top of page

Bandung Perkuat Pengolahan Sampah di Tingkat Wilayah, 220 Titik Disiapkan

  • Gambar penulis: Admin02
    Admin02
  • 22 Jun
  • 2 menit membaca


Bandung (PRSSNIJabar) - Pemerintah Kota Bandung terus mempercepat penerapan sistem pengelolaan sampah berbasis kewilayahan sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap tempat pembuangan akhir (TPA). Salah satu upaya yang kini dilakukan adalah menyiapkan 220 titik pengolahan sampah yang tersebar di berbagai wilayah Kota Bandung.


Program tersebut menjadi bagian dari transformasi tata kelola sampah yang menempatkan proses pengolahan lebih dekat dengan sumber sampah. Dengan pola ini, sampah tidak lagi sepenuhnya dibawa ke TPA, melainkan diolah terlebih dahulu di tingkat wilayah.


Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, penambahan fasilitas pengolahan sampah didukung oleh bantuan mesin dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Mabes TNI Angkatan Darat. Dukungan tersebut dinilai menjadi modal penting untuk mempercepat penguatan sistem pengelolaan sampah di Kota Bandung.


"Pertama, bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat berupa 151 mesin RDF. Kedua, bantuan dari Mabes TNI AD, di mana kami mengusulkan 50 titik pengolahan sampah," kata Farhan di Balai Kota Bandung, Senin (22/6/2026).


Menurut Farhan, tantangan terbesar saat ini bukan pada ketersediaan teknologi pengolahan, melainkan kesiapan lahan di setiap wilayah. Setiap lokasi yang akan dijadikan pusat pengolahan sampah minimal harus memiliki luas sekitar 100 meter persegi.


Ia menjelaskan, berdasarkan pemetaan menggunakan foto udara, Pemkot Bandung telah mengidentifikasi sekitar 220 titik yang berpotensi dijadikan lokasi pengolahan sampah. Namun seluruh lokasi tersebut masih harus melalui proses verifikasi lapangan.


"Berdasarkan foto udara, kami telah menyiapkan sekitar 220 titik. Saat ini sedang dilakukan verifikasi lapangan untuk memastikan aksesnya memadai dan tidak menimbulkan gangguan," katanya.


Verifikasi dilakukan untuk memastikan fasilitas pengolahan sampah dapat beroperasi secara optimal tanpa mengganggu aktivitas masyarakat. Faktor akses kendaraan, kondisi lingkungan, hingga kedekatan dengan fasilitas publik menjadi pertimbangan utama.


Farhan mencontohkan, lahan yang secara ukuran memenuhi syarat belum tentu dapat digunakan apabila berada terlalu dekat dengan sekolah, puskesmas, atau fasilitas pelayanan masyarakat lainnya.


Pemkot Bandung menargetkan sedikitnya 20 titik pengolahan sampah dapat ditetapkan pada akhir Juli 2026. Rinciannya terdiri dari 15 titik yang mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan lima titik bantuan Mabes TNI AD.


"Mudah-mudahan pada akhir Juli nanti sudah bisa ditetapkan minimal 10 persen yang ditargetkan, yakni 15 titik bantuan provinsi dan lima titik bantuan Mabes TNI AD," ungkapnya.


Setiap fasilitas nantinya memiliki kapasitas pengolahan antara lima hingga 10 ton sampah per hari. Jika seluruh target berjalan sesuai rencana, volume sampah Kota Bandung diperkirakan dapat berkurang hingga 125 ton per hari.


"Kapasitas pengolahan di setiap titik berkisar antara lima hingga 10 ton per hari. Dengan demikian target pengurangan sampah mencapai sekitar 125 ton per hari," jelas Farhan.


Melalui penguatan pengolahan sampah berbasis kewilayahan, Pemkot Bandung berharap tercipta sistem pengelolaan yang lebih efektif, berkelanjutan, dan mampu mengurangi beban lingkungan perkotaan dalam jangka panjang. (IGN)

Komentar


© 2025 by PRSSNI Daerah Jawa Barat
prssnijabar@gmail.com |  Tel: 022-2038362

bottom of page