top of page

Jasa Pembuatan Abon Daging Kurban di Ciamis Kebanjiran Pesanan Saat Idul Adha 2026

  • Gambar penulis: Admin02
    Admin02
  • 2 Jun
  • 2 menit membaca


Ciamis (PRSSNIJabar) – Momentum Hari Raya Idul Adha 2026 membawa berkah tersendiri bagi pelaku usaha olahan makanan di Kabupaten Ciamis. Salah satunya dirasakan rumah produksi Abon Rajawali di kawasan Rancapetir, Kecamatan Ciamis, yang kebanjiran pesanan jasa pembuatan abon dan dendeng dari daging kurban milik warga.


Sejak hari pertama penyembelihan hewan kurban hingga hari Tasyrik berakhir, rumah produksi tersebut disibukkan dengan antrean pesanan dari masyarakat yang ingin mengolah daging kurban agar lebih tahan lama dan praktis dikonsumsi.


Warga datang membawa daging kurban dalam jumlah beragam, mulai dari dua kilogram hingga puluhan kilogram untuk diolah menjadi abon maupun dendeng.


Tingginya permintaan membuat rumah produksi harus bekerja ekstra selama musim Idul Adha. Salah seorang warga Ciamis, Nurjanah, mengaku sengaja membawa sebagian daging kurbannya untuk dijadikan abon karena dinilai lebih awet dan praktis dikirim kepada anggota keluarga yang tinggal di luar kota.


“Biar awet buat anak saya kan jauh di luar kota, jadi kalau bikin gini kan awet bisa sampai tujuh bulan,” kata Nurjanah kepada reporter Jabar Now.


Sementara itu, pemilik rumah produksi Abon Rajawali, Novi Mustika, mengatakan lonjakan pesanan jasa pengolahan daging kurban menjadi fenomena rutin yang selalu terjadi setiap perayaan Idul Adha.


Menurutnya, masyarakat kini mulai memilih cara penyimpanan daging yang lebih tahan lama dibanding diolah menjadi menu masakan biasa.


“Alhamdulillah, kami memang menerima jasa pembuatan abon dan dendeng khusus selama musim kurban. Itu dimulai dari tanggal 10 Dzulhijjah sampai tanggal 13 atau selama hari Tasyrik,” kata Novi.


Ia menjelaskan, pelanggan dikenakan biaya jasa pengolahan sebesar Rp85 ribu per kilogram. Meski permintaan terus meningkat setiap tahun, Novi mengaku sengaja tidak melakukan promosi secara besar-besaran agar kualitas produksi tetap terjaga.


“Yang datang ke sini saja sudah banyak. Kami takut kalau terlalu diiklankan malah tidak ter-handle. Kami juga harus menjaga kualitas karena ini titipan dari pelanggan,” ungkapnya.

.

Menurut Novi, jumlah daging yang dibawa pelanggan sangat bervariasi. Bahkan, ada pelanggan yang menyerahkan hingga 30 kilogram daging kurban sekaligus untuk diolah.


“Tiap orang tidak sama. Ada yang dua kilogram, lima kilogram, bahkan sampai 30 kilogram satu orang,” ujarnya.


Ia menambahkan, alasan utama masyarakat memilih mengolah daging menjadi abon atau dendeng adalah karena daya simpannya yang jauh lebih lama dibanding olahan biasa seperti gulai, rendang, atau sate.


“Kalau cuma disemur atau direndang kan jangka waktunya pendek. Kalau diabon atau didendeng masa simpannya bisa lebih lama,” katanya.


Dalam sekali produksi, rumah produksinya mampu mengolah hingga satu kuintal daging dengan proses pengerjaan selama dua hari, mulai dari perebusan hingga penggorengan.


“Pembuatannya sekitar dua hari, dari perebusan sampai menggoreng,” pungkas Novi. (AST)

Komentar


© 2025 by PRSSNI Daerah Jawa Barat
prssnijabar@gmail.com |  Tel: 022-2038362

bottom of page