Pesta Patok Meriahkan HUT Tasikmalaya, Domba Juara Bisa Laku hingga Ratusan Juta Rupiah
- Admin03

- 28 Jun
- 2 menit membaca

Tasikmalaya (PRSSNIJabar) - Lapangan Upacara Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (27/6/2026), mendadak berubah wajah. Bukan lagi sekadar tempat apel dan seremoni, melainkan menjadi arena kontes paling bergengsi bagi para peternak domba dan kambing.
Ratusan ternak terbaik tampil di atas catwalk. Bulu disisir rapi, tanduk dipoles mengkilap, dan postur tubuh diperlihatkan dengan penuh kebanggaan. Semua berkumpul dalam gelaran Pesta Patok, yang menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi Kabupaten Tasikmalaya ke-394 dan HUT Bhayangkara ke-80.
Antusiasme peternak tahun ini terbilang luar biasa. Panitia mencatat sebanyak 473 ekor domba dan kambing mendaftar secara daring. Saat pelaksanaan, masih ada tambahan peserta melalui pendaftaran langsung, yakni 313 ekor domba dan 23 ekor kambing dari berbagai pelosok Kabupaten Tasikmalaya.
Ketua Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) Kabupaten Tasikmalaya, Asep Yudha Adikara, mengatakan Pesta Patok bukan sekadar ajang adu penampilan ternak.
"HPDKI menggelar acara ini bersama Pemkab Tasikmalaya dan Polres Tasikmalaya sebagai rangkaian Hari Jadi Tasikmalaya ke-394 dan HUT Polri ke-80. Tujuannya meningkatkan budaya beternak, populasi ternak, serta kesejahteraan para peternak," kata Asep di lokasi kegiatan.
Menurutnya, peternakan domba dan kambing di Tasikmalaya berkembang dalam dua jalur, yakni ternak konsumsi dan ternak yang berkaitan dengan seni budaya, termasuk kontes ternak dan seni ketangkasan domba.
Tak hanya soal prestise, Pesta Patok juga berdampak langsung pada nilai ekonomi. Seekor domba atau kambing yang berhasil menjadi juara kontes, harganya bisa melonjak berkali-kali lipat.
"Kalau juara, harga jualnya bisa sangat tinggi. Tetapi yang lebih penting, para peternak bisa saling belajar dan bertukar pengetahuan mengenai cara merawat ternak dengan baik," ujarnya.
Hal senada diungkapkan Abah Yana, peternak asal Kecamatan Cipatujah yang rutin mengikuti berbagai kontes ternak.
"Saya selalu ikut kontes. Dampaknya, harga domba maupun kambing milik saya jadi naik. Kalau juara, nilainya bisa puluhan sampai ratusan juta rupiah per ekor. Karena yang dibeli bukan hanya dombanya, tetapi kepuasan memiliki domba juara," katanya.
Dengan logat Sunda yang kental, Abah Yana menambahkan, "Peternaknya dihargaan, dombana aya hargaan lamun kontes teh."
Dalam Pesta Patok kali ini, panitia melombakan tujuh kategori, di antaranya Raja Kasep untuk domba jantan terbaik, Ratu Bibit bagi indukan unggul, Kambing Ekstrim, Raja Pedaging Campuran Ekstrim, hingga Raja Petet. Penilaian dilakukan oleh dewan juri dari HPDKI Jawa Barat dan Universitas Padjadjaran.
Wakapolres Tasikmalaya, Kompol Asep Muslihat, yang hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan komitmen kepolisian dalam mendukung keamanan sektor peternakan, termasuk mencegah tindak pencurian ternak.
"Angka 80 menjadi tantangan bagi kami untuk terus mengabdi, mengayomi, dan melindungi masyarakat. Kami akan meminimalisir pencurian ternak, karena itu juga bagian dari tugas kami," tegasnya.
Sementara itu, Bupati Tasikmalaya, Cecep Nurul Yakin, mengaku tercengang melihat potensi peternakan di daerah yang dipimpinnya.
"Selain dianugerahi alam yang luas, Kabupaten Tasikmalaya juga memiliki sumber daya manusia dan komoditas yang melimpah, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan hingga pariwisata budaya. Yang membuat saya tercengang, populasi domba di Kabupaten Tasikmalaya mencapai 164 ribu ekor," katanya.
Menurut Cecep, Pesta Patok memiliki nilai strategis karena tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas peternak dan kesejahteraan masyarakat.
"Bahkan kegiatan ini juga mengandung nilai religi, karena domba dan kambing yang dipelihara masyarakat turut memenuhi kebutuhan hewan kurban dan aqiqah," ujarnya
Para pemenang Pesta Patok berhak membawa pulang trofi dan uang pembinaan. Namun lebih dari itu, ajang tersebut menjadi bukti bahwa beternak domba dan kambing bukan lagi sekadar pekerjaan turun-temurun, melainkan sektor ekonomi dan budaya yang mampu mengangkat harkat peternaknya hingga ke panggung prestasi. (AST)



Komentar