Mas Tomo Berpulang, Tinggalkan Warisan Besar bagi Dunia Radio dan Demokrasi


Yogyakarta (PRSSNIJabar) - Dunia penyiaran Indonesia kehilangan salah satu tokoh pentingnya. dr. H. KRMT Sutomo Parastho Kusumo atau KPH Kusumo Parasto, sosok yang selama puluhan tahun mengabdikan diri pada dunia radio, pers, dan organisasi penyiaran, meninggal dunia pada Senin (14/9/2026) pukul 11.10 WIB.
Kepergian tokoh yang akrab disapa Mas Tomo itu meninggalkan duka bagi keluarga besar Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI), Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID), serta para praktisi media di berbagai daerah.
Jenazah saat ini disemayamkan di rumah duka di Jalan Gondosuli, Gang Lembayung GK IV/173, Baciro, Yogyakarta. Prosesi pemakaman dijadwalkan berlangsung Selasa (15/9/2026) pukul 09.00 WIB di Pasareyan Masjid Sonyoragi, Baciro, Yogyakarta.
Namun, kepergian Mas Tomo tak sekadar meninggalkan kabar duka. Puluhan tahun kiprahnya menyisakan gagasan tentang bagaimana radio dan media seharusnya mengambil peran di tengah kehidupan masyarakat dan demokrasi.
Lahir sebagai seorang dokter, perjalanan pengabdiannya justru membawa Mas Tomo jauh dari ruang praktik medis. Setelah meraih gelar dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1975, ia hanya menjalani praktik medis selama sekitar dua minggu.
Selebihnya, waktunya lebih banyak dicurahkan untuk organisasi, dunia kemahasiswaan, pers, dan penyiaran.
Jauh sebelum menyelesaikan pendidikan kedokterannya, Mas Tomo telah terlibat dalam dunia radio. Pada 1966, ia ikut mendirikan Radio Arma Sebelas Yogyakarta. Kiprahnya di dunia kemahasiswaan juga menonjol ketika dipercaya menjadi Ketua Dewan Mahasiswa UGM periode 1968ā1970.
Pengabdiannya kemudian meluas ke dunia pers. Sejak 1972 hingga 1988, ia dipercaya sebagai Pemimpin Umum sekaligus Pemimpin Redaksi Tabloid Eksponen. Di organisasi penyiaran, ia juga aktif di Pengurus Pusat PRSSNI pada 1978ā1989.
Perjalanan panjang tersebut berlanjut ketika Mas Tomo dipercaya memimpin Himpunan Praktisi Penyiaran Indonesia (HPPI) sebagai Ketua Umum periode 1999ā2003. Dari posisi itu, kiprahnya kemudian berlanjut ke Dewan Pers sebagai anggota periode 2003ā2006.
Bagi Ketua KPID Daerah Istimewa Yogyakarta, Hazwan Iskandar Jaya, Mas Tomo bukan sekadar praktisi media. Ia merupakan sosok yang meyakini bahwa media memiliki tanggung jawab besar dalam mencerdaskan masyarakat sekaligus menjaga kehidupan demokrasi.
"Sosok dari Angkatan '66 ini sepanjang hidupnya memberikan perhatian dan pengabdian pada dunia media, baik media cetak maupun radio. Saya mengenal beliau sebagai pribadi yang berdedikasi, berintegritas, profesional, berkomitmen, dan konsisten," ujar Hazwan.
Menurut Hazwan, pemikiran Mas Tomo menempatkan media bukan hanya sebagai industri atau pekerjaan. Media, kata dia, merupakan ruang untuk menyampaikan gagasan, mencerdaskan masyarakat, dan ikut menjaga demokrasi.
"Pak KPH Kusumo Parasto atau Dr. Sutomo Parastho adalah generasi yang memahami bahwa kebebasan media selalu berjalan beriringan dengan tanggung jawab. Demokrasi membutuhkan media yang berani tetapi tetap berintegritas, kritis tetapi tetap profesional, serta bebas tanpa kehilangan komitmen kepada kepentingan publik," katanya.
Kesan serupa disampaikan praktisi radio senior asal Bandung, R. Erwien Permadhie Wiradipoetra. Ia mengenal Mas Tomo ketika almarhum menjabat Ketua Umum HPPI dan dirinya memimpin organisasi tersebut di Jawa Barat.
Di mata Erwien, Mas Tomo merupakan intelektual dengan pemikiran tajam dan visioner, tetapi tetap tampil sederhana dalam keseharian.
"Saya mengenal Pak Sutomo Parastho ketika beliau menjabat Ketua Umum HPPI dan saya mengetuai Jawa Barat. Pribadinya sangat sederhana, low profile, tetapi pemikirannya sangat visioner dan dihargai. Kesederhanaannya itu sangat berkesan bagi saya," ujar Erwien, Senin (14/9/2026).
Erwien juga mengenang kegelisahan Mas Tomo pada akhir era 1990-an, ketika dunia penyiaran Indonesia menghadapi perubahan besar. Di tengah dinamika politik dan lahirnya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1997 tentang Penyiaran, Mas Tomo memiliki gagasan agar praktisi radio tidak hanya menjadi penonton dalam perubahan tersebut.
Ia menginginkan insan radio memiliki posisi tawar yang kuat dan diperhitungkan dalam percaturan pers nasional.
Gagasan itulah yang, menurut Erwien, menjadi salah satu warisan penting Mas Tomo. Ia tidak hanya memperjuangkan keberadaan radio sebagai industri, tetapi juga harkat dan posisi para pekerjanya sebagai bagian dari ekosistem pers Indonesia.
Bagi Hazwan, warisan tersebut akan terus relevan bagi generasi media berikutnya.
"Manusia boleh pergi, tetapi gagasan, keteladanan, dan pengabdian yang baik akan selalu menemukan jalan untuk tetap hidup. Semoga jejak pengabdian yang telah beliau tinggalkan terus menjadi inspirasi bagi generasi media berikutnya," katanya.
Mas Tomo telah berpulang. Namun, gagasannya tentang radio, kebebasan media, tanggung jawab pers, dan demokrasi masih menjadi bagian dari perjalanan panjang penyiaran Indonesia. (GPWK)



Komentar