top of page

Dua Elang Brontok Hasil Rehabilitasi Dilepasliarkan di TWA Papandayan Garut

  • Gambar penulis: Admin02
    Admin02
  • 28 Jun
  • 3 menit membaca


Garut (PRSSNIJabar) - Setelah menjalani proses rehabilitasi dan dinyatakan mampu bertahan hidup di habitat alaminya, dua ekor elang brontok (Nisaetus cirrhatus) betina bernama Sukma dan Ajeng dilepasliarkan di kawasan hutan konservasi Taman Wisata Alam (TWA) Papandayan, Kabupaten Garut, Sabtu (27/6/2026).


Pelepasliaran kedua elang tersebut merupakan bagian dari kegiatan Sinergi Bersama untuk Alam Lestari dalam rangka menyambut Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, Taman Satwa Cikembulan Garut, dan PT Star Energy Geothermal Darajat sebagai bentuk sinergi dalam upaya pelestarian satwa liar dan ekosistemnya.


Kepala Bidang Teknis BBKSDA Jawa Barat, Andri Hansen Siregar, menjelaskan kedua elang tersebut merupakan hasil evakuasi tim rescue BBKSDA Jawa Barat. Setelah diselamatkan, keduanya dititiprawatkan di Taman Satwa Cikembulan untuk menjalani rehabilitasi hingga dinilai layak kembali ke habitat alaminya.


"Tim rescue mengevakuasi kedua elang ini pada 2021. Setelah menjalani rehabilitasi sejak 2023, kami melakukan serangkaian penilaian kesehatan dan perilaku. Ketika secara medis maupun perilaku dinyatakan mampu bertahan hidup di alam liar, hari ini keduanya kami lepasliarkan," ujar Andri.


Menurut Andri, keberhasilan pelepasliaran tersebut tidak terlepas dari dukungan Taman Satwa Cikembulan sebagai salah satu lembaga konservasi yang memiliki komitmen mengembalikan satwa liar ke habitatnya. Ia menilai tidak semua lembaga konservasi bersedia melepasliarkan kembali satwa yang telah dirawat.


Kerja sama antara BBKSDA Jawa Barat dan Taman Satwa Cikembulan, lanjutnya, telah terjalin cukup lama. Selain pelepasliaran elang, kedua pihak juga pernah bekerja sama dalam pelepasliaran macan tutul yang telah selesai menjalani rehabilitasi.


"Kami mengapresiasi dedikasi Taman Satwa Cikembulan dalam mendukung program pelestarian satwa liar. Tidak semua lembaga konservasi bersedia melepasliarkan kembali satwa yang mereka rawat. Karena itu, kami berharap kolaborasi yang telah terjalin ini dapat terus berlanjut demi mendukung upaya konservasi di masa mendatang," katanya.


Di lokasi yang sama, Manager Taman Satwa Cikembulan, Rudy Arifin, mengatakan proses pelepasliaran telah melalui pembahasan dan koordinasi yang cukup panjang bersama BBKSDA Jawa Barat dan PT Star Energy Geothermal Darajat. Proses tersebut mencakup rehabilitasi, pemeriksaan kesehatan, pengamatan perilaku, hingga evaluasi rekam medis yang melibatkan dokter hewan.


Menurut Rudy, salah satu tahapan penting dalam rehabilitasi adalah melatih kembali insting berburu elang agar siap bertahan hidup saat kembali ke alam liar.


"Kami melatih insting berburu mereka dengan memberikan pakan berupa satwa hidup. Tujuannya agar kemampuan berburu yang dibutuhkan saat kembali ke alam liar tetap terasah," ujarnya.


Rudy menambahkan, kepeduliannya terhadap pelestarian satwa liar tidak lepas dari pendampingan BBKSDA Jawa Barat yang selama ini membimbing Taman Satwa Cikembulan dalam berbagai aspek konservasi.


Saat ini, selain Sukma dan Ajeng yang telah dilepasliarkan, Taman Satwa Cikembulan masih merawat sedikitnya 20 ekor elang dari berbagai jenis. Ia membuka peluang satwa-satwa tersebut untuk mengikuti program pelepasliaran apabila telah memenuhi persyaratan.


"Kami berterima kasih kepada BBKSDA yang selama ini membimbing kami, juga kepada Star Energy yang terus memberikan dukungan terhadap program konservasi. Kegiatan ini terlaksana karena kami memiliki visi yang sama dalam menjaga kelestarian lingkungan," pungkas Rudy.


Sementara itu, SHS Specialist Star Energy Darajat, Muhamad Riyadi, mengatakan dukungan perusahaan terhadap kegiatan pelepasliaran elang didasari kesamaan visi dalam menjaga kelestarian sumber daya alam.


Selain mengembangkan energi panas bumi yang ramah lingkungan, Star Energy juga berkomitmen mendukung berbagai program konservasi sebagai bagian dari tanggung jawab perusahaan terhadap keberlanjutan lingkungan.


"Kami memiliki visi yang sama dalam konservasi sumber daya alam. Ketika bertemu dengan BBKSDA dan Taman Satwa Cikembulan, kami melihat adanya komitmen yang sejalan. Karena itu, kami mendukung penuh kegiatan pelepasliaran ini," tuturnya. (SLT)

Komentar


© 2025 by PRSSNI Daerah Jawa Barat
prssnijabar@gmail.com |  Tel: 022-2038362

bottom of page