangkan potensi wisata berbasis tradisi, kuliner dan lanskap pedesaan.
Bagi masyarakat Cijulang, botram menjadi bentuk tasyakur bin niāmah sekaligus cara sederhana untuk merawat kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. (AST)



Komentar