Tunanetra di Bandung Dobrak Stigma Lewat Setetes Darah


Bandung (PRSSNIJabar) - Setetes darah menjadi cara puluhan penyandang tunanetra di Bandung menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukan alasan untuk berhenti berbagi. Melalui aksi Donor Darah Disabilitas (Dordardis) untuk kelima kalinya, komunitas tunanetra The Blind Moms kembali mengajak masyarakat melihat penyandang disabilitas dari sisi yang berbeda.
Aksi bertajuk “Setetes Darah Sejuta Kasih Sayang” itu digelar di Studio Askara Indonesia, Kota Bandung, Sabtu (5/9) pekan lalu. Sekitar 60 peserta tunanetra dari berbagai wilayah Bandung ambil bagian dalam kegiatan yang digelar bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bandung, Askara Indonesia, Cinta Budaya Nusantara (CBN), serta sejumlah mitra sponsor, termasuk Atalia Collaboration.
Bagi The Blind Moms, donor darah bukan sekadar kegiatan sosial. Sejak pertama kali digelar pada 2021, kegiatan ini menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa penyandang disabilitas juga dapat berkontribusi dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Ketua Pelaksana Dordardis The Blind Moms, Nenden Shintawati, mengatakan kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana edukasi untuk mengubah pandangan masyarakat terhadap kelompok disabilitas.
“Kami ingin mengedukasi masyarakat bahwa kami, penyandang disabilitas tunanetra, bukan untuk dikasihani. Kami hadir untuk memberikan sesuatu yang berguna bagi masyarakat dan berbagi empati lewat setetes darah sejuta kasih sayang,” ucap Nenden.
Menurutnya, pelaksanaan kegiatan yang masih berada dalam suasana peringatan Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia itu memiliki makna tersendiri. Kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai bebas dari penjajahan, tetapi juga sebagai momentum untuk terbebas dari diskriminasi dan stigma terhadap penyandang disabilitas.
Ia berharap kegiatan yang selama ini dilaksanakan secara swadaya tersebut mendapat dukungan berkelanjutan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kota Bandung sehingga dapat berkembang menjadi agenda donor darah tahunan.
Semangat berbagi juga terlihat dari para peserta. Rahmat (31), penyandang tunanetra asal Ciamis yang kini menetap di Sukajadi, Kota Bandung, sengaja mengikuti kegiatan tersebut untuk membantu sesama sekaligus bersilaturahmi dengan teman-teman komunitas.
Alumni Pelatihan Panti Sosial Wyata Guna yang sehari-hari bekerja sebagai terapis pijat itu dinyatakan lolos pemeriksaan kesehatan oleh tim medis PMI.
“Awalnya saya ingin donor darah untuk membantu orang lain sekaligus silaturahmi dengan teman-teman. Alhamdulillah hasil screening lolos dan sehat. Semoga darah yang disumbangkan bisa bermanfaat dan membuat penerimanya sehat kembali,” kata Rahmat.
Hal serupa dilakukan Murti (51), warga Cihanjuang, Cimahi Utara. Ia bahkan menjaga pola makan dan istirahat sebelum pelaksanaan donor agar kadar hemoglobinnya memenuhi syarat.
“Biasanya Hb saya di bawah 12, tapi alhamdulillah tadi pas dites dapat 13 lebih sehingga bisa ikut donor. Senang sekali bisa bermanfaat untuk orang lain,” tuturnya.
Aksi tersebut mendapat apresiasi dari para mitra penyelenggara. Perwakilan Askara Indonesia, Anthony, menilai kepedulian para ibu tunanetra melalui donor darah menjadi pengingat penting bahwa penyandang disabilitas membutuhkan ruang dan kesempatan yang setara untuk berkontribusi.
“Ibu-ibu tunanetra ini bisa melakukan kegiatan kemanusiaan yang sangat mulia. Ini mengingatkan kita untuk terus membuka ruang dan kesempatan yang setara bagi teman-teman disabilitas,” kata Anthony.
Apresiasi juga disampaikan perwakilan Cinta Budaya Nusantara (CBN), Melok Besari. Menurutnya, kesediaan para tunanetra mendonorkan darah menjadi teladan bagi masyarakat luas.
“Kami sangat kagum. Mereka memiliki keterbatasan penglihatan, tetapi mampu melakukan aksi mulia bagi orang yang membutuhkan. Harapan kami, teman-teman disabilitas ke depan mendapatkan ruang dan hak yang makin layak di tengah masyarakat,” ucapnya. (GPWK)



Komentar