Tiga Bulan Dampingi Korban Longsor Pasirlangu, ITB Fokus Pulihkan Mental Hingga Kesehatan Warga


Kab. Bandung Barat (PRSSNIJabar) - Bencana tanah longsor yang merusak puluhan rumah warga serta mengisolasi permukiman di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada awal 2026, menyisakan trauma mendalam serta dampak sosial-ekonomi bagi masyarakat setempat.
Memasuki fase pemulihan, Institut Teknologi Bandung (ITB) turun tangan melalui tim multidisiplin untuk mendampingi warga terdampak agar dapat bangkit sekaligus membangun ketangguhan menghadapi potensi bencana di masa mendatang.
Selama tiga bulan, mulai Maret hingga Juni 2026, tim ITB menjalankan program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) bertajuk āPulih Bersama, Tangguh Bersamaā. Pendampingan mencakup pemulihan psikososial, layanan kesehatan, edukasi kebencanaan, hingga pemberdayaan generasi muda.
Ketua Program PKM ITB, Prof. Dr. Ilma Nugrahani dari Sekolah Farmasi ITB, mengatakan pemulihan pascabencana tidak cukup hanya berfokus pada pembangunan kembali infrastruktur yang rusak.
Menurutnya, aspek psikologis warga, kesehatan masyarakat, serta pemahaman mengenai mitigasi bencana juga perlu diperkuat agar proses pemulihan berjalan secara menyeluruh.
āKami menerjunkan kolaborasi lintas fakultas bersama mahasiswa, Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Pelayanan Komunitas (DPMK) ITB, jajaran pemerintah kecamatan, tenaga kesehatan, hingga pemuda Karang Taruna untuk memastikan proses pemulihan berjalan secara menyeluruh dan berkelanjutan,ā ucap Prof. Ilma Nugrahani dalam keterangannya, Jumat (11/9/2026).
Rangkaian pendampingan ITB dimulai pada pertengahan Maret 2026, bertepatan dengan bulan suci Ramadan. Prof. Dr. Ilma Nugrahani bersama Dr. David Sahara yang mewakili DPMK ITB serta Prof. Sukrasno dari Sekolah Farmasi ITB bersilaturahmi dan berbuka puasa bersama warga terdampak di Desa Pasirlangu.
Dalam kesempatan tersebut, tim ITB turut menyerahkan berbagai bantuan berupa perlengkapan rumah tangga untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga yang terdampak longsor.
Camat Cisarua, Iwan Mustawan Azis, AP., S.Sos., M.Si., bersama jajaran aparat desa menyambut baik kehadiran civitas akademika ITB. Pertemuan tersebut sekaligus dimanfaatkan untuk mendengarkan langsung kondisi serta aspirasi warga setelah bencana.
Pendampingan kemudian berlanjut ke sektor kesehatan. Pada Juni 2026, ITB bekerja sama dengan Puskesmas Pasirlangu dan Layanan Kesehatan (Yankes) ITB menggelar pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Tim gabungan yang terdiri atas dosen, mahasiswa jenjang S1 hingga S3, apoteker, serta tenaga medis memberikan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis kepada warga.
Selain layanan medis, masyarakat juga mendapatkan edukasi mengenai penggunaan obat secara aman melalui program Dagusibu. Pelayanan tersebut menyasar warga yang berada di lokasi pengungsian maupun permukiman sementara.
Pemulihan tidak hanya dilakukan dengan menangani dampak bencana yang telah terjadi. ITB juga mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memiliki pemahaman mengenai risiko bencana di lingkungan mereka.
Pada Mei 2026, tim dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) serta Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB memberikan edukasi mitigasi kebencanaan kepada siswa SDN Karya Bakti dan MTs Al Amin.
Melalui pendekatan edukatif dan visual yang kreatif, para pelajar dikenalkan dengan potensi risiko lingkungan sekitar serta cara mengambil keputusan dengan cepat ketika menghadapi situasi darurat.
Edukasi tersebut diarahkan untuk menanamkan budaya sadar bencana sejak usia sekolah. Dengan begitu, anak-anak diharapkan tidak hanya mengenali potensi bahaya di lingkungan sekitar, tetapi juga memahami langkah yang perlu dilakukan ketika bencana terjadi.
Pendampingan juga menyasar para pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna Desa Pasirlangu.
Tim ITB memberikan pelatihan keterampilan sekaligus pendampingan psikososial bagi remaja. Program tersebut ditujukan untuk membantu membangun ketahanan mental generasi muda sekaligus mendorong mereka menjadi bagian dari kekuatan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana di kemudian hari.
Rangkaian kegiatan selama tiga bulan itu menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana membutuhkan proses yang tidak singkat dan tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik.
Kolaborasi antara akademisi, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, mahasiswa, pemuda, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun kembali ketangguhan Desa Pasirlangu.
Melalui pendekatan yang menyentuh aspek kesehatan, psikososial, pendidikan, hingga kesiapsiagaan bencana, pendampingan tersebut diharapkan dapat membantu warga bangkit sekaligus lebih siap menghadapi ancaman bencana di masa depan. (GPWK)



Komentar