top of page

PKBSI Nilai Pengelolaan Taman Satwa Cikembulan Garut Sudah Penuhi Standar Konservasi

  • Gambar penulis: Admin03
    Admin03
  • 14 Jul
  • 2 menit membaca


Bandung (PRSSNIJabar) - Perkumpulan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI) menilai pengelolaan Lembaga Konservasi (LK) Taman Satwa Cikembulan di Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, telah berjalan dengan baik dan memenuhi standar lembaga konservasi.


Penilaian tersebut disampaikan usai tim PKBSI melakukan kunjungan pembinaan ke Taman Satwa Cikembulan, Sabtu (11/7/2026).


Kunjungan dipimpin Kabid Organisasi, Hukum, dan Keanggotaan PKBSI, Prof. Dr. Gono Semiadi, didampingi drh. Endah Rumiyati selaku Koordinator Wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, serta drh. Wisnu Wardana dari Bidang Etika dan Kesejahteraan Satwa.


Prof. Gono mengungkapkan, hasil evaluasi menunjukkan sejumlah aspek pengelolaan Taman Satwa Cikembulan telah sesuai dengan ketentuan lembaga konservasi. Salah satu poin yang mendapat apresiasi adalah keberadaan dokter hewan tetap yang menangani kesehatan satwa setiap hari.


Menurutnya, keberadaan dokter hewan menjadi faktor penting untuk memastikan kondisi kesehatan satwa, mengatur kebutuhan nutrisi, hingga menjaga keberlangsungan program konservasi.


"Yang sangat kami apresiasi, Taman Satwa Cikembulan sudah memiliki dokter hewan sendiri. Masih banyak lembaga konservasi lain yang hanya melibatkan dokter hewan saat kondisi darurat," kata Gono.


Tak hanya itu, PKBSI juga memberikan apresiasi terhadap program pelepasliaran satwa ke habitat alaminya. Program tersebut dinilai memiliki nilai tinggi karena menjadi salah satu indikator penting dalam pemenuhan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 22 Tahun 2019 tentang Lembaga Konservasi.


"Itu nilainya sangat tinggi. Kami sangat mengapresiasi program tersebut," ujarnya.


Sementara itu, Ketua Bidang Etika dan Kesejahteraan Satwa PKBSI, drh. Wisnu Wardana, menegaskan setiap lembaga konservasi wajib menerapkan lima prinsip dasar kesejahteraan satwa.


Kelima prinsip tersebut meliputi bebas dari rasa lapar dan haus, bebas dari ketidaknyamanan lingkungan, bebas dari rasa sakit, cedera, dan penyakit, bebas dari rasa takut serta stres, serta bebas mengekspresikan perilaku alaminya.


"Kalau lima prinsip itu diterapkan dengan baik, satwa akan hidup lebih sejahtera. Pengunjung pun akan merasa nyaman melihat satwa yang sehat dan berperilaku alami, bukan satwa yang tampak stres," tutur Wisnu.


Di sisi lain, Manajer Operasional Taman Satwa Cikembulan, Rudy Aripin, mengatakan pihaknya telah menjadi anggota PKBSI sejak awal berdiri. Karena itu, kunjungan kali ini lebih difokuskan pada evaluasi, pembinaan, serta diskusi mengenai pengembangan program konservasi.


Menurut Rudy, PKBSI juga memberikan sejumlah masukan, mulai dari pembaruan data satwa, penyempurnaan nama ilmiah, hingga peluang pengembangan berbagai program konservasi agar pengelolaan Taman Satwa Cikembulan semakin baik.


"PKBSI secara rutin memantau perkembangan anggotanya melalui laporan maupun media sosial. Hasil kunjungan ini akan menjadi dasar tindak lanjut berbagai program untuk mendukung keberlangsungan Taman Satwa Cikembulan ke depan," pungkas Rudy. (ST)

Komentar


© 2025 by PRSSNI Daerah Jawa Barat
prssnijabar@gmail.com |  Tel: 022-2038362

bottom of page