Dari SMP Swasta Hingga Jadi Laksamana dan Doktor, Asep Iwa Bakar Semangat Siswa SMP Nasional Bandung


Bandung (PRSSNIJabar) - Menjadi lulusan sekolah swasta bukan alasan untuk minder, apalagi merasa memiliki masa depan yang terbatas. Pesan itulah yang dibawa Sekretaris Lembaga Akademi Angkatan Laut (Seklem AAL), Laksamana Pertama (Laksma) TNI Dr. H. Asep Iwa Soemantri, S.E., M.M., M.Tr.Opsla., saat bertemu sekitar 400 siswa dan tenaga pengajar SMP Nasional Bandung, Jumat (11/9/2026).
Di hadapan para pelajar, perwira tinggi TNI Angkatan Laut itu tidak hanya berbicara tentang bela negara. Ia juga membuka sedikit perjalanan hidupnya, dari seorang siswa sekolah swasta hingga kemudian mencapai pangkat Laksamana Pertama, meraih gelar doktor, menjadi dosen, sekaligus dipercaya menduduki jabatan strategis di lingkungan TNI AL.
Kisah tersebut menjadi salah satu bagian yang paling menarik perhatian para siswa di sekolah yang berada di Jalan Sadang Serang No. 17, Kecamatan Coblong, Kota Bandung.
āKita tidak perlu rendah diri atau minder jika bersekolah di swasta. Saya sendiri merupakan lulusan SMP swasta, namun terbukti bisa menjadi Laksamana Pertama, menjadi doktor, dosen, dan perwira tinggi Angkatan Laut,ā kata Asep.
Menurut dia, pencapaian tersebut tidak datang secara instan. Ada proses panjang yang harus dilalui dengan ketekunan, kemauan belajar, serta kemampuan meningkatkan kompetensi diri.
āProses panjang ini hanya bisa dilalui dengan tekun belajar dan meningkatkan kompetensi diri,ā tegasnya.
Pesan itu disampaikan dalam kuliah umum bertajuk āPengembangan Karakter Pendidik dan Peningkatan Kompetensi Siswa Didikā. Kehadiran Asep merupakan bagian dari undangan Kepala SMP Nasional, Hj. Doris Aviani, S.Si., M.Pd., untuk membangkitkan motivasi guru sekaligus para siswa.
Dalam kesempatan tersebut, Asep mengingatkan bahwa tantangan generasi muda saat ini semakin kompleks. Salah satunya adalah penggunaan gawai yang berlebihan serta derasnya arus informasi di media sosial.
Ia meminta para siswa mampu mengendalikan penggunaan telepon seluler agar tidak mengganggu proses belajar. Selain itu, mereka diminta lebih kritis terhadap berbagai informasi yang beredar.
āAnak-anak harus mampu membatasi diri agar tidak lebih dominan memegang HP daripada fokus belajar. Saya juga berpesan agar mereka menjauhi berita hoaks, karena itu adalah bentuk pemecah belah persatuan bangsa yang belum tentu kebenarannya,ā ujarnya.
Asep juga mengajak siswa menanamkan kecintaan terhadap tanah air dan semangat bela negara sejak dini. Menurutnya, para pelajar hari ini merupakan calon pemimpin yang akan meneruskan estafet bangsa di masa depan.
Karena itu, ia mendorong siswa mulai membangun branding diri yang positif dengan menjaga pergaulan dan menjauhi narkoba, judi, pergaulan bebas, serta berbagai barang terlarang.
āKalianlah yang akan menjadi pemimpin bangsa di masa depan. Oleh karena itu, branding diri yang positif harus dibangun sejak dini dengan menjauhi narkoba dan perilaku negatif lainnya,ā katanya.
Bagi siswa yang bercita-cita mengikuti seleksi TNI, Asep memberikan pesan khusus. Ia menyebut prestasi dan kompetensi tambahan dapat menjadi modal penting dalam perjalanan pendidikan maupun karier.
Sertifikat prestasi dari berbagai bidang, seperti Paskibra, pencak silat, hingga kompetensi komputer, menurut dia, dapat menjadi nilai tambah.
āMiliter masa depan bukan lagi mengandalkan kekerasan, melainkan intelektualisme,ā ungkapnya.
Ia juga mendorong siswa menguasai bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Kemampuan tersebut dinilai penting karena tugas TNI AL memiliki cakupan internasional, termasuk melalui program pelayaran Kartika Jala Krida.
āKemampuan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya sangat menentukan karier ke depan,ā imbuhnya.
Namun, di balik kompetensi dan prestasi, Asep mengingatkan ada satu hal yang tidak boleh ditinggalkan: adab.
Ia menekankan pentingnya sifat sidiq, amanah, fathonah, dan istiqomah sebagai bagian dari pembentukan karakter. Sopan santun terhadap orang tua dan guru juga harus menjadi pedoman dalam kehidupan.
āKeras di militer itu artinya disiplin sesuai aturan, bukan kekerasan fisik. Di lembaga kami, pembulian dan kekerasan sangat dilarang. Kita fokus pada pembentukan karakter yang tangguh namun tetap beradab,ā pungkasnya.
Bagi Asep, pendidikan pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang mencapai prestasi, tetapi juga bagaimana ia menggunakan ilmu, menjaga karakter, dan tetap menghormati orang-orang yang telah membimbingnya.
Pesan itu pula yang ia titipkan kepada ratusan siswa SMP Nasional Bandung: berani bermimpi, tekun belajar, bangun kompetensi sejak dini, tetapi jangan pernah meninggalkan adab. (GPWK)



Komentar