top of page

RSUD dr. Slamet Garut Overload, DPRD Soroti Keterbatasan Tempat Tidur

Gambar penulis: Admin03
Admin03
29 Sep
2 menit membaca

Garut (PRSSNIJabar) - Lonjakan pasien di RSUD dr. Slamet Garut mulai mengkhawatirkan. Rumah sakit rujukan utama di Kabupaten Garut itu kini menghadapi kondisi overload, terutama di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD).


Kapasitas ideal IGD yang hanya 47 tempat tidur, kini harus melayani lebih dari 90 pasien.


Kondisi tersebut menjadi perhatian Komisi IV DPRD Kabupaten Garut yang melakukan rapat koordinasi dengan manajemen RSUD dr. Slamet, Senin (28/9/2026).


Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Garut, Asep Rahmat mengatakan, tingginya jumlah pasien membuat kapasitas pelayanan tidak sebanding dengan fasilitas yang tersedia.


"Kapasitas yang dimiliki memang terbatas. Misalnya di UGD kapasitasnya 47 tempat tidur, namun kenyataannya pasien mencapai 90-an orang. Otomatis dampaknya ada ketidaknyamanan bagi pasien," ujar Asep.


Menurutnya, persoalan utama yang harus segera ditangani adalah keterbatasan sarana dan prasarana. DPRD pun akan mengawal perencanaan penambahan fasilitas rawat inap agar kualitas pelayanan kepada masyarakat tetap terjaga.


Sementara itu, Direktur RSUD dr. Slamet Garut, dr. Inge Andriani Heriawan, M.Si., MKM., menyebut lonjakan pasien tidak hanya terjadi di rumah sakit, tetapi juga hampir di seluruh puskesmas dan rumah sakit di Kabupaten Garut.


Saat ini, kapasitas RSUD dr. Slamet sesuai izin operasional mencapai 383 tempat tidur. Penambahan ruang rawat inap tidak bisa dilakukan secara cepat karena harus memenuhi ketentuan izin serta kelengkapan sarana dan prasarana.


Karena itu, manajemen memilih mempercepat perputaran pasien atau bed turnover agar pelayanan tetap berjalan dan tidak sampai menolak pasien.


"Kami berusaha keras tidak menolak pasien. Karena menambah ruangan tidak bisa serta-merta sebab harus memenuhi izin operasional dan kelengkapan sarana, maka fokus kami saat ini adalah mempercepat perputaran pasien," kata Inge.


Untuk mengatasi kepadatan, manajemen menyiapkan tiga langkah. Pertama, menyediakan ruang transisi untuk observasi dan terapi awal sebelum pasien masuk ruang rawat inap.


Kedua, mempercepat visite dokter pada pagi hari sehingga pasien yang sudah dinyatakan pulih dapat segera menyelesaikan proses administrasi kepulangan.


Ketiga, menyediakan ruang transit bagi pasien yang sudah diperbolehkan pulang tetapi masih menunggu obat atau jemputan keluarga.


Dengan pola tersebut, tempat tidur yang sudah kosong dapat segera disterilkan dan digunakan pasien berikutnya.


Anggota Komisi IV DPRD Garut, Yudha Puja Turnawan, menyoroti masih lebarnya kesenjangan kebutuhan tempat tidur rumah sakit di Kabupaten Garut.


Menurut Yudha, kebutuhan ideal tempat tidur rumah sakit di Garut mencapai sekitar 2.900 unit. Sementara RSUD dr. Slamet saat ini baru memiliki 383 tempat tidur.


Rencananya, RSUD dr. Slamet akan mendapat tambahan bantuan 80 tempat tidur dari Kementerian Kesehatan sehingga kapasitasnya menjadi 463 unit. Namun, jumlah tersebut masih jauh dari kebutuhan ideal.


Yudha mendorong Pemkab Garut melakukan intervensi melalui APBD maupun pemanfaatan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).


Selain penambahan tempat tidur, Yudha juga mendorong pengadaan fasilitas Catheterization Laboratory (Cath Lab) untuk menangani pasien serangan jantung, termasuk tindakan pemasangan ring.


"Banyak pasien serangan jantung dari Garut yang harus dirujuk ke Bandung karena di sini belum ada fasilitas pemasangan ring jantung. Jika kita punya Cath Lab, pendapatan RS akan meningkat dan rujukan keluar daerah bisa diminimalkan," ujar Yudha.


Di sisi lain, manajemen RSUD dr. Slamet juga menyiapkan peningkatan kualitas pelayanan melalui pelatihan Service Excellent bagi tenaga kesehatan dan staf rumah sakit.


Program tersebut diarahkan untuk membangun pelayanan yang lebih ramah, komunikatif dan mengedepankan empati, terutama di tengah tingginya jumlah pasien.

DPRD Garut juga mendorong masyarakat memberikan masukan kepada manajemen rumah sakit sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas pelayanan secara berkelanjutan. (SLT)

Komentar


© 2025 by PRSSNI Daerah Jawa Barat
prssnijabar@gmail.com |  Tel: 022-2038362

bottom of page