top of page

Jabar Pimpin Adopsi Pembayaran Digital, UMKM Jadi Motor Pertumbuhan

  • Gambar penulis: Admin02
    Admin02
  • 10 Jul
  • 3 menit membaca
Chief Executive Officer AstraPay, Rina Apriana
Chief Executive Officer AstraPay, Rina Apriana

Bandung (PRSSNIJabar) - Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Dengan jumlah sekitar 66 juta unit usaha, sektor ini berkontribusi sekitar 62 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap sekitar 117 juta tenaga kerja atau 97 persen dari total tenaga kerja di Indonesia.


Besarnya kontribusi tersebut membuat transformasi digital menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari. Meski masih menghadapi berbagai tantangan, digitalisasi diyakini mampu meningkatkan daya saing UMKM, mulai dari sistem pembayaran yang lebih praktis hingga akses pembiayaan yang lebih luas.


Chief Executive Officer AstraPay, Rina Apriana, mengatakan Jawa Barat menjadi salah satu daerah yang paling cepat mengadopsi sistem pembayaran digital. Kondisi itu sekaligus menjadikan provinsi tersebut sebagai kontributor terbesar pertumbuhan transaksi AstraPay secara nasional.


"Kami ingin terus berkontribusi terhadap percepatan digitalisasi pembayaran, terutama bagi UMKM agar semakin mudah menjalankan usahanya. Apalagi Jawa Barat memiliki tingkat penggunaan pembayaran digital yang termasuk paling tinggi di Indonesia," kata Rina di Bandung, Jumat (10/7).


Menurutnya, tingginya adopsi pembayaran digital di kalangan pelaku UMKM menjadi salah satu faktor utama yang mendorong dominasi Jawa Barat dalam ekosistem layanan keuangan digital AstraPay.


Rina mengungkapkan, Jawa Barat menyumbang sekitar 15 persen dari total transaksi sekaligus jumlah pelanggan AstraPay di Indonesia.


"Capaian itulah yang menempatkan Jawa Barat sebagai provinsi dengan kontribusi terbesar dibandingkan wilayah lainnya. Ditambah lagi, Jabar memiliki ekosistem UMKM yang sangat kuat sehingga tingkat adopsi digitalisasi pembayarannya menjadi salah satu yang tertinggi di Indonesia," ungkapnya.


Sementara itu, memasuki usia keenam, AstraPay menegaskan fokus perusahaan tidak hanya mengejar pertumbuhan jumlah pengguna, tetapi juga memperkuat digitalisasi transaksi yang mampu mendukung perkembangan UMKM.


Ia mengungkapkan, dari sisi bisnis, AstraPay kini telah memiliki lebih dari 17,5 juta pengguna di seluruh Indonesia. Perusahaan juga telah memfasilitasi lebih dari 300 juta transaksi dengan nilai mencapai lebih dari Rp150 triliun.


AstraPay juga terus memperluas ekosistem pelaku usaha. Saat ini lebih dari 30 ribu merchant UMKM telah bergabung dan ditargetkan meningkat menjadi 50 ribu merchant hingga akhir 2026.


Menurutnya, pembayaran digital memberikan berbagai manfaat bagi pelaku usaha, mulai dari keamanan transaksi, pencatatan keuangan yang lebih rapi hingga membuka peluang memperoleh pembiayaan dari lembaga keuangan.


"Dengan digital payment, transaksi lebih aman, semua tercatat, dan data transaksi itu bisa menjadi dasar bagi UMKM untuk mendapatkan loan atau lending dari lembaga keuangan," tuturnya.


Senada dengan Rina, Komisaris AstraPay, Peter Jacobs mengatakan, bahwa perkembangan sistem pembayaran digital di Indonesia, khususnya melalui QRIS, menjadi salah satu fondasi penting dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi digital.


"Digitalisasi bukan lagi sekadar tren, tetapi sudah menjadi kebutuhan. Pembayaran menjadi lebih mudah, lebih aman, dan lebih tercatat sehingga mampu mempercepat roda perekonomian," kata Peter.


Selain itu Ia juga menilai media memiliki peran strategis dalam meningkatkan literasi keuangan digital masyarakat agar manfaat dan risiko transaksi digital dapat dipahami secara lebih luas.


"Media memiliki peran besar menerjemahkan informasi dari regulator menjadi bahasa yang lebih mudah dipahami masyarakat sehingga literasi keuangan digital semakin meningkat," katanya.


Lebih lanjut, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Naniek Sekarningsih, menuturkan bahwa apa yang dipaparkan Astrapay mengenai digitalisasi keuangan, sejalan dengan perkembangan penggunaan QRIS di Jawa Barat.


Naniek mengatakan hingga Mei 2026 jumlah pengguna QRIS di Jawa Barat telah mencapai sekitar 14,17 juta pengguna atau sekitar 22,49 persen dari total pengguna nasional.


Selain itu, tercatat sekitar 10,45 juta merchant QRIS di Jawa Barat, jumlah terbesar di Indonesia. Mayoritas merchant tersebut berasal dari sektor usaha mikro.


"Digitalisasi UMKM bukan hanya soal pembayaran, tetapi juga membuka peluang meningkatkan produktivitas, efisiensi pencatatan keuangan, akses pembiayaan, hingga perluasan pasar," kata Naniek.


Naniek berharap kolaborasi antara Bank Indonesia, penyelenggara sistem pembayaran, media, dan pelaku UMKM terus diperkuat agar literasi keuangan digital semakin meningkat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi digital nasional.


"Semoga sinergi ini terus memberikan manfaat dalam memperkuat ekosistem pembayaran digital sekaligus mendukung perkembangan UMKM di Indonesia," pungkasnya. (IGN)

Komentar


© 2025 by PRSSNI Daerah Jawa Barat
prssnijabar@gmail.com |  Tel: 022-2038362

bottom of page