top of page

Bio Farma Transfer Teknologi Vaksin ke Ghana, Indonesia Perkuat Ketahanan Kesehatan Afrika Barat

Gambar penulis: Admin02
Admin02
30 Sep
2 menit membaca


Bandung (PRSSNIJabar) - PT Bio Farma terus memperluas peran Indonesia di kancah global. BUMN vaksin asal Bandung ini memperkuat kolaborasi dengan Atlantic Lifesciences (ALS) Ghana untuk membangun kapasitas manufaktur vaksin lokal di Afrika Barat melalui transfer teknologi vaksin tetanus dan difteri (Td).


Kerja sama ini bukan sekadar jual-beli vaksin, melainkan upaya membangun kemandirian produksi di negara berkembang.


“Kemitraan Bio Farma dan Atlantic Lifesciences merupakan bentuk nyata kontribusi Indonesia dalam membangun ketahanan kesehatan global,” ucap Direktur Utama Bio Farma Shadiq Akasya, dikutip dari siaran persnya, Selasa (29/9/2026).


“Melalui transfer teknologi, kami ingin tumbuh bersama mitra dengan membangun kemampuan manufaktur dan sumber daya manusia, sehingga negara mitra semakin memiliki kapasitas untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakatnya,” katanya.


Kolaborasi ini telah melewati rangkaian panjang. Dimulai dari penandatanganan MoU pada Desember 2023, dilanjutkan Master Agreement Transfer Teknologi Vaksin Td pada September 2024, hingga Tech Transfer Agreement dan Sales Agreement pada Agustus 2025.


Dalam skema ini, Bio Farma berperan sebagai mitra teknologi. Bio Farma menyediakan teknologi, bantuan teknis, dan suplai Td Final Bulk Ready to Fill (RTF), sementara ALS mengembangkan kapabilitas lokal untuk proses fill-finish, quality control, pengemasan, registrasi, hingga manufaktur komersial di Ghana.


Saat ini proyek memasuki tahap krusial. Tahapan Process Performance Qualification (PPQ) atau validasi proses dijadwalkan berlangsung Oktober 2026 hingga Januari 2027. Setelah itu akan dilanjutkan proses registrasi dan inspeksi oleh Ghana Food and Drugs Authority (Ghana FDA) pada Januari hingga Mei 2027.


Jika semua validasi, data stabilitas, persetujuan regulator, dan kesiapan pengadaan berjalan lancar, pasokan komersial vaksin Td dari fasilitas lokal di Ghana ditargetkan mulai pada 2027.


Dalam jangka panjang, kolaborasi ini membuka peluang Ghana menjadi hub manufaktur dan pasokan vaksin untuk kawasan Afrika Barat, dengan tetap memperhatikan regulasi di masing-masing negara.


Program ini juga menjadi model bisnis baru Bio Farma berbasis license-out dan technology transfer. Kontribusi Indonesia tidak hanya lewat ekspor produk jadi, tetapi juga transfer pengetahuan, teknologi, dan penguatan SDM industri kesehatan negara mitra.


Kolaborasi ini menjadi contoh konkret South-South Cooperation antara Indonesia dan Ghana di bidang health security, local manufacturing, dan capacity building.


Sebagai bagian dari ekosistem Danantara, Bio Farma menegaskan kolaborasi internasional harus memberi nilai luas, mulai dari peningkatan akses kesehatan hingga penguatan daya saing industri nasional.


“Kami ingin menunjukkan bahwa Indonesia dapat berkontribusi lebih jauh dalam ekosistem kesehatan global. Bukan hanya melalui produk yang kami hasilkan, tetapi juga melalui teknologi, pengetahuan, dan kolaborasi,” tambah Shadiq.


“Sebagai bagian dari ekosistem Danantara, Bio Farma akan terus mendorong kinerja dan ekspansi internasional yang memberikan manfaat bagi kualitas hidup masyarakat, memperkuat daya saing Indonesia, serta menciptakan nilai berkelanjutan,” pungkasnya.


Melalui kemitraan dengan Ghana, Bio Farma ingin memastikan kolaborasi tidak berhenti pada penjualan produk, tetapi membangun kemampuan produksi dan pengetahuan yang bisa terus tumbuh dan memberi manfaat bagi generasi mendatang. (IGN)

Komentar


© 2025 by PRSSNI Daerah Jawa Barat
prssnijabar@gmail.com |  Tel: 022-2038362

bottom of page