top of page

Bio Farma Dorong Peran Tenaga Kesehatan Percepat Eliminasi Kanker Serviks

  • Gambar penulis: Admin02
    Admin02
  • 22 Jul
  • 2 menit membaca



Bandung (PRSSNIJabar) – PT Bio Farma (Persero) memperkuat dukungannya terhadap program eliminasi kanker serviks di Indonesia dengan meningkatkan edukasi bagi tenaga kesehatan. Langkah tersebut diwujudkan melalui webinar nasional bertajuk Closing the Gap on HPV: Clinical Strategies and Stigma-Free Counseling for HPV Elimination in Indonesia yang digelar secara daring, Sabtu (18/7).


Kegiatan yang diikuti sekitar 500 dokter umum dan tenaga kesehatan dari berbagai daerah itu menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemahaman mengenai pencegahan infeksi Human Papillomavirus (HPV), memperluas cakupan vaksinasi, sekaligus menghapus stigma yang masih melekat terhadap vaksin HPV.


Webinar menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan RI dr. Indri Yogyaswari, Spesialis Obstetri dan Ginekologi dr. Tofan Widya Utami, Spesialis Dermatologi dan Venereologi dr. Wresti Indriatmi, serta Spesialis Anak dr. Hartono Gunardi.


Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan RI, dr. Indri Yogyaswari, mengatakan pemerintah telah menetapkan target ambisius melalui Rencana Aksi Nasional (RAN) Eliminasi Kanker Leher Rahim, yakni mencapai 90 persen cakupan imunisasi HPV, 75 persen skrining, dan 90 persen penanganan kanker serviks pada 2030.


"Capaian imunisasi HPV pada 2025 telah mencapai 90,9 persen. Ke depan, vaksinasi akan diperluas secara bertahap kepada anak laki-laki, dimulai di DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Bali pada 2026, kemudian berlanjut ke Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, hingga Jawa Timur," ujar dr. Indri.


Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan hanya memperluas layanan vaksinasi, tetapi juga meluruskan berbagai informasi keliru yang masih beredar di masyarakat.


"Masih banyak mitos, salah satunya anggapan bahwa vaksin HPV menyebabkan kemandulan. Karena itu, tenaga kesehatan menjadi ujung tombak untuk memberikan edukasi yang benar kepada masyarakat," katanya.


Sementara itu, Spesialis Obstetri dan Ginekologi dr. Tofan Widya Utami mengingatkan bahwa Indonesia masih menjadi negara dengan angka kejadian kanker serviks tertinggi di kawasan Asia Tenggara.


"Setiap sekitar 25 menit, satu perempuan Indonesia meninggal akibat kanker serviks. Padahal penyakit ini dapat dicegah melalui vaksinasi HPV yang diberikan kepada perempuan maupun laki-laki. Dengan hadirnya vaksin produksi dalam negeri, upaya pencegahan kini semakin kuat," ujar dr. Tofan.


Di sisi lain, Direktur Komersial Bio Farma, Fitri Puspadewi, menyampaikan Bio Farma telah menghadirkan vaksin HPV Nusagard serta alat deteksi dini HPV CerviScan sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah dalam menekan kasus kanker serviks.


"Vaksin HPV memberikan perlindungan terhadap tipe HPV yang dapat menyebabkan penyakit jinak maupun ganas, termasuk kanker serviks. Saat ini Bio Farma telah memiliki vaksin HPV yang diproduksi sepenuhnya di Indonesia dan telah memperoleh sertifikat halal," kata Fitri.


Ia menjelaskan, Nusagard memberikan perlindungan terhadap HPV tipe 6, 11, 16, dan 18. Dua tipe terakhir diketahui memiliki risiko tinggi memicu kanker serviks, sedangkan tipe 6 dan 11 berkaitan dengan penyakit lain akibat infeksi HPV.


Selain menyediakan vaksin, Bio Farma juga menghadirkan CerviScan untuk mendukung deteksi dini infeksi HPV. Kehadiran kedua produk tersebut diharapkan memperkuat upaya pencegahan sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang berkualitas.


Melalui edukasi kepada tenaga kesehatan, penyediaan produk dalam negeri, dan kolaborasi dengan pemerintah serta berbagai pemangku kepentingan, Bio Farma terus mendukung target eliminasi kanker serviks sekaligus memperkuat kemandirian industri kesehatan nasional. (IGN)

Komentar


© 2025 by PRSSNI Daerah Jawa Barat
prssnijabar@gmail.com |  Tel: 022-2038362

bottom of page