PHBS Warga Sukamanah Masih Rendah, Puskesmas Cigeureung Gencarkan Edukasi dan Penyuluhan
- Admin03

- 1 Jul
- 2 menit membaca

Tasikmalaya (PRSSNIJabar) - Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Kelurahan Sukamanah, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, ternyata masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Kesadaran masyarakat untuk menjalankan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari dinilai masih rendah.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius jajaran Promosi Kesehatan (Promkes) Puskesmas Cigeureung yang terus menggencarkan edukasi dan penyuluhan kepada masyarakat.
Tenaga Promosi Kesehatan Puskesmas Cigeureung, Heni Herawati, SKM, mengatakan, masih banyak warga yang belum menerapkan kebiasaan hidup sehat, padahal PHBS merupakan benteng utama dalam mencegah berbagai penyakit, terutama yang berkaitan dengan kebersihan lingkungan.
"PHBS itu sebenarnya hal-hal sederhana, seperti rutin beraktivitas fisik, mencuci tangan menggunakan sabun, tidak merokok, mengonsumsi buah dan sayur, serta memeriksakan kesehatan secara berkala, termasuk gula darah dan tekanan darah," kata Heni. Selasa (30/6/2027)
Namun, fakta di lapangan menunjukkan masih banyak kebiasaan yang bertolak belakang dengan prinsip PHBS. Salah satunya kebiasaan merokok di lingkungan kerja maupun di dalam rumah serta rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
"Masih banyak masyarakat yang belum menerapkan pola hidup sehat, termasuk merokok di lingkungan kerja dan kurang menjaga kebersihan lingkungan," ujarnya.
Menurut Heni, kondisi tersebut berdampak langsung terhadap meningkatnya risiko penyakit di masyarakat. Salah satu yang cukup sering terjadi adalah diare yang dipicu buruknya kualitas air dan sanitasi lingkungan yang belum memadai.
Ia mengungkapkan, persoalan sanitasi masih menjadi tantangan di Kelurahan Sukamanah. Bahkan, masih ditemukan praktik buang air besar sembarangan (BABS) yang berpotensi mencemari sumber air bersih warga.
"Ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan pencemaran air dan memicu penyebaran penyakit. Apalagi saat musim kemarau ketika debit air menurun, kualitas air bisa semakin buruk," katanya.
Kondisi tersebut, lanjut Heni, juga meningkatkan risiko infeksi bakteri berbahaya seperti Escherichia coli (E. coli) yang kerap menjadi penyebab gangguan pencernaan, termasuk diare.
Selain penyakit berbasis lingkungan, masyarakat juga diminta mewaspadai potensi penyebaran chikungunya. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk itu berpotensi berkembang di lingkungan yang banyak terdapat genangan air.
Menurut Heni, wilayah Sukamanah sempat menjadi lokasi penyuluhan terkait pencegahan chikungunya mengingat adanya potensi penyebaran penyakit tersebut.
"Pencegahannya bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan, menghindari genangan air, serta memanfaatkan tanaman pengusir nyamuk seperti sereh. Langkahnya sederhana, tetapi cukup efektif," ungkapnya.
Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, Puskesmas Cigeureung terus melakukan berbagai kegiatan edukasi dan sosialisasi secara langsung, baik di lingkungan permukiman, fasilitas umum hingga tempat ibadah seperti masjid.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat sehingga pesan-pesan kesehatan tidak hanya dipahami, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Heni menegaskan, keberhasilan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah dan tenaga kesehatan semata. Dibutuhkan kolaborasi dan kesadaran bersama, mulai dari penerapan PHBS, perbaikan sanitasi hingga pengendalian penyakit berbasis lingkungan.
"Perubahan itu harus dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat. Kalau masyarakat sadar dan mau bergerak bersama, maka berbagai permasalahan kesehatan bisa ditekan," pungkasnya.
Melalui upaya yang dilakukan secara berkelanjutan, Kelurahan Sukamanah diharapkan dapat menjadi lingkungan yang lebih sehat, bersih dan terbebas dari berbagai penyakit yang sesungguhnya dapat dicegah melalui penerapan PHBS secara konsisten. (AST)



Komentar