top of page

AAF 2026 Dorong Green Bandung Spirit, Perkuat Kolaborasi Hadapi Krisis Lingkungan

  • Gambar penulis: Admin02
    Admin02
  • 12 Jul
  • 2 menit membaca



Bandung (PRSSNIJabar) - Asia Africa Festival (AAF) 2026 tidak hanya menjadi panggung diplomasi budaya dan persahabatan antarbangsa. Festival yang dibuka di depan Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Sabtu (11/7/2026) kemarin, juga menjadi momentum menggaungkan komitmen baru Asia dan Afrika dalam menghadapi krisis lingkungan melalui semangat Green Bandung Spirit.


Mengusung tema "Unity in Diversity, Rising in Harmony", penyelenggaraan AAF 2026 mengajak negara-negara Asia dan Afrika memperluas makna Semangat Bandung yang selama ini dikenal sebagai simbol solidaritas dan perjuangan kemerdekaan, menjadi gerakan bersama untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.


Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Muhammad Jumhur Hidayat, mengatakan tantangan dunia saat ini telah berubah. Jika puluhan tahun lalu bangsa-bangsa Asia dan Afrika bersatu melawan kolonialisme, kini dunia dihadapkan pada ancaman perubahan iklim, pencemaran lingkungan, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga kerusakan ekosistem.


Karena itu, menurutnya, Semangat Bandung harus terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman.


"Sudah saatnya kita mentransformasikan Bandung Spirit menjadi Green Bandung Spirit, sebuah komitmen baru Asia dan Afrika untuk memperkuat solidaritas, inovasi, dan aksi bersama," ujarnya.


Ia menegaskan, harmoni bukan hanya tercipta melalui hubungan antarmanusia, tetapi juga melalui hubungan yang seimbang dengan alam. Untuk itu, pembangunan berkelanjutan harus dilaksanakan secara adil, inklusif, dan bertanggung jawab.


Lebih jauh, Jumhur mengajak seluruh elemen masyarakat membangun budaya ecological repentance atau pertobatan ekologis sebagai langkah mengubah pola pikir dan perilaku terhadap lingkungan.


Semangat tersebut sejalan dengan komitmen Pemerintah Kota Bandung dalam menjaga nilai-nilai Dasasila Bandung. Sekretaris Daerah Kota Bandung, Iskandar Zulkarnain, menyampaikan bahwa Bandung memiliki tanggung jawab moral untuk terus merawat warisan sejarah Konferensi Asia Afrika sebagai inspirasi kerja sama internasional.


Menurutnya, nilai-nilai saling menghormati, kesetaraan, dialog damai, dan kolaborasi yang lahir dari Kota Bandung tetap relevan dalam menjawab tantangan global saat ini.


"Sebagai kota kelahiran Dasasila Bandung, Pemerintah Kota Bandung tetap berkomitmen menjaga warisan tersebut melalui visi Bandung Utama, yakni membangun kota yang unggul, inklusif, amanah, maju, dan agamis," katanya.


Sementara itu, Presiden DILANS Indonesia, Farhan Helmy, melengkapi perspektif tersebut dengan menekankan pentingnya inklusivitas dalam setiap kebijakan pembangunan. Menurutnya, tantangan seperti perubahan iklim, aksesibilitas, kesehatan, kemiskinan perkotaan, hingga perkembangan teknologi tidak bisa dipisahkan satu sama lain.


Farhan menilai, solusi terhadap berbagai persoalan tersebut hanya dapat diwujudkan apabila seluruh kelompok masyarakat dilibatkan tanpa ada yang tertinggal.


"Keberagaman bukanlah kelemahan kita. Yang menjadi kelemahan adalah eksklusi," tegasnya.


Rangkaian pembukaan Asia Africa Festival 2026 kemudian dilanjutkan dengan Asia Africa Carnival yang menghadirkan parade delegasi negara-negara Asia dan Afrika, perwakilan kota kembar (Sister City), mahasiswa internasional, peserta dari berbagai daerah di Indonesia, serta komunitas seni dan budaya.


Parade yang melintasi Jalan Asia Afrika hingga Jalan Cikapundung Barat itu menjadi simbol bahwa Semangat Bandung terus hidup dan berkembang. Kini, bukan hanya sebagai warisan sejarah diplomasi dunia, tetapi juga sebagai ajakan membangun masa depan yang lebih hijau, inklusif, dan berkelanjutan melalui kolaborasi lintas negara. (IGN)

Komentar


© 2025 by PRSSNI Daerah Jawa Barat
prssnijabar@gmail.com |  Tel: 022-2038362

bottom of page