Sertifikat Halal Jadi Tiket UMKM Naik Kelas
- Admin02

- 25 Mei
- 1 menit membaca

Kabupaten Garut (PRSSNIJabar) - Sertifikat halal bukan lagi sekadar stempel keagamaan. Bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), dokumen ini kini jadi kunci buka pintu pasar domestik hingga ekspor. Tanpa itu, produk lokal berisiko tergilas barang impor yang sudah berlabel halal.
Peringatan itu disampaikan Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Haikal Hassan alias Babe Haikal, usai sosialisasi sertifikasi halal untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Pendopo Garut, Senin (25/5/2026).
āKalau UMKM kita tidak peduli sertifikasi halal, bisa-bisa kalah saing dengan produk luar seperti Cina, Korea, Jepang yang sudah pakai label halal. Psikologi masyarakat kita untuk pilih produk halal sangat tinggi. Apalagi Garut ini kota santri,ā tegas Haikal.
Kepada reporter Jabar Now, Haikal menilai sertifikat halal langsung mendongkrak daya saing. Konsumen kini lebih percaya pada produk yang jelas status kehalalannya. Sementara itu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga mewajibkan mitra SPPG punya tiga sertifikat, yaitu laik higiene sanitasi, sertifikat gizi bermutu, dan sertifikat halal.
āNah ini kami kumpulkan 100 SPPG di Garut untuk menyuarakan sertifikat halal ini, terutama bagi mitra UMKM mereka,ā kata Haikal.
Haikal juga mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut yang serius mendorong UMKM urus sertifikat halal. Bahkan juru sembelih di daerah itu sudah bersertifikat.
āKeren ini Pak Bupati. Makanya kami dorong terus,ā tegasnya.
Sementara itu, Bupati Garut Abdusy Syakur Amin membenarkan dampaknya. Omzet UMKM yang sudah bersertifikat halal naik signifikan dan berkontribusi pada perputaran ekonomi hingga Rp4.900 triliun. Ia mengakui keterlibatan UMKM dalam rantai pasok SPPG program MBG masih perlu diperkuat.
āMemang masih ada beberapa hal yang harus dikoordinasikan. Tapi kami kira ini sudah berjalan baik, hanya perlu ditingkatkan saja,ā pungkas Syakur. (SLT)



Komentar