Kemarau Mulai Ancam Pertanian Garut, 90 Hektare Sawah di 11 Kecamatan Terdampak Kekeringan
- Admin02

- 7 Jul
- 2 menit membaca

Garut - Musim kemarau yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir mulai berdampak terhadap sektor pertanian di Kabupaten Garut. Setelah krisis air bersih melanda sejumlah wilayah sejak Mei 2026, kini kekeringan mulai mengancam areal persawahan. Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Garut, sedikitnya 90 hektare lahan sawah di 11 kecamatan mengalami kekeringan dan membutuhkan penanganan secepatnya.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Ardhy Firdian, mengatakan pihaknya telah menggelar rapat koordinasi bersama seluruh camat sebagai langkah mitigasi menghadapi dampak kekeringan. Rapat tersebut membahas pemetaan wilayah terdampak, identifikasi sumber air, serta pengawalan berbagai program penanganan yang tengah dilaksanakan pemerintah.
"Kami melakukan identifikasi terhadap titik-titik lokasi kekeringan, kemudian mengidentifikasi titik ekstraksi sumber air, serta mengawal kegiatan di lapangan, terutama pembangunan irigasi perpompaan dan irigasi perpipaan agar manfaatnya benar-benar dirasakan petani," ujar Ardhy usai rapat koordinasi bersama Bupati Garut dan instansi terkait di Aula Setda Garut, Jalan Pembangunan, Tarogong Kidul, Senin (6/7/2026).
Ardhy menjelaskan, berdasarkan hasil inventarisasi sementara, kondisi kekeringan yang terjadi masih tergolong ringan dan belum menyebabkan tanaman padi menguning maupun mengalami puso. Namun, jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut berpotensi semakin parah hingga menyebabkan gagal panen.
Menurutnya, sekitar 90 hektare sawah yang mengalami kekeringan ringan tersebar di 11 kecamatan. Meski luasannya masih relatif kecil dibandingkan total areal persawahan di Kabupaten Garut, kondisi tersebut tetap menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
"Berbagai langkah penyelamatan tanaman terus dilakukan agar lahan terdampak tidak berkembang menjadi puso atau gagal panen. Salah satunya melalui optimalisasi program irigasi perpompaan, irigasi perpipaan, serta pemanfaatan sumber-sumber air yang masih tersedia," katanya.
Terkait dampaknya terhadap ketahanan pangan, Ardhy menilai kondisi tersebut belum memberikan pengaruh signifikan terhadap produksi padi di Kabupaten Garut. Meski demikian, pihaknya tetap mewaspadai potensi kemarau berkepanjangan yang dapat mengganggu hasil panen pada musim tanam berikutnya.
"Saat ini kami memprioritaskan penanganan pada komoditas padi sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan nasional. Namun tentu saja, selain padi, tanaman pangan lainnya juga berpotensi terdampak apabila musim kemarau berlangsung lebih lama," pungkasnya. (SLT)



Komentar