Bio Farma Luncurkan Bio-TCV, Langkah Baru Menuju Kemandirian Vaksin Tifoid Nasional
- Admin02

- 19 Jul
- 2 menit membaca

Jakarta (PRSSNIJabar) - Bio Farma kembali menegaskan perannya dalam menjaga kedaulatan vaksin nasional. Perusahaan pelat merah ini resmi meluncurkan Bio-TCV, vaksin tifoid konjugat pertama yang diproduksi di dalam negeri.
Kehadiran Bio-TCV bukan hanya untuk memperluas perlindungan masyarakat dari demam tifoid. Lebih dari itu, peluncuran ini jadi bukti bahwa Indonesia sudah mampu menguasai teknologi, riset, hingga standar regulasi vaksin secara mandiri.
Direktur Komersial Bio Farma Fitri Puspadewi mengatakan, pengembangan Bio-TCV bertumpu pada empat prinsip, yaitu tersedia, mudah dijangkau, harganya terjangkau, dan bisa diterima masyarakat.
"Kami memastikan Bio-TCV tersedia secara berkelanjutan melalui penguatan kapasitas produksi nasional sebagai fondasi kemandirian vaksin Indonesia. Kami juga terus memperluas akses serta menghadirkan vaksin berkualitas dengan harga yang kompetitif agar semakin banyak masyarakat mendapatkan perlindungan dari tifoid," kata Fitri usai peluncuran Bio-TCV di Jakarta, Kamis (16/7) lalu.
Bio Farma juga menyiapkan kapasitas produksi agar pasokan aman. Ke depan, vaksin ini berpeluang masuk ke Program Imunisasi Nasional setelah dikaji pemerintah.
Sementara itu, dukungan datang dari regulator. Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menegaskan, mutu, keamanan, dan khasiat Bio-TCV sudah sesuai dengan standar internasional.
Ia menyebut status BPOM sebagai WHO Listed Authority menjadi bukti sistem regulasi vaksin Indonesia diakui dunia. Hal ini juga meningkatkan kepercayaan terhadap produk vaksin dalam negeri.
Namun vaksinasi saja tidak cukup. Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI Andi Saguni mengingatkan, bahwa perang melawan tifoid harus dilakukan menyeluruh.
"Pencegahan tifoid harus dilakukan secara komprehensif melalui perbaikan sanitasi, keamanan pangan, edukasi masyarakat, surveilans yang kuat, serta vaksinasi sesuai rekomendasi dan kebijakan yang berlaku," jelas Andi.
Diketahui, Bio-TCV sendiri punya perjalanan panjang. Pengembangan dimulai sejak 2013 lewat kerja sama riset dan alih teknologi. Vaksin ini sudah melewati uji praklinis serta uji klinis fase I, II, dan III dengan lebih dari 3.000 partisipan usia 6 bulan sampai 60 tahun. Izin edar dari BPOM baru dikantongi pada Agustus 2023.
Sebagai bagian dari ekosistem Danantara, Bio Farma kini juga menambah kapasitas fasilitas produksi berbasis teknologi konjugasi. Targetnya tidak hanya memenuhi kebutuhan nasional, tapi juga membuka pintu ekspor lewat proses WHO Prequalification dan registrasi di negara lain.
Dengan Bio-TCV, Indonesia selangkah lebih dekat pada kemandirian vaksin. Produksi di dalam negeri, untuk melindungi masyarakat Indonesia. (IGN)



Komentar