top of page

Mobilitas Bandung Raya Makin Padat, KAI Dorong Transportasi Massal Ikuti Pertumbuhan Kawasan

Gambar penulis: Admin02
Admin02
7 Agu
2 menit membaca


Bandung (PRSSNIJabar) - Pertumbuhan aktivitas masyarakat di Bandung Raya turut mendorong peningkatan penggunaan transportasi massal. Kondisi tersebut tercermin dari jumlah pelanggan KA lokal Bandung Raya yang sepanjang Januari–Juli 2026 mencapai 11.872.273 pelanggan.


Jumlah itu tumbuh 8,55 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencatat 10.936.955 pelanggan. Dalam tiga tahun terakhir, peningkatannya bahkan mencapai 38,13 persen dibandingkan Januari–Juli 2023 yang berada di angka 8.595.185 pelanggan.


Bagi PT Kereta Api Indonesia (Persero), pertumbuhan tersebut tidak semata-mata menunjukkan peningkatan jumlah penumpang. Lebih dari itu, tren perjalanan masyarakat menjadi gambaran bahwa transportasi massal semakin dibutuhkan untuk menopang aktivitas kawasan perkotaan dan wilayah penyangga di sekitarnya.


Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, perkembangan mobilitas masyarakat perlu dibaca sebagai bagian dari pertumbuhan kawasan secara keseluruhan.


“Ketika aktivitas ekonomi, pendidikan, pekerjaan, dan kegiatan masyarakat berkembang, kebutuhan mobilitas juga ikut meningkat. Transportasi publik harus mampu mengikuti perubahan tersebut, sehingga masyarakat memiliki pilihan perjalanan yang aman, nyaman, dan efisien,” ujar Anne dalam siaran persnya, Jumat (7/8).


Tren tersebut terlihat konsisten dalam catatan tahunan. Jumlah pelanggan KA lokal Bandung Raya meningkat dari 14.720.252 pelanggan pada 2023 menjadi 16.159.458 pelanggan pada 2024. Pada 2025, jumlahnya kembali bertambah menjadi 18.727.224 pelanggan.


Sepanjang Januari–Juli 2026, jumlah pelanggan bulanan juga relatif tinggi, berada pada kisaran 1,45 juta hingga 1,84 juta pelanggan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kereta api telah menjadi bagian dari pola perjalanan masyarakat Bandung Raya dengan kebutuhan yang berlangsung secara konsisten.


Menurut Anne, pertumbuhan pengguna perlu diikuti dengan pengembangan kapasitas yang tidak hanya berorientasi pada penambahan perjalanan kereta api. Infrastruktur pendukung juga perlu disiapkan agar sistem transportasi dapat berkembang secara berkesinambungan.


Penguatan tersebut dapat mencakup kapasitas jalur, persinyalan, stasiun, akses menuju stasiun, kesiapan armada hingga teknologi perkeretaapian, termasuk peluang elektrifikasi pada lintas yang memenuhi kebutuhan dan persyaratan teknis.


“Setiap kawasan memiliki karakter yang berbeda. Karena itu, pengembangan transportasi tidak bisa menggunakan pendekatan yang sama untuk semua wilayah. Data perjalanan, pertumbuhan kawasan, pola mobilitas, kondisi infrastruktur, hingga potensi pengembangan ke depan perlu menjadi dasar dalam menentukan prioritas,” jelas Anne.


Pendekatan tersebut juga relevan dengan agenda pengembangan jaringan perkeretaapian nasional. Pemerintah mendorong perluasan konektivitas perkeretaapian di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Pengembangan jaringan di luar Jawa diharapkan dapat memperkuat konektivitas sekaligus mendukung pergerakan orang dan barang.


KAI menilai pembangunan jaringan tersebut perlu disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan masing-masing wilayah. Ada kawasan yang memiliki potensi perjalanan penumpang tinggi, sementara wilayah lain lebih membutuhkan dukungan transportasi untuk kegiatan logistik. Tidak tertutup pula kemungkinan pengembangan jaringan yang melayani kedua kebutuhan tersebut secara bersamaan.


Dalam konteks tersebut, KAI juga terlibat dalam penjajakan pengembangan perkeretaapian di Papua. Pada April 2026, Pemerintah Provinsi Papua bersama KAI menyiapkan survei awal untuk melihat potensi rute dan kondisi lapangan. Kajian menjadi tahap penting untuk memastikan rencana pengembangan infrastruktur benar-benar sesuai dengan karakter wilayah dan kebutuhan masyarakat.


Anne menegaskan, keberhasilan pembangunan transportasi pada akhirnya tidak hanya diukur dari panjang jaringan atau besarnya investasi, tetapi dari manfaat yang diterima masyarakat.


“Transportasi massal harus tumbuh bersama kawasan. Ketika kebutuhan perjalanan meningkat, kita perlu memastikan kapasitas dan infrastrukturnya dapat mengimbanginya. Dengan perencanaan berbasis data dan kebutuhan wilayah, investasi transportasi diharapkan memberikan manfaat yang lebih besar dan berkelanjutan bagi masyarakat,” pungkasnya. (IGN)

Komentar


© 2025 by PRSSNI Daerah Jawa Barat
prssnijabar@gmail.com |  Tel: 022-2038362

bottom of page