OJK Peduli Cetak Duta Literasi Keuangan Dari Cirebon
- Admin02

- 11 Jun
- 2 menit membaca

Cirebon (PRSSNIJabar) - Kota Cirebon menjadi titik awal penguatan gerakan literasi keuangan nasional melalui program Training of Trainer (ToT) Duta Literasi Keuangan yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kegiatan yang berlangsung pada 10–12 Juni 2026 ini melibatkan 25 jurnalis, redaktur, dan reporter dari berbagai media massa di Indonesia sebagai peserta utama.
Melalui program yang merupakan bagian dari OJK Peduli tersebut, para insan media dipersiapkan untuk menjadi agen edukasi keuangan yang mampu menyebarkan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan, investasi yang aman, hingga kewaspadaan terhadap berbagai bentuk kejahatan keuangan digital.
Kepala Grup Komunikasi Publik OJK, Sekar Putih Djarot, mengatakan pemilihan Jawa Barat sebagai lokasi pelaksanaan ToT bukan tanpa alasan. Tingginya jumlah pengaduan masyarakat terkait sektor jasa keuangan menjadi perhatian serius OJK.
Berdasarkan data yang dihimpun OJK hingga awal tahun 2026, terdapat 88.943 laporan pengaduan yang masuk dari Jawa Barat. Angka tersebut menempatkan provinsi ini sebagai wilayah dengan jumlah laporan dugaan penipuan keuangan tertinggi di Indonesia.
“Transaksi keuangan di Jawa Barat mencatat angka yang lebih tinggi dibandingkan daerah lain. Karena itu, literasi keuangan melalui media massa diharapkan mampu mencegah masyarakat menjadi korban penipuan,” kata Sekar saat membuka kegiatan, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, media memiliki posisi strategis dalam menjangkau masyarakat secara luas dan cepat. Karena itu, wartawan tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai edukator yang mampu meningkatkan pemahaman publik mengenai produk dan layanan keuangan yang aman.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan berbagai materi mengenai literasi dan inklusi keuangan, investasi ilegal, pinjaman daring ilegal, kejahatan keuangan digital, hingga teknik penyusunan konten edukasi yang efektif untuk disebarluaskan melalui berbagai platform media.
“Melalui ToT ini, para peserta akan memiliki peran baru sebagai edukator yang bisa langsung mengajar dan memberikan pemahaman kepada masyarakat di berbagai daerah,” tambahnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala OJK Cirebon, Tesar Pratama Gustarsjidi, menilai peningkatan akses masyarakat terhadap layanan keuangan belum sepenuhnya diimbangi dengan pemahaman yang memadai. Kondisi tersebut berpotensi dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Ia mengungkapkan, hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan tahun 2025 menunjukkan masih adanya kesenjangan antara tingkat inklusi dan literasi keuangan masyarakat. Di sisi lain, OJK Cirebon sepanjang tahun 2025 menerima hampir 2.000 pengaduan terkait persoalan jasa keuangan.
“Walaupun akses keuangan masyarakat meningkat, edukasi yang memadai belum menyertainya. Hal ini berbahaya karena masyarakat mudah terjebak oleh oknum tidak bertanggung jawab,” jelas Tesar.
Menurutnya, perkembangan teknologi membuat transaksi keuangan semakin mudah dilakukan hanya melalui telepon genggam. Namun kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru berupa maraknya penipuan digital, investasi ilegal, hingga pinjaman online yang merugikan masyarakat.
Karena itu, OJK berharap para peserta ToT dapat menjadi perpanjangan tangan lembaga dalam menyebarkan edukasi keuangan secara berkelanjutan. Tidak hanya melalui pemberitaan, tetapi juga lewat kegiatan sosialisasi di lingkungan masyarakat.
“Harapannya, peserta ToT dapat meneruskan pengetahuan ini kepada masyarakat, keluarga, dan lingkungan sekitar agar tidak terdampak kejahatan keuangan,” tegasnya.
Melalui OJK Peduli dan program ToT Duta Literasi Keuangan ini, OJK menegaskan komitmennya membangun masyarakat yang semakin cerdas, kritis, dan tangguh dalam menghadapi berbagai risiko di sektor jasa keuangan. Dari Cirebon, gerakan literasi keuangan tersebut diharapkan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat di berbagai daerah Indonesia. (IGN)



Komentar