top of page

Era Baru Transportasi Bandung Dimulai, BRT Disiapkan Kurangi Kemacetan dan Ubah Wajah Kota

  • Gambar penulis: Admin02
    Admin02
  • 23 Jul
  • 2 menit membaca


Bandung (PRSSNIJabar) - Bandung memasuki babak baru dalam pengembangan transportasi publik. Pembangunan Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya resmi dimulai melalui groundbreaking Indonesia Mass Transit Project (Mastran) di Terminal Leuwipanjang, Rabu (22/7). Proyek ini digadang-gadang menjadi solusi untuk mengurangi kemacetan sekaligus mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum.


Bersamaan dengan dimulainya pembangunan, pemerintah pusat dan pemerintah daerah juga menandatangani kerja sama Public Service Obligation (PSO) sebagai bentuk komitmen menghadirkan layanan transportasi massal dengan tarif yang tetap terjangkau.


Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, kehadiran BRT bukan sekadar menghadirkan moda transportasi baru, tetapi juga menjadi momentum menata kawasan perkotaan agar lebih tertib dan nyaman.


Menurutnya, sepanjang koridor BRT nantinya tidak lagi diperbolehkan adanya parkir di badan jalan maupun pedagang kaki lima. Sebagai gantinya, Pemkot Bandung membuka peluang investasi pembangunan gedung parkir untuk mendukung kelancaran sistem transportasi tersebut.


"Sepanjang jalur BRT tidak boleh ada parkir dan tidak boleh ada PKL. Karena itu kami mengundang investor untuk membangun gedung parkir sebagai bagian dari penataan kawasan," ujar Farhan.


Ia menyebut Kota Bandung telah mendukung program ini sejak tahap perencanaan pada 2024. Sebagai wilayah dengan jumlah pengguna terbesar, Bandung diproyeksikan menjadi penerima manfaat utama dari beroperasinya BRT.


Farhan juga menginginkan tarif BRT tetap ramah di kantong masyarakat. Menurutnya, tarif yang terjangkau akan menjadi kunci agar warga lebih memilih menggunakan transportasi umum dibanding kendaraan pribadi.


"Saya sedang berjuang supaya tarifnya sekitar Rp7.000 sehingga masyarakat semakin tertarik menggunakan transportasi publik," katanya.


Di sisi lain, Farhan memastikan angkutan kota tetap memiliki peran dalam sistem transportasi baru. Angkot akan dialihkan menjadi layanan feeder berbasis kendaraan listrik yang menghubungkan kawasan permukiman dengan halte-halte BRT.


"Angkot lama tidak akan dihilangkan tapi akan jadi layanan feeder yang terhubung dengan koridor utama BRT," ungkapnya.


Sementara itu, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan, kebutuhan transportasi massal di Bandung Raya semakin mendesak karena kawasan ini memiliki mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi yang sangat tinggi. Ketergantungan terhadap kendaraan pribadi selama ini menjadi salah satu penyebab kemacetan yang berdampak pada produktivitas dan kualitas lingkungan.

Karena itu, BRT dirancang sebagai tulang punggung transportasi publik yang terintegrasi dengan kereta api, layanan feeder, dan moda transportasi lainnya.


"BRT akan menjadi tulang punggung layanan transportasi massal yang terintegrasi dengan kereta api, angkutan pengumpan (feeder), dan moda transportasi lainnya sehingga perjalanan masyarakat menjadi lebih mudah dan efisien dari titik keberangkatan hingga tujuan akhir," ujar Dudy.


Senada dengan itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyebut pembangunan BRT menandai dimulainya transformasi transportasi publik di Bandung Raya. Selain mendorong penggunaan kendaraan listrik untuk layanan feeder, ia juga berharap para pengemudi angkot dapat ikut menikmati manfaat perubahan tersebut melalui skema pembiayaan yang memudahkan kepemilikan kendaraan.


"Transportasi modern bukan hanya soal kendaraannya, tetapi juga budaya masyarakat dalam menggunakan transportasi publik serta kualitas layanan kota yang mendukung, mulai dari trotoar, penerangan jalan, hingga keamanan," pungkasnya. (IGN)

Komentar


© 2025 by PRSSNI Daerah Jawa Barat
prssnijabar@gmail.com |  Tel: 022-2038362

bottom of page