top of page

Wamenkes Dorong Tracing Kontak Erat Kasus TB, Target Turun 50 Persen pada 2029

Gambar penulis: Admin02
Admin02
23 Sep
2 menit membaca


Tasikmalaya (PRSSNIJabar) - Pemerintah memperkuat strategi penanggulangan tuberkulosis (TB) dengan menggeser fokus dari sekadar menemukan dan mengobati pasien menjadi memperluas deteksi dini serta pencegahan sejak tingkat keluarga.


Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P., FISR, mengatakan langkah tersebut penting karena masih terdapat kesenjangan antara perkiraan jumlah kasus TB dengan kasus yang telah ditemukan dan mendapat pengobatan.


Dari estimasi sekitar 1,09 juta kasus TB di Indonesia, sebanyak 867.000 kasus telah ditemukan dan mendapatkan pengobatan. Dengan demikian, masih terdapat hampir 300.000 kasus yang belum ditemukan. Angka tersebut merupakan estimasi kasus yang belum terdeteksi, bukan jumlah pasien yang telah dipastikan positif TB.


ā€œMasih ada sekitar 300.000 orang positif yang belum terdeteksi. Mereka ke mal, ke masjid, ke mana pun ketemu kita. Yang paling parah lagi, kontak erat enggak diperiksa. Sudah enggak diperiksa, otomatis enggak dapat obat pencegahan,ā€ ujar Benjamin saat kunjungan kerja di Kota Tasikmalaya, Selasa (22/9/2026).


Menurut Benjamin, penanganan TB tidak cukup hanya dengan mengobati pasien yang sudah terdiagnosis. Orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TB juga perlu diperiksa sehingga apabila terbukti terinfeksi dapat segera ditangani, sementara mereka yang berisiko dapat memperoleh terapi pencegahan sesuai ketentuan medis.


ā€œKalau cuma mengobatin orang sakit tanpa mencegah, angka kasus akan manteng atau naik terus,ā€ katanya.


Penguatan strategi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mengejar target penurunan kasus TB hingga 50 persen pada 2029. Benjamin menekankan pentingnya keterlibatan pemerintah daerah untuk memastikan pelacakan kontak erat berjalan hingga tingkat masyarakat.


ā€œKalau sakit langsung diobati, yang enggak sakit langsung dikasih obat pencegahan. Makanya X-ray dikirim ke puskesmas, obat-obatan pencegahan dikirim ke berbagai daerah,ā€ ujar Benjamin dalam kesempatan lain saat menjelaskan penguatan pencegahan TB.


Di Kota Tasikmalaya, pendekatan tersebut mulai diperkuat melalui tracing berbasis data hingga tingkat keluarga. Wamenkes bersama Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus meninjau kegiatan skrining TB terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kelurahan Siaga TB Cilembang, Kecamatan Cihideung, Selasa (22/9/2026).


Pemerintah Kota Tasikmalaya mendorong pelibatan kader dan Dasawisma dalam pendataan warga. Langkah ini diarahkan untuk memperkuat pemetaan serta penelusuran kontak erat di tingkat keluarga.


Selain penguatan tracing, pemerintah pusat juga mendorong pemerataan sarana pemeriksaan TB. Di Kota Tasikmalaya, pemeriksaan TB di 22 puskesmas direncanakan diperkuat melalui pemerataan alat dan metode pemeriksaan untuk mempercepat penemuan kasus.


Benjamin menegaskan, keberhasilan pengendalian TB membutuhkan perubahan pola kerja dari hulu hingga hilir. Pengobatan pasien tetap penting, tetapi pencegahan terhadap kontak erat menjadi bagian yang tidak kalah menentukan dalam memutus rantai penularan. (AST)

Komentar


© 2025 by PRSSNI Daerah Jawa Barat
prssnijabar@gmail.com |  Tel: 022-2038362

bottom of page