KIM Pinter Digital Diperkuat, Warga Desa Dibekali Tangkal Hoaks Hingga Kejahatan Siber


Tasikmalaya (PRSSNIJabar) - Derasnya arus informasi di media sosial membuat masyarakat tidak cukup hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga harus cakap memilah informasi dan mengenali berbagai ancaman di ruang digital.
Kondisi tersebut mendorong Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Barat memperkuat peran Komunitas Informasi Masyarakat Peduli Informasi dan Literasi Digital (KIM Pinter Digital) di tingkat desa.
Penguatan tersebut dilakukan melalui Bimbingan Teknis Literasi Digital yang digelar di Aula Kantor Desa Rajapolah, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (11/8). Kegiatan ini merupakan bagian dari program Digitalisasi Babarengan Ngawangun Jabar Istimewa.
Ketua Fraksi Golkar DPRD Provinsi Jawa Barat Drs. H. Yod Mintaraga, MPA, dalam keynote speech-nya mengatakan kemampuan memilah dan memverifikasi informasi menjadi hal mendasar yang harus dimiliki masyarakat di tengah masifnya penyebaran informasi melalui platform digital.
Menurutnya, masyarakat perlu memastikan kebenaran dan manfaat sebuah informasi sebelum ikut menyebarkannya.
"Pertama, harus dipilah-pilah, disaring. Lalu harus dicek kebenarannya. Kalau itu sudah dilakukan, yakin bahwa ini bermanfaat dan benar, baru disebarluaskan," ujar Yod.
Selain hoaks, Yod turut menyoroti ancaman pinjaman online dan judi online yang semakin mudah menjangkau masyarakat melalui ruang digital.
"Terkait pinjaman online dan judi online, sebetulnya harus ditertibkan secara baik, benar, dan tegas, sehingga tidak menimbulkan masalah hukum di kemudian hari bagi para pelakunya. Sekarang kan rakyat banyak yang jadi korban," tegasnya.
Persoalan literasi digital juga tidak terlepas dari perlindungan anak. Komisioner KPID Jabar Dadan Hendaya mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap aktivitas anak di ruang digital, termasuk melalui penerapan Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP Tunas.
Penguatan kapasitas KIM juga diarahkan agar masyarakat desa mampu memanfaatkan media sosial secara produktif. Dalam kegiatan tersebut, Aceng Imam memberikan pembekalan mengenai teknik pengelolaan media sosial agar berbagai potensi desa dapat dikemas lebih menarik, menjangkau masyarakat yang lebih luas, dan memiliki nilai ekonomi.
Ketua Forum Komunikasi KIM Kabupaten Tasikmalaya, Iman Rohiman, mengatakan pengembangan sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam memperkuat keberadaan KIM di desa.
Saat ini, dari 351 desa yang ada di Kabupaten Tasikmalaya, sebanyak 187 KIM telah terbentuk. Keberadaan KIM tersebut didukung berbagai potensi lokal, mulai dari sektor wisata, pertanian hingga kawasan bahari.
"Harapan ke depan untuk KIM Kabupaten sendiri, yang pertama tetap terus mengelola dan melakukan diseminasi untuk pengembangan di desanya masing-masing sesuai potensinya. Kemudian tingkatkan kapasitas sumber daya manusia agar KIM memiliki posisi tawar yang positif, baik di masyarakat maupun pemerintah," ungkap Iman.
Bagi peserta, kegiatan tersebut dinilai memberikan pemahaman praktis dalam menghadapi berbagai informasi yang beredar di media sosial.
Nita Tribani Amesti, peserta asal Ciawi, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru, khususnya mengenai pentingnya bersikap lebih hati-hati ketika menggunakan media sosial dan menerima informasi.
"Sangat memukau sih, soalnya banyak materi yang diserap dan banyak manfaatnya buat lebih berhati-hati dalam bersosial media atau menanggapi informasi," kata Nita.
Ia berharap KIM di tingkat desa semakin aktif dan mampu menjalankan peran sebagai penghubung informasi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
"Semoga KIM semakin aktif, kompak, dan bisa menjadi jembatan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat desa," pungkasnya.
Melalui KIM Pinter Digital, Diskominfo Jabar mendorong masyarakat desa tidak hanya menjadi pengguna teknologi dan penerima informasi. Lebih jauh, warga diharapkan mampu menjadi penyaring sekaligus produsen informasi yang kredibel, sekaligus memanfaatkan ruang digital untuk mengangkat potensi dan menggerakkan perekonomian desa. (AKA)



Komentar