KAI dan INKA Resmi Gabung Strategi, Targetkan Kereta Buatan Indonesia Penuhi Kebutuhan 2040
- Admin02

- 21 Jul
- 3 menit membaca

Jakarta (PRSSNIJabar) - PT Kereta Api Indonesia dan PT Industri Kereta Api resmi memulai babak baru kerja sama. Keduanya menggelar _Kick-Off Integrasi KAI dan INKA_ di Ballroom Jakarta Railway Center, Jakarta, Selasa (21/7). Hadir jajaran Danantara Asset Management, direksi KAI dan INKA, tim PMO, konsultan, serta pimpinan kedua perusahaan.
Integrasi ini tujuannya sederhana: menyamakan kebutuhan layanan kereta api dengan kemampuan industri manufaktur di dalam negeri. Selama ini operator dan pabrik berjalan sendiri-sendiri. Ke depan, perencanaannya mau dibuat satu jalur.
Senior Vice President Business Performance & Asset Optimization Cluster Logistic Danantara Asset Management Desty Arlaini mengatakan, proses ini harus dimulai dari visi yang sama.
āSeluruh pimpinan perlu memiliki visi yang sama, membangun nilai bersama, dan menempatkan kebutuhan pelanggan sebagai orientasi utama. KAI dan INKA harus menjadi satu tim yang saling menghormati kompetensi masing-masing,ā ujar Desty.
Menurutnya kepemimpinan, kepercayaan, dan budaya kerja jadi fondasi penting. Setiap keputusan yang diambil harus punya nilai tambah untuk penumpang, perusahaan, pemegang saham, dan negara.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyebut integrasi ini jadi langkah besar untuk membangun ekosistem industri kereta api nasional yang lebih kuat.
"Integrasi KAI dan INKA merupakan langkah besar untuk membangun ekosistem industri kereta api nasional yang semakin kuat. Proyeksi kebutuhan sarana perlu diterjemahkan ke dalam perencanaan desain, kapasitas produksi, pengujian, dan penyerahan produk yang lebih selaras," katanya.
Salah satu kebutuhan paling besar ada di KRL. Berdasarkan perhitungan awal KAI, sampai tahun 2040 Indonesia diproyeksikan butuh sekitar 156 rangkaian KRL baru.
"Kebutuhan sekitar 156 rangkaian KRL hingga 2040 memberikan gambaran besarnya peluang pengembangan industri ini. Angka tersebut belum mencakup kebutuhan Kereta Rel Diesel, sarana kereta api jarak jauh, lokomotif, serta sarana untuk layanan barang," ujar Bobby.
Itu baru KRL. Belum lagi kebutuhan kereta diesel, kereta jarak jauh, lokomotif, dan gerbong barang. Artinya ruang tumbuh industri manufaktur nasional sangat besar. Tapi untuk memenuhinya perlu peningkatan kapasitas produksi bertahap, penguatan teknologi, kepastian kualitas, dan sinkronisasi antara kebutuhan operator dengan kemampuan produsen.
Bobby mencontohkan negara-negara dengan industri kereta api maju juga menerapkan model yang sama. Operator dan pabriknya terhubung erat. Hasilnya, proyeksi kebutuhan, pengembangan teknologi, standardisasi, dan kapasitas produksi bisa jalan beriringan dalam jangka panjang.
āKAI sangat mendukung integrasi ini karena dampaknya berkaitan langsung dengan layanan masa depan. Semakin kuat industri manufaktur nasional, semakin besar kemampuan kita menyediakan sarana yang aman, andal, nyaman, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,ā ujarnya.
Ia menambahkan, manufaktur akan jadi bagian penting dalam pengembangan bisnis KAI ke depan. Dengan jumlah pelanggan KAI Group yang terus naik, kesiapan sarana harus ikut. Pada Semester I 2026, pelanggan KAI Group tercatat 258,99 juta orang, naik 7,55 persen dibanding periode sama tahun lalu.
"Keberhasilan integrasi membutuhkan konsistensi, peningkatan kompetensi, dan penerapan acuan industri terbaik. Kita ingin membangun industri manufaktur kereta api nasional yang mampu mendukung perkembangan layanan dan kemajuan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045," kata Bobby.
Dari sisi produsen, Direktur Utama INKA Bambang Jatmika menyebut kick-off ini sebagai tonggak penting. Rencana integrasi sudah dibahas selama beberapa tahun dan kini mulai masuk tahap eksekusi.
"Integrasi ini menjadi bagian dari cita-cita membangun industri kereta api nasional yang kuat. KAI dan INKA memiliki peran yang saling berkaitan, mulai dari pemetaan kebutuhan sarana hingga produksi yang mendukung pelayanan kepada masyarakat," ujar Bambang.
Dengan koordinasi yang lebih erat, INKA bisa lebih cepat menangkap kebutuhan KAI. Mulai dari proyeksi, perencanaan produksi, jadwal pengujian, proses serah terima, sampai pengembangan teknologi dan peningkatan kualitas produk.
"Sinergi KAI dan INKA diharapkan memperkuat industri manufaktur kereta api nasional serta menghasilkan produk yang aman, andal, nyaman, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat," tutup Bambang. (IGN)



Komentar