22 Kasus HIV Baru Ditemukan, Baru 27 Persen Jalani Pengobatan ARV


Banjar (PRSSNIJabar) - Penemuan kasus HIV di Kota Banjar masih menyisakan persoalan lain. Dari 22 kasus baru yang ditemukan sepanjang Semester I 2026, baru enam orang atau sekitar 27,3 persen yang tercatat mulai menjalani pengobatan Antiretroviral (ARV).
Artinya, sebagian besar kasus HIV baru yang ditemukan belum tercatat terhubung dengan pengobatan ARV. Kondisi tersebut menjadi perhatian Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Banjar, terutama karena pengobatan secara berkesinambungan menjadi bagian penting dalam penanganan HIV.
Sekretaris KPA Kota Banjar, Agus Mulyana, menyampaikan data tersebut dalam kegiatan sosialisasi dan edukasi HIV/AIDS bersama insan media di Kota Banjar, Senin (31/8/2026).
Menurut Agus, temuan 22 kasus tersebut merupakan hasil kompilasi dari sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan (faskes) yang aktif melakukan pemeriksaan HIV. Penemuan kasus tidak seluruhnya berasal dari masyarakat yang datang secara mandiri untuk menjalani pemeriksaan.
āPenemuan kasus tidak seluruhnya berasal dari masyarakat yang datang secara mandiri ke puskesmas. Beberapa juga terjaring melalui pelayanan kesehatan di masyarakat, termasuk skrining dan pemeriksaan dalam kegiatan donor darah,ā ujar Agus.
Berdasarkan pemetaan di masing-masing faskes, RSUD Banjar mencatat temuan kasus terbanyak dengan tujuh kasus. Namun, baru dua orang atau 28,6 persen yang tercatat memulai pengobatan ARV.
RS Banjar Patroman menemukan lima kasus, sedangkan RS Asih Husada mencatat tiga kasus. Di kedua rumah sakit tersebut, belum ada orang dengan HIV yang tercatat memulai pengobatan ARV.
Di tingkat puskesmas, Puskesmas Banjar 3 mencatat dua kasus tanpa ada yang tercatat menerima ARV. Sementara Puskesmas Pataruman 3 juga menemukan dua kasus, dengan satu orang atau 50 persen telah menerima pengobatan ARV.
Capaian keterhubungan dengan pengobatan ARV tertinggi tercatat di Puskesmas Langensari 2. Dari tiga kasus baru yang ditemukan, seluruhnya atau 100 persen telah mendapatkan pengobatan ARV.
Dari sisi gender, kasus baru tersebut didominasi laki-laki, yakni 18 orang, sedangkan empat lainnya perempuan. Sementara berdasarkan kelompok usia, sebanyak 17 kasus atau sekitar 77 persen berada pada kelompok usia produktif.
Dominasi kelompok usia produktif menjadi perhatian karena kelompok tersebut memiliki peran penting dalam kehidupan sosial sekaligus menopang aktivitas ekonomi daerah.
Di luar persoalan pengobatan, KPA Kota Banjar juga menyoroti stigma terhadap orang dengan HIV yang masih menjadi tantangan. Stigma dan informasi yang keliru dinilai dapat membuat masyarakat berisiko enggan memeriksakan diri.
āInformasi yang keliru dapat menimbulkan ketakutan dan diskriminasi. Ini dikhawatirkan membuat orang yang memiliki risiko enggan melakukan pemeriksaan karena takut mendapat stigma atau dikucilkan,ā kata Agus.
Karena itu, KPA mendorong perubahan cara pandang masyarakat melalui edukasi kesehatan yang benar. Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat diharapkan tidak ragu melakukan tes HIV, sementara mereka yang terdiagnosis dapat menjalani pengobatan ARV secara berkesinambungan. (LER)



Komentar