Tragedi Jembatan Pongpet, Kades Margacinta Minta Dibangun Permanen
- Admin02

- 9 jam yang lalu
- 2 menit membaca

Pangandaran (PRSSNIJabar) - Terlepasnya tali seling Jembatan Gantung Pongpet di Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Minggu (30/8/2026), tak hanya meninggalkan trauma bagi warga. Insiden tersebut juga kembali membuka persoalan penting tentang keberadaan jembatan yang selama puluhan tahun menjadi akses vital masyarakat.
Kepala Desa Margacinta, Enceng Anwar Solihin, merupakan salah satu saksi yang merasakan langsung detik-detik mencekam ketika jembatan mulai kehilangan keseimbangan. Saat kejadian, Enceng berjalan tepat di belakang Bupati Pangandaran Citra Pitriyami.
Ia menyadari ada yang berbeda dari kondisi jembatan ketika bentangan sepanjang sekitar 60 meter itu mulai bergoyang ke samping.
"Saya di belakang Ibu Bupati. Jembatan sudah goyang tidak seperti biasanya, goyangannya sudah ke samping. Saya sempat bilang ke Ibu, tapi pas Ibu selesai bicara, cepat sekali kejadiannya. Mata saya merem-melek saking paniknya," kata Enceng, Selasa (1/9/2026).
Ia dan warga lainnya kemudian berhasil menyelamatkan diri. Namun, kejadian tersebut meninggalkan trauma sekaligus kelelahan fisik.
"Semalam-malam badan saya jadi cangkeng dan pegal-pegal," tuturnya.
Di tengah sorotan mengenai banyaknya warga yang berada di atas jembatan saat kejadian, Enceng menjelaskan bahwa kehadiran masyarakat tidak sepenuhnya direncanakan. Pemerintah desa sebelumnya hanya mengundang unsur RT, RW, dan kepala dusun untuk menghadiri kegiatan peresmian bersama Bupati Pangandaran dan Dandim.
Namun, antusiasme warga justru membesar. Mereka datang karena ingin menyaksikan langsung peresmian jembatan yang selama ini dinantikan sebagai akses penyeberangan yang lebih layak.
"Kami sedang bahagia-bahagianya mau peresmian sama Ibu Bupati dan Pak Dandim. Tapi nasib Margacinta harus dihadapkan pada tragedi yang tidak diharapkan sebelumnya," ujar Enceng.
Bagi warga Margacinta, Jembatan Pongpet bukan sekadar sarana penyeberangan. Jembatan yang telah berdiri sejak 1992 itu menjadi penghubung utama Dusun Margajaya dan Dusun Cidawung, sekaligus akses strategis antardesa hingga antarkecamatan, termasuk jalur Cigugur-Cijulang.
Setiap hari, jembatan tersebut digunakan berbagai kalangan, mulai dari anak-anak sekolah hingga warga yang membawa hasil kebun. Fungsinya juga semakin penting dalam kondisi darurat, terutama untuk membawa pasien yang membutuhkan rujukan ke RSUD Pandega Pangandaran.
Jika akses Jembatan Pongpet terputus, warga harus menempuh jalur memutar hingga belasan kilometer dengan melewati empat sampai lima desa lain.
Karena itu, tragedi tersebut dinilai menjadi momentum untuk mengevaluasi keberadaan Jembatan Pongpet secara menyeluruh. Enceng berharap penanganan tidak berhenti pada perbaikan tali seling, tetapi diarahkan pada pembangunan jembatan yang lebih kuat dan representatif.
"Jembatan Pongpet ini yang terpanjang, tertinggi, dan tersibuk. Saya mohon kepada pihak yang punya kebijakan untuk berpikir lebih jauh, bangunlah jembatan ini menjadi jembatan representatif atau permanen demi keselamatan warga kami," tegasnya. (AST)



Komentar