BI Jabar dan Pemkab Cianjur Perkuat Ketahanan Pangan Lewat Pengembangan Padi Organik
- Admin02

- 30 Jul
- 2 menit membaca

Cianjur (PRSSNIJabar) - Pertanian organik dinilai bukan lagi sekadar tren, melainkan menjadi kebutuhan strategis untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus membangun ekosistem pangan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Hal itu disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Junanto Herdiawan, saat menghadiri kegiatan Panen Padi Organik hasil kerja sama Pemerintah Kabupaten Cianjur dan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Kamis (30/7).
"Pertanian organik kini tidak lagi sekadar menjadi tren atau pilihan, melainkan kebutuhan strategis untuk memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus membangun ekosistem pangan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Penerapan budidaya padi organik juga menunjukkan hasil positif, dengan produktivitas meningkat dari sekitar 5ā6 ton per hektare menjadi 7,7ā8,3 ton per hektare," ujar Junanto.
Menurutnya, pengembangan pertanian organik menjadi semakin penting di tengah tantangan perubahan iklim, penurunan kualitas lahan, serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap konsumsi pangan yang sehat, aman, dan berkualitas.
Kabupaten Cianjur sendiri merupakan salah satu sentra produksi pangan utama di Jawa Barat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, Cianjur menempati peringkat keempat sebagai daerah penghasil padi terbesar di Jawa Barat.
Potensi tersebut dinilai perlu terus diperkuat melalui peningkatan produktivitas, kualitas hasil panen, serta penerapan budidaya yang ramah lingkungan.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pengendalian inflasi melalui pengembangan Klaster Pangan Strategis Terintegrasi (Pangsi), Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat bersama Pemerintah Kabupaten Cianjur mengembangkan pertanian padi organik melalui pelatihan bagi petani dan santri tani.
Program tersebut diimplementasikan pada 10 demplot yang tersebar di delapan kecamatan di Kabupaten Cianjur. Demplot berfungsi sebagai sarana pembelajaran sekaligus percontohan penerapan budidaya organik yang diharapkan dapat direplikasi di berbagai wilayah untuk meningkatkan produksi, menjaga pasokan, mendukung stabilitas harga, serta meningkatkan kesejahteraan petani.
Junanto menambahkan, pertanian organik tidak hanya berdampak positif terhadap kelestarian lingkungan dan kualitas lahan, tetapi juga membuka peluang peningkatan nilai tambah ekonomi melalui meningkatnya permintaan terhadap pangan sehat.
Menurutnya, peluang tersebut perlu didukung dengan pembangunan ekosistem yang terintegrasi, mulai dari proses budidaya, pengolahan pascapanen, standardisasi mutu, pengemasan, penguatan kelembagaan petani, hingga perluasan akses pasar sebagai bagian dari penguatan halal value chain.
Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat juga berkomitmen terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, akademisi, lembaga keuangan, kelompok tani, pondok pesantren, pelaku usaha, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya untuk membangun pertanian yang produktif, inklusif, ramah lingkungan, dan berdaya saing.
Sementara itu, Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian menegaskan panen padi organik menjadi bukti nyata hasil sinergi berbagai pihak dalam memperkuat sektor pertanian daerah.
"Kami juga mendorong generasi muda untuk semakin aktif mengambil peran dalam pembangunan pertanian sebagai sektor yang strategis, bernilai ekonomi, dan memiliki prospek yang menjanjikan. Dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan, kami optimistis Cianjur akan semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu daerah agraris unggulan yang memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi Jawa Barat," pungkasnya. (IGN)



Komentar