top of page

KPID Jabar Dorong Radio Jadi Rujukan Saat Bencana

  • Gambar penulis: Admin02
    Admin02
  • 4 Agu
  • 2 menit membaca

Pangandaran (PRSSNI Jabar) – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat mendorong radio tetap menjadi rujukan utama masyarakat dalam memperoleh informasi saat terjadi bencana. Selain cepat dan mudah diakses, radio dinilai memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi penyelamatan yang akurat sekaligus menangkal hoaks yang kerap beredar di media sosial ketika situasi darurat.


Hal itu disampaikan Komisioner Bidang Pengawasan Isi Siaran KPID Jawa Barat, Jalu Priambodo, saat menjadi narasumber dalam Talkshow PATALI bertema "Siaran Pelestarian Lingkungan Hidup dan Mitigasi Bencana" yang digelar di salah satu radio anggota PRSSNI di Kabupaten Pangandaran, Selasa (4/8).


Kegiatan tersebut juga menghadirkan Anggota Komisi I DPRD Provinsi Jawa Barat, Didi Sukardi, serta Koordinator Bidang Pengawasan Isi Siaran KPID Jabar, Dr. Dede Kania.


Dalam kesempatan itu, Jalu mengapresiasi konsistensi radio lokal di Pangandaran yang tetap menjalankan fungsi pelayanan informasi kepada masyarakat, termasuk ketika wilayah tersebut pernah dilanda tsunami.


Menurutnya, pengalaman radio lokal membuktikan bahwa siaran radio mampu menjadi media yang efektif dalam menyampaikan informasi keselamatan kepada masyarakat.


"RJM menceritakan bagaimana peran mereka saat tsunami Pangandaran. Mereka tetap bersiaran memberikan informasi yang akurat dan cepat. Dengan informasi itu, sebetulnya banyak nyawa yang bisa diselamatkan karena memuat arahan lokasi pengungsian yang aman," ujar Jalu.


Ia mengatakan, di tengah kondisi darurat, masyarakat membutuhkan informasi yang cepat, jelas, dan dapat dipercaya. Dalam situasi seperti itu, radio memiliki keunggulan karena tetap dapat diakses ketika jaringan komunikasi lain mengalami gangguan. Kehadiran radio juga dinilai mampu mengurangi penyebaran informasi yang belum tentu benar atau menyesatkan.


Selain berperan saat bencana terjadi, KPID Jabar juga mendorong lembaga penyiaran untuk memperkuat edukasi mitigasi bencana dan pelestarian lingkungan secara berkelanjutan. Menurut Jalu, penyiaran tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat agar lebih siap menghadapi potensi bencana.


Ia mencontohkan berbagai nilai kearifan lokal di Jawa Barat, seperti budaya kabuyutan, pamali, dan larangan adat, dapat dikemas menjadi materi siaran yang mudah dipahami masyarakat. Pendekatan tersebut dinilai sejalan dengan tradisi Smong di Aceh yang diwariskan secara turun-temurun sebagai bentuk edukasi menghadapi tsunami.


"Edukasi sebelum bencana dan pelestarian alam agar terhindar dari bencana itu sangat penting. Kami berharap masyarakat menjadikan radio sebagai rujukan utama informasi di masa-masa genting agar terhindar dari disinformasi atau hoaks," pungkasnya.


Melalui penguatan fungsi edukasi dan penyebaran informasi yang akurat, KPID Jabar berharap radio tetap menjadi media yang dekat dengan masyarakat sekaligus berperan penting dalam membangun budaya sadar bencana di Jawa Barat. (BSP)

Komentar


© 2025 by PRSSNI Daerah Jawa Barat
prssnijabar@gmail.com |  Tel: 022-2038362

bottom of page